Memperingati Hari AIDS Sedunia : Semakin Peduli Semakin Terkendali


Email

Oleh : Fadil Abidin

Peringatan Hari AIDS Sedunia berawal dari Pertemuan Puncak Menteri-menteri Kesehatan dari 148 negara yang tergabung dalam WHO untuk Program Pencegahan AIDS pada 1 Desember 1988 di London, Inggris.

Hasil dari pertemuan tersebut adalah Deklarasi London mengenai pencegahan AIDS yang menekankan pada pendidikan, pertukaran, informasi dan kebutuhan untuk melindungi hak asasi manusia. Momentum tersebut merupakan langkah awal dari sebuah upaya dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Hari AIDS Sedunia kemudian diperingati setiap tanggal 1 Desember untuk meningkatkan kesadaran akan pandemi AIDS global akibat penyebaran infeksi virus HIV. Dari tahun 1988 hingga 2004, badan PBB untuk menanggulangi AIDS, UNAIDS menjadi ujung tombak kampanye Hari AIDS Sedunia, memilih tema tahunan dengan konsultasi dengan lembaga-lembaga kesehatan global lainnya. Pada tahun 2005 tanggung jawab ini diambil alih oleh Kampanye AIDS Sedunia, yang kemudian memilih “Stop AIDS: Tepati Janji” sebagai tema utama peringatan-peringatan Hari AIDS Sedunia hingga 2010, dengan sub-tema yang lebih spesifik yang dipilih setiap tahunnya.

Sejak dicanangkan dua dekade lalu, sampai saat ini permasalahan HIV/AIDS belum juga membaik. AIDS memang bukan penyakit ganas seperti flu burung atau flu babi H1N1 yang bisa langsung mematikan korbannya hanya dalam hitungan jam atau hari ketika pertama kali tertular. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh korbannya sampai korban tersebut tak berdaya, yang jika penyakit tersebut tidak ditangani dengan baik oleh semua pihak maka akan menyebabkan malapetaka di mana-mana. Masa inkubasi yang begitu lama menyebabkan penderita tidak merasa sakit dan secara tidak sengaja menularkannya kepada orang lain secara berantai.

Data Penderita AIDS

Sampai sekarang, AIDS masih menempati peringkat keempat penyebab kematian terbesar di dunia, dan menurut WHO (2009) jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 33,4 juta jiwa di seluruh dunia. HIV/AIDS diperkirakan mulai muncul tahun 1930. Namun AIDS baru dikenal resmi tahun 1981 saat penyakit ini telah memakan banyak korban jiwa. Di Indonesia sendiri, kasus HIV/AIDS ditemukan pertama kali tahun 1986 di Bali. Sampai sekarang, menurut data yang tercatat di Dinas Kesehatan RI (sampai Juni 2008) telah terdapat 18.963 kasus HIV/AIDS di 33 propinsi. Ini berarti telah terjadi peningkatan kasus yang sangat cepat mengingat pada tahun 2005 hanya terdapat 6.789 kasus.

Pemuda diharapkan memiliki peran besar dalam membantu penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia. Betapa tidak, penduduk usia muda merupakan yang paling tinggi terinfeksi HIV. Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan, secara kumulatif hingga Juni 2008 terdapat 18.963 kasus HIV/AIDS (6.277 HIV positif dan 12.686 AIDS). Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.

Kota Medan menempati peringkat pertama dari segi jumlah penderita HIV/AIDS dari beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara. Data dari Dinas Kesehatan Sumut, hingga akhir September 2009, di Medan jumlah kumulatif penderita HIV 620 dan AIDS 638 jiwa, Pematang Siantar penderita HIV 10 dan AIDS (48), Tebing Tinggi HIV 5 AIDS 8, Deli Serdang HIV 84 AIDS 86 jiwa, Langkat HIV 1 AIDS 12 jiwa.

Kabupaten Tapanuli Selatan penderita HIV 1 jiwa AIDS 3 jiwa, Labuhan Batu HIV 1 AIDS 7 jiwa, Tobasa HIV 26 AIDS 49 jiwa, Simalungun HIV 58 AIDS 21 jiwa, Sidikalang HIV 2 AIDS 12, Sibolga HIV 2 jiwa untuk AIDS 1 jiwa, Tanjung Balai penderita HIV 1 AIDS 2 jiwa. Selanjutnya Tanah Karo penderita HIV 11 jiwa dan AIDS 38 jiwa, Binjai HIV 6 AIDS 15, Tapanuli Utara HIV 4 AIDS 12, Asahan HIV 4 AIDS 14 jiwa, Tapanuli Tengah penderita HIV dan AIDS 3 orang, Samosir penderita HIV 1 dan AIDS 5. Sergei penderita HIV dan AIDS 5 jiwa, Batu Bara penderita HIV/AIDS 2, Nias penderita HIV dan AIDS 1, Humbahas penderita HIV dan AIDS 1, Kabupaten Padang Sidempuan penderita HIV 1, Pakpak Bharat penderita HIV dan AIDS 1.

