750 TNI di Perbatasan Kaltim Jadi Guru


Antara

Antara – Jumat, 4 Desember

Medan (ANTARA) – Sebanyak 750 tentara yang bertugas diperbatasan Kalimantan Timur (Kaltim) dengan Malaysia terpaksa diperbantukan menjadi guru karena tidak ada tenaga pengajar di daerah terisolir tersebut.

“Para tentara itu ditugaskan di 15 kecamatan di daerah perbatasan dan disamping menjaga kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) juga mengajar anak-anak karena kebanyakan penduduk di daerah terpencil tersebut pergi bekerja ke Malaysia,” kata ketua Badan Pengelolaan kawasan perbatasan Kaltim, Prof.Dr Adri Paton, MSi kepada ANTARA di Medan, Kamis.

Paton datang ke Medan sebagai narasumber dalam seminar yang diselenggarakan Departemen Komunikasi dan Informatika RI Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan.

Seminar bertajuk, Dengan Mengoptimalkan Peran Strategis Media Diharapkan Akan Terwujud Kehidupan Masyarakat yang Lebih Sejahtera di Wilayah Perbatasan`.

Dalam kesempatan itu dia menjelaskan, kondisi masyarakat di kawasan perbatasan yang terisolir membuat mereka merasa lebih dekat dengan negara tetangga Malaysia dibanding negaranya sendiri.

Cukup dimaklumi karena masyarakat di perbatasan lebih mudah mendapatkan fasilitas dan kebutuhan dari Malaysia, termasuk soal pendidikan. Banyak anak-anak tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama terpaksa belajar ke sekolah Malaysia karena fasilitas pendidikan tidak tersedia di daerahnya.

Bukan cuma itu, di kawasan perbatasan juga masyarakat hanya menikmati informasi dan berita dari media massa di negara tetangga. Jangan heran jika masyarakat perbatasan lebih mengenal negara Malaysia.

“Kondisi seperti ini amat mengkhawatirkan karena bisa menggerus wawasan kebangsaan generasi muda di daerah perbatasan,” katanya.

Dia menjelaskan, di wilayah Kaltim ada 14 kabupaten/ kota yang masuk sebagai kawasan perbatasan.Dari jumlah itu ada tiga kabupaten/kota yang berbatasan langsung dengan Malaysia yaitu Malinau, Nunukan dan Kutai Barat.

“Dari tiga kabupaten itu terdapat 15 kecamatan yang berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia, 12 diantaranya dalam kondisi terisolir dan tertinggal,” katanya.

“Saat ini masyarakat masih merasa bangga mengaku sebagai Bangsa Indonesia, tapi jika kondisi yang ada saat ini dibiarkan terus berlangsung maka akan menimbulkan ancaman terjadinya perpecahan.

Pihaknya sendiri kata Paton, saat ini fokus bagaimana melakukan upaya percepatan pembangunan meliputi infrastruktur, jalan, jembatan pendidikan, kesehatan dan komunikasi.

Namun jika hanya sendirian tanpa komitmen dari pemangku kepentingan lainnya akan sulit untuk memajukan kawasan perbatasan.

“Saya khawatir Badan Pengelola Kawasan Perbatasan tidak akan mampu meraih hasil maksimal tanpa dukungan instansi terkait lain,” katanya.

Harus ada upaya serius lanjutnya, untuk memperbaiki kawasan perbatasan dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten.

“Berapa pun besarnya anggaran untuk membangun kawasan perbatasan, tidak sebanding dengan hilangnya sejengkal kedaulatan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s