Aset PTPN VII Dijaga Ketat


PDF Cetak E-mail
Minggu, 06 Desember 2009 05:00
Seluruh aset PTPN VII Cinta Manis dijaga ketat. Pascaaksi warga Desa Rengas, Kecamatan Payaraman, Ogan Ilir (OI) dua hari lalu, perusahaan memperketat penjagaan. Saat kejadian, hanya 30 anggota Brimob Polda yang berjaga. Kemarin (5/12), jumlahnya mencapai 94 orang. Dibantu 40 personel dari Polres dan Polda Sumsel.

Pantauan koran ini, pengamanan ketat dilakukan petugas Brimob bersenjata lengkap di Rayon 6 untuk mengamankan aset perusahaan. Personel elite kepolisian ini terlihat berjaga di kamp pegawai yang tidak sempat dibakar massa. Begitu juga anggota Satuan Reskrim Polres OI dan Reskrim Polda Sumsel terlihat berjaga di sepanjang jalan yang terdapat bangunan dan aset perusahaaan.
Terdata, alat berat milik perusahaan yang dibakar massa sekitar 18 unit, dua unit mobil, dan 10 rumah atau kamp pegawai. Umumnya alat berat tersebut berupa mesin untuk mengolah tanah dan mesin pengangkut tebu.
Seluruh aset perusahaan yang dibakar apakah itu kendaraan maupun gedung masih mengeluarkan asap. Terlihat police line sudah dipasang.
Bripka Agus Suroto, danton Brimob Polda yang berjaga di Rayon 6, mengatakan, anggota kepolisian yang turun ada 134 orang. Masing-masing, 94 personel Brimob, dan 44 petugas kepolisian dari Polres Ogan Ilir dan Polda Sumsel. “Dalam dua hari terakhir ada penambahan 104 personel di PTPN VII untuk membantu pengamanan aset perusahaan.”
Agus belum bisa memastikan berapa lama dia dan personel Brimob lainnya ditempatkan di PTPN VII. Sebab perintah pimpinan melakukan pengamanan. Sebagai prajurit hanya melaksanakan tugas atasan. “Masalah waktu, atasan yang menentukan,” tukasnya.
Warga Desa Rengas, kemarin tidak lagi melanjutkan aksi massanya dengan melakukan tindakan anarkis. Mereka sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Seperti berkebun dan bertani. Suasana di Desa Rengas terlihat seperti tidak pernah terjadi konflik. Bahkan warga sudah menyaksikan pertandingan sepak bola Bupati Cup yang dilaksanakan di desa tersebut.
Zawawi (53), pegawai kerani gudang PTPN VII Cinta Manis Rayon 6, mengatakan,  saat kejadian aksi massa dirinya berada di rumah. Melihat massa yang datang dalam jumlah besar, dia memilih keluar dan membiarkan rumahnya dibakar. Seluruh isi rumah dinasnya hangus. “Rumah yang kami tempati memang milik perusahaan namun isinya milik pribadi. Kerugian ya, sekitar Rp20 juta,” kata Zawawi yang sudah bekerja di PTPN VII selama 25 tahun.
Dia berharap perusahaan dapat membangunkan kembali rumah dinas pegawai dan mengganti seluruh isi rumah yang dibakar massa. “Karena tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Hanya pakaian yang melekat di badan yang bisa dipakai,” pungkasnya.