Sementara berdasarkan cara penularan, 75 hingga 85 persen HIV/AIDS ditularkan melalui hubungan seks, 5-10 persen melalui homoseksual, 5-10 persen akibat alat suntik yang tercemar terutama pengguna narkoba jarum suntik, dan 3-5 persen tertular lewat transfusi darah. Umumnya penderita merasa sehat dan tidak tahu berisiko terkena HIV/AIDS. Hal itu terjadi karena masa inkubasi AIDS mencapai 5 sampai 10 tahun dan sangat tergantung pada ketahanan tubuh penderita.

Jauhi Penyakitnya Bukan Orangnya

AIDS merupakan penyakit global yang menyumbang angka kematian tinggi terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Mengapa sebagian besar penderita AIDS di Indonesia tidak bertahan lama dan cepat meninggal dunia?

Indonesia bukan negara agama di mana hukum yang ditegakkan adalah hukum nasional dan bukan hukum agama. Meskipun demikian ada norma lain selain norma hukum yang berlaku di negara ini yaitu norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Norma agama mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, norma kesusilaan mengatur tentang perilaku diri sendiri sedangkan norma kesopanan mengatur tentang sikap kita terhadap orang lain. Ketiga norma di atas bisa dikatakan tidak memberi sanksi yang tegas, tetapi hanya berupa sanksi moral. Meskipun demikian norma keagamaan, kesusilaan dan kesopanan mempunyai kekuatan untuk mengontrol dan mengatur kehidupan rakyat Indonesia. Ciri-ciri dari kebudayaan kita adalah religius, komunal dan harmoni. Sifat religius dan harmoni inilah yang menyiratkan makna bahwa pelanggaran terhadap suatu aturan adalah perbuatan dosa dan tercela.

AIDS merupakan penyakit dimana dalam kultur masyarakat kita secara keliru sering diasumsikan sebagai penyakit kotor. Penyakit yang disebabkan karena kerap berganti pasangan dalam berhubungan intim atau free sex. Tindakan seperti ini dipersepsikan sebagai pezina dan ekspresi tidak setia. Selain itu AIDS juga mengandung makna pelanggaran terhadap religiusitas. Padahal siapapun bisa tertular HIV/AIDS secara tidak sengaja dengan berbagai jalan dan cara karena kurang pengetahuannya. Orang yang terkena AIDS (ODA = Orang Dengan HIV/AIDS) akan merasa terancam dan was-was sebab ia merasa akan diasingkan serta dijauhi lingkungannya.

Padahal sikap hidup komunal merupakan sifat bawaan yang diciptakan oleh bawah sadar kolektif masyarakat. ODA akan memilih menahan rasa sakit daripada bercerita kepada sanak keluarga bahkan kepada istri atau suami mereka. Jika sakit sudah tak tertahankan dan sudah parah, ODA akan menyerah. Dan ketika dibawa ke rumah sakit, ODA sudah terinfeksi pada stadium lanjut. Hal ini tentu saja menyulitkan dokter untuk menyembuhkan. Lagipula obat untuk perawatan cukup mahal bagi sebagian pasien.

Selain itu masyarakat sekitar tempat tinggal para penderita juga masih menerapkan sistem diskriminasi dan stigma atau cap negatif terhadap penderita HIV/AIDS. Akibatnya, sulit bagi para penderita dapat menyesuaikan diri dan bertahan secara mental dan psikologis dalam meng hadapi penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan para pengidap virus HIV akan menjadi lebih cepat meninggal dunia setelah lingkungan sekitarnya kurang dapat memberi tempat tersendiri, sebagaimana layaknya para penderita jenis penyakit lain.

Masyarakat kita masih menganggap bahwa penderita AIDS adalah orang yang terkutuk dan menakutkan, sehingga harus dijauhi serta diasingkan dari pergaulan sehari-hari. Sikap masyarakat yang belum dapat menerima kehadiran penderita seperti itulah yang terbukti telah membuat penyakit mereka kian parah hingga kemudian meninggal dunia.

Sekaranglah saat yang tepat untuk kita, orang tua, teman, sahabat, keluarga, masyarakat, dunia usaha dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan agar sama-sama menunjukkan kontribusi dan bertindak secara nyata dalam memberikan dukungan terhadap pengendalian HIV/AIDS sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Selamat Hari Aids Sedunia. Semakin banyak orang yang peduli, penyebarannya semakin terkendali.***

Penulis adalah pemerhati masalah sosial-kemasyarakatan
fadila75@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s