Menyadari Bahaya AIDS


Cetak Email

Oleh : Hendra Darmawan

Dewasa ini, meski setiap tahunnya digelar beragam pertemuan dan konferensi untuk memberantas AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome), namun hingga kini penyakit menular yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang kekebalan tubuh ini masih menjadi momok utama yang mengancam kesehatan manusia.

Menurut laporan PBB, sampai sekarang tercatat lebih dari 25 juta orang meninggal dunia akibat serangan AIDS dan sekitar 33 juta orang masih bertahan hidup didera virus HIV. Sebagian besar mereka berada di kawasan Sahara Selatan Afrika. Sembilan negara selatan Afrika, seperti Bostwana, Lesoto, Malavi, Mozambik, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, Zambia, dan Zimbabwe merupakan negara-negara dengan jumlah pengidap AIDS terbanyak di dunia. Afrika Selatan merupakan negara yang memiliki penderita AIDS terbesar di dunia dibanding dengan total penduduknya, yakni sekitar 5,7 juta orang.

AIDS tidak hanya menyerang kalangan remaja atau dewasa. Bahkan anak-anak pun menjadi korban virus mematikan ini. Sejumlah data menunjukkan, bahwa sekitar separuh dari korban virus HIV di dunia adalah kalangan usia muda antara 15 hingga 24 tahun. Ironisnya, anak-anak pengidap AIDS enggan mengungkapkan penyakit yang dideritanya karena takut dijauhi oleh teman-teman sepermainannya. Oleh karenanya negara-negara di dunia perlu memberikan perhatian yang serius terhadap kalangan muda yang terkena AIDS karena mereka pun berhak untuk hidup. Mereka juga seperti anak-anak seusia mereka yang berhak memiliki cita-cita dan masa depan yang cerah. Mereka bahkan berharap bisa menikah dan punya anak. Tentu saja harapan seperti itu hanya bisa terwujud jika keberadaan mereka turut dipedulikan.

Jumlah penderita AIDS di negara-negara seperti Rusia, Cina, Jerman, dan Inggris juga mengalami peningkatan. Para pejabat lembaga-lembaga kesehatan di AS baru-baru ini juga mengakui bahwa jumlah sebenarnya penderita AIDS di negaranya jauh lebih besar dari angka yang diperkirakan. Kendati banyak upaya serius yang telah dilakukan untuk menyembuhkan dan mencegah penyakit AIDS di tingkat global, namun penyebaran virus HIV merupakan kenyataan pahit yang tak bisa diingkari dan tak bisa disikapi secara datar begitu saja.

Penularan AIDS

Infeksi virus AIDS terutama disebabkan oleh perilaku seksual berganti-ganti pasangan. Oleh karena itu yang paling berisiko untuk tertular AIDS adalah siapa saja yang mempunyai perilaku tersebut. Harus diingat bahwa perilaku seperti ini bukan hanya dimiliki oleh kelompok pekerja seks tetapi juga oleh kelompok lain seperti misalnya remaja, mahasiswa, eksekutif muda dan sebagainya. Jadi yang menjadi masalah di sini bukan pada “kelompok” mana tetapi pada “perilaku” yang berganti-ganti pasangan. Virus HIV biasanya hidup dan berkembang biak pada sel darah putih manusia, yang erat hubungannya dengan sistem daya tahan tubuh manusia karena merupakan sumber antibodi.

Jadi, HIV akan berada pada cairan tubuh yang mengandung sel darah putih, seperti darah, cairan plasenta, cairan sperma, cairan vagina, cairan sumsum tulang, air susu ibu, dan cairan otak. Penularan HIV akan berlangsung pada saat terjadi pencampuran cairan tubuh yang mengandung virus HIV. Pencampuran tersebut bisa terjadi melalui berbagai perilaku. Di antaranya adalah hubungan seks dengan pasangan pengidap HIV, suntikan jarum yang tercemar virus HIV, transfusi darah yang mengandung HIV, dan kelahiran dari ibu yang mengidap HIV. Dari sini jelas bahwa hubungan seks merupakan faktor utama penyebab penyebaran AIDS. Artinya, penyebaran AIDS sangat dipengaruhi oleh gaya hidup suatu masyarakat, seperti pergaulan pria dan wanita yang bebas, kenakalan remaja yang cenderung menggunakan NAPZA, atau perilaku homoseksual.

Sejak masuknya virus dalam tubuh manusia maka virus ini akan menggerogoti sel darah putih (yang berperan dalam sistim kekebalan tubuh) dan setelah 5-10 tahun maka kekebalan tubuh akan hancur dan penderita masuk dalam tahap AIDS dimana terjadi berbagai infeksi seperti misalnya infeksi jamur, virus-virus lain, kanker dan sebagainya. Penderita akan meninggal dalam waktu 1-2 tahun kemudian karena infeksi tersebut. Di negara industri, seorang dewasa yang terinfeksi HIV akan menjadi AIDS dalam kurun waktu 12 tahun, sedangkan di negara berkembang kurun waktunya lebih pendek yaitu 7 tahun. Oleh karenanya, peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember seharusnya dapat dijadikan sebagai perenungan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS yang telah merenggut ratusan ribu nyawa umat manusia di dunia dan melakukan berbagai upaya pencegahan.

