Warga Antusias Dukung Koin Peduli Prita


Minggu, 06 Desember 2009 | 06:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sehari setelah didirikan, posko pusat “Koin Peduli Prita” di Kompleks PWR Nomor 60, Jalan Margasatwa, Jatipadang, Ragunan, Jakarta Selatan, kemarin berhasil mengumpulkan uang koin lebih dari Rp 700 ribu. Selain di Ragunan, sembilan posko serupa didirikan di Jakarta dan di luar kota. Para penyumbang datang dari berbagai tempat. “Sebanyak 23 penyumbang tadi datang. Ada yang nyumbang seribu,” kata Ade Novita, salah satu koordinator posko di Ragunan.

Uang inilah yang rencananya akan diserahkan kepada Prita Mulyasari. Oleh Pengadilan Tinggi Banten, Prita dihukum membayar ganti rugi kepada Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Serpong, sebesar Rp 204 juta.
Putusan perdata ini bermula dari keluhan Prita terhadap pelayanan Rumah Sakit Omni yang ditulisnya melalui situs Facebook. Manajemen Omni menilai keluhan tersebut telah mencemarkan nama baik rumah sakit. Prita telah mengajukan permohonan kasasi atas putusan ini ke Mahkamah Agung pada Jumat lalu.
Saat ditemui Tempo, Ade terlihat dibantu oleh Esti Handayani. Keduanya terlihat sibuk menghitung uang koin dan menumpuknya satu demi satu. Setelah terhitung Rp 100 ribu, kumpulan koin kemudian dimasukkan dalam sebuah plastik. Keduanya hanya mengenal Prita dari media massa. Tak ada target berapa banyak uang yang harus terkumpul.
“Gerakan ini bukan uang tujuan utamanya, fokusnya lebih pada dukungan moral kepada Prita,” ujar Esti, koordinator untuk kawasan Bintaro. Di poskonya, Esti mengaku baru menghimpun sekitar seratus ribuan rupiah. “Itu dari teman-teman anggota milis,” ujarnya.
Posko dibuka setiap hari pada pukul 08.00-17.00 WIB. Posko hanya menerima bantuan uang tunai, terutama dalam bentuk koin. Pilihan ini, kata Ade, dimaksudkan agar semua lapisan masyarakat, dari kelas bawah sampai atas, bisa ikut berpartisipasi. Sampai saat ini posko belum bisa menerima sumbangan melalui transfer.
Ada 10 posko serupa yang tersebar di beberapa daerah. Samsul Nur Abidin sengaja menjadikan rumahnya di Puri Anggrek Mas Blok D-2 Nomor 4, Pancoranmas, Depok, sebagai posko. Begitu juga dengan Heni Nuraina di Medang Lestari D-III B 103, Tangerang. Hal itu mereka lakukan agar masyarakat di sekitar Depok atau Tangerang yang ingin berpartisipasi tak perlu ke Jakarta. “Hari ini sih belum ada yang masuk. Tapi kami akan buka hingga sepekan ke depan,” ujar Heni.
Sementara itu, kuasa hukum Prita, Slamet Yuwono, mengaku telah menerima informasi tentang rencana Departemen Kesehatan membentuk tim untuk mendamaikan kliennya dengan manajemen Omni. Jalan damai, kata dia, harus ditempuh dengan duduk bersama dan saling melupakan, dan tidak ada lagi gugat-menggugat. Pihaknya akan sangat berkeberatan jika dalam damai itu adalah Prita harus meminta maaf. “Karena Prita tidak bersalah,” ujar Slamet.
Sementara itu, kuasa hukum RS Omni, Risma Situmorang, mengaku belum mendapat informasi soal rencana mediasi tersebut. Ia menyatakan, sejak awal pihak Omni selalu ingin berdamai tanpa harus mengikuti proses pengadilan. “Kami buka waktu 24 jam untuk Prita meminta maaf,” katanya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s