Kejar Provokator
Sementara itu, Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel melakukan penyelidikan intensif terhadap kasus perusakan dan pembakaran aset PTPN Cinta Manis tersebut.
Menurut Kapolda Sumsel, Irjen Pol Drs Hasyim Irianto SH melalui Kabid Humas Sumsel Kombes Pol Drs Abdul Gofur MH,  pascakejadian penyidik Polda langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dengan menerjunkan langsung anggota Laboratorium Forensik Cabang Polda Sumsel. Tujuannya, mencari penyebab terjadinya kebakaran terhadap alat berat, truk, kantor dan mess karyawan di TKP Rayon 6, PTPN Cinta Manis. Selain itu, penyidik sudah memintai keterangan kepada para saksi.
“Saksi yang sudah diperiksa di Polres OI sebanyak 11 orang. Enam karyawan PTPN, tiga dari anggota Satuan Brimob yakni, Bripka Waluyo, Briptu Hairul, dan Briptu Mauli, serta dua orang anggota Pospol Payaraman,” ujarnya.
Masih kata Gofur, jika dilihat dari aksi anarkis yang dilakukan warga, diduga ada yang menjadi provokator alias dalang di balik tindakan tersebut. “Nah, ini kita usut dan lakukan penyelidikan karena kuat dugaan ada yang membekingi aksi warga.”
Kata Gofur, penyidik akan memberlakukan pasal berlapis termasuk kepada warga yang melakukan tindakan anarkis. Yakni, Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tentang penghasutan, Pasal 170 Ayat 2 tentang Kekerasan terhadap Orang atau Barang dan Pasal 187 tentang Pembakaran. “Saya mengimbau warga Rengas untuk tidak terprovokasi dengan oknum yang tak bertanggung jawab.”
Diberitakan sebelumnya, sengketa lahan antara warga Desa Rengas, Kecamatan Payaraman, Kabupaten OI dan PTPN VII Cinta Manis, berakhir dengan tindakan anarkis. Betapa tidak, ribuan warga Desa Rengas bentrok dengan sedikitnya 70 orang dari pasukan Brimob Polda Sumsel, dua hari lalu, Jumat (4/12).
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian di Rayon 6 PTPN VII Cinta Manis, Desa Rengas tersebut. Hanya, 12 warga terkena luka tembak senjata anggota Brimob. Masing-masing, Mukhlis bin Suparman (23), Rahmad Setiawan bin Kohiri (20), Wawan Suyandi bin Haren (24), Asep bin Sarnubi (23), dan Sabili bin Amirudi (21). Kemudian, Gunadi bin Ali (38), Suhandi bin Murot (35), Herwani bin Hasan (46), Hasani bin Hasan (42).
Korban lain, Alhujasirin bin Kurni (35), Fauzi (20), dan Bustoni (39). Mereka umumnya luka tembak di dada, tangan, kaki, dan bahu. Seluruh korban sempat dievakuasi ke Puskesmas Payaraman. Hanya, lantaran luka yang diderita cukup serius, ke-12 korban dirujuk ke RSMH Palembang.

Harap tak Ada Konflik
M Nasir, manajer distrik PTPN VII Cinta Manis Rayon 6, mengatakan, bentrok warga dengan petugas PTPN VII yang berujung pada tertembaknya 12 warga Rengas dilatarbelakangi permasalahan sengketa lahan antara warga Desa Rengas dan pihak PTPN VII Cinta Manis. “Kita lakukan pendekatan-pendekatan terhadap warga dan tokoh masyarakat agar peristiwa ini tidak terulang. Tidak ada pihak yang menginginkan konflik ini.”
Dikatakan, tak hanya warga yang terluka. Dari pihak PTPN VII menyatakan ada tiga karyawannya mengalami luka bacok. Yakni, Sijatniarto (48), Firdaus dan Heru Sofyan. “Belum lagi beberapa aset perusahaan yang juga merupakan perusahaan negara rusak akibat amuk masa. Berupa 19 unit traktor, 40 unit rumah, 3 unit gudang pupuk yang dirusak dan dijarah, satu unit mobil truk, satu unit sepeda motor pekerja, satu unit pos satpam, dan satu unit genset.”
Belum lagi adanya kerugian sekitar Rp25 miliar dari gula yang akan dihasilkan dari 800 hektare lahan tebu yang dirusak warga. Apa sumber permasalahan? Kata Nasir,  tak lain dari tuntutan warga Desa Rengas di areal seluas 800 hektare. Saat ini, tanah tersebut telah ditanami tebu. Rencana panen bulan April 2010. Dan, tanah tersebut milik PTPN VII.
Ia menjelaskan tanah yang disengketakan adalah milik Jakfar dan Arpai. Sudah diganti rugi sekitar 40 hektare. Namun ahli waris (Linda) menolak untuk menerima ganti rugi Rp650.000.000 plus uang kepedulian untuk lingkungan.
Linda menolak dan meminta Rp1,9 miliar. “Permasalahan lahan yang diklaim warga ini, telah dimediasi Polda Sumsel dan Polres Ogan Ilir. Ketika itu dilakukan pertemuan dengan warga (ahli waris Jak’far dan Sdr Arpai) serta beberapa tokoh masyarakat. Dalam musyawarah tersebut pihak PTPN VII bersedia memberikan ganti rugi, namun ahli waris menolak. Padahal ganti rugi sebesar Rp650 juta tersebut sudah melebihi ganti rugi dari putusan Mahkamah Agung,” ujar M Nasir
Sonny, direktur PTPN VII Rayon 6 Cinta Manis, menambahkan, sedikit banyak  aksi ini menghambat program revitalisasi pabrik gula. Dimana program tersebut bertujuan untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan produksi gula nasional dengan tujuan swasembada gula nasional.
Nah, PTPN VII meningkatkan kapasitas pabrik gula (revitalisasi) UU Cinta Manis dari 4.800 ton tebu per hari (TTH) menjadi 5.500 ton TTH (2009) dan 5.500 ton TTH menjadi 7.000 TTH pada tahun 2010. “Aneksasi lahan oleh masyarakat dan konflik yang terus terjadi akan berdampak pada terhambatnya program revitalisasi tersebut,” tandasnya.  (33/mg37/mg44)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s