Masalah AIDS di Indonesia

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan sebuah pemberitaan yang menyatakan kalau rapor pemerintah Indonesia dalam menanggulangi problem persebaran HIV/AIDS termasuk merah. Berdasarkan laporan Ditjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan Departemen Kesehatan (PP dan PL Depkes), selama sepuluh tahun terakhir, jumlah penderita AIDS terus meningkat. Hingga September 2008, totalnya sudah 14.928 penderita. Ditjen PP dan PL Depkes telah merekam data penderita AIDS di Indonesia sejak 1987. Tapi, jumlahnya naik cukup tajam sejak 1998.

Jika pada 1998 jumlah penderita AIDS yang terdeteksi baru 60 orang, tahun 2000 sudah 255 orang. Peningkatan cukup tajam juga terjadi antara 2003-2004. Jika pada 2003 jumlah penderita AIDS 316 orang, setahun berikutnya menjadi 1.195 orang. Peningkatan cukup tajam juga diperkirakan bakal terjadi antara 2007 – 2008. Pada 2007, jumlah penderita AIDS tercatat 2.974 orang. Tahun 2008 hingga September, jumlahnya sudah meningkat hingga 3.995 orang. Infeksi AIDS terbanyak berdasar peringkat berturut-turut adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua dan Bali.

Secara global, kasus HIV/AIDS sudah menunjukkan tanda-tanda stabil. Namun, di Indonesia, epidemi masih terus berlangsung. Bahkan, dewasa ini kita tercatat sebagai negara dengan laju epidemi tercepat di Asia. Ironisnya, proporsi kumulatif kasus HIV/AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok usia produktif. Antara lain, usia 20-29 tahun (53,46 persen), disusul kelompok umur 30-39 tahun (27,9 persen), dan kelompok umur 40-49 tahun (7,69 persen). Berdasar hasil survei terpadu HIV dan perilaku tahun 2007, prevalensi di kalangan populasi kunci yang berisiko tertular telah mencapai 9,5 persen di kalangan pekerja seks komersial (PSK). Lainnya, 5,2 persen di kalangan homoseksual dan 52,4 persen pada pengguna narkoba suntik. Dengan situasi seperti itu, kasus HIV/AIDS di tanah air akan terus meningkat jumlahnya hingga tahun 2020, dengan rata-rata per tambahan 5 persen penderita baru per tahun.

Pencegahan AIDS

Kendati banyak upaya serius yang telah dilakukan untuk menyembuhkan dan mencegah penyakit AIDS di tingkat global, namun penyebaran mendunia virus HIV merupakan kenyataan pahit yang tak bisa diingkari dan tak bisa disikapi secara datar begitu saja. Karena itu, selain upaya penyembuhan penderit AIDS, upaya pencegahan penyebaran virus HIV merupakan masalah yang lebih urgen. Sosialisasi bahaya AIDS dan cara pencegahahnnya di kalangan masyarakat merupakan ihwal yang perlu terus disuarakan. Tentu saja, masalah AIDS bukan hanya memerlukan sosialisasi dan transparansi di tingkat masyarakat, tapi juga memerlukan strategi pencegahan dan perencanaan makro.

Ketidaktahuan masyarakat, khususnya kalangan generasi muda terhadap cara penyebaran virus HIV merupakan masalah serius yang membuka peluang luas penularan penyakit AIDS. Oleh sebab itu, menjauh dari aksi-aksi berbahaya dan peningkatan taraf pengetahuan masyarakat, merupakan jalan terbaik untuk mengontrol penyebaran AIDS. Sebaliknya, tidak adanya transparansi dalam masalah AIDS justru bisa mendatangkan dampak yang lebih buruk di tengah masyarakat. Adanya dukungan ekonomi, sosial dan psikologis kepada para penderita AIDS merupakan cara efektif yang bisa menyelamatkan elemen masyarakat lainnya dari penularan virus HIV.

Seharusnyalah kita sadar bahwa upaya efektif yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi masalah AIDS adalah melalui pencegahan dan penyadaran. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan menghindari penyebaran virus HIV, dengan cara menjauhi gaya hidup yang menyebabkan penyebaran HIV, masalah ini akan bisa diatasi. pencegahan merupakan hal yang utama. Tentu saja hal ini tidak mudah dilaksanakan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang AIDS/HIV itu sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi bahaya AIDS, bagaimana penularannya, serta bagaimana pencegahannya. Begitu juga kesadaran yang masih kurang. Karena itu, untuk melaksanakan pencegahan ini pun memerlukan kerja sama berbagai pihak, mulai dari tingkat individu sampai pada tingkat pemerintahan.***

Penulis, penyuka seni dan pemerhati masalah sosial politik.
hendra_darmawan1234@yahoo.com

Harian Monalisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s