Kota Seribu Misteri


Author : Hasnah Widayani

(VIVAnews/Adrozen Ahmad )

VIVAnews – Bagi penggemar wisata alam atau ekotourisme, sebuah wisata yang berbasis pada keunikan alam dan budaya, maka Takengon adalah salah satu pilihan yang layak dikunjungi.

“Jika ingin melihat kelengangan  dan ritme hidup yang eksotik, datanglah ke Tekengon,” ungkap Yani, seorang pekerja di International Agency yang bertugas di Takengon.” Di sini, Anda  bisa melihat kuda liar di hamparan sawah di tengah kota. Atau menyaksikan kerbau dan anjing tidur di antara bunga-bunga liar warna warni. Suatu ritme kehidupan yang lengang,” tambahnya.

Takongan merupakan ibu kota Kabupatan Aceh Tengah. Berada di ketinggian 2600 meter di atas permukaan laut. Berhawa sejuk, luasnya 4.318.39 meter persegi dengan penduduk sekitar 170.766 jiwa.

Takengon juga sering disebut dengan Tanah Gayo. Tanahnya orang yang menyebut dirinya sebagai orang gayo (bukan Aceh). ” Gayo adalah Aboriginnya Aceh atau indigineous people, ” ujar Zam Zam, seorang warga asli Takengon, sedang menyelesaikan studi imu politiknya di sebuah Universitas di Jakarta. Ