Temukan Pemicu Emosi dalam Diri Anda


Beberapa faktor dapat mempengaruhi tingkat emosi dan kemarahan seseorang.
Senin, 7 Desember 2009, 16:40 WIB
Irina Damayanti, Mutia Nugraheni
Wanita tutup kuping (inmagine.com)

VIVAnews – Emosi yang berlebihan paling sering dialami oleh kaum muda, orang yang kurang pendidikan dan kurang pergaulan. Hal ini merupakan hasil survey yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Toronto.

Survey tersebut dilakukan pada 1.800 warga negara Amerika Serikat yang berusia 18 tahun keatas. Para warga diberi pertanyaan bagaimana dan kapan mengalami rasa emosi. Menurut kepala peneliti dari Universitas Toronto, Scott Schieman survey tersebut dilakukan untuk mengetahui potret sosial kemarahan warga Amerika Serikat.

Ekspresi emosi bisa bermacam-macam. Tapi dalam survey yang dilakukan, emosi dikategorikan sebagai rasa kesal hingga berteriak kencang untuk mengungkapkan kemarahan. Marah merupakan hal wajar dalam emosi manusia dan bisa menjadi tolak ukur tentang hal apa yang bisa ditolerir seseorang dan apa yang tidak.

Hasil survei yang dilakukan tahun 2005, oleh tim peneliti dari Universitas Toronto, menunjukkan orang yang berusia dibawah 30 tahun paling sering merasa emosi. Hal itu karena mendapat banyak tekanan dari tiga hal, yaitu tekanan waktu, ekonomi dan konflik dengan individu lain ditempat kerja.

Tekanan waktu merupakan hal yang paling sering memicu rasa kesal atau marah. Orang yang bekerja di bidang keuangan lebih cepat emosi karena dituntut membuat laporan secara cepat dan dikejar tenggat waktu.

Keadaan ekonomi juga sangat mudah memicu kemarahan seseorang. Mengasuh dan menghadapi sikap anak yang susah diatur, seringkali memicu emosi dan rasa marah terutama pada kaum wanita.

“Menjadi orangtua adalah saat-saat menyenangkan. Namun, aspek lain seperti memberi arahan dan menghadapi sikap anak yang kurang disiplin seringkali memicu rasa marah,” kata Schieman, seperti vivanews kutip dari Live Science.

Seseorang yang kurang berpendidikan juga mudah sekali terpancing emosi saat tidak direspon dengan baik. Menurut Schieman, hal itu karena pendidikan berhubungan dengan kontrol diri dan emosi.

Namun Anda perlu tahu, bahwa mengekspresikan kemarahan adalah hal yang sehat. Tetapi tergantung bagaimana cara kita mengekspresikan dan mengontrol emosi sebaik-baiknya.

Bahkan sebuah penelitian menunjukkan, seseorang yang sering mengekspresikan rasa marahnya, bisa hidup lebih lama dibandingkan dengan seseorang yang jarang memperlihatkan emosinya.

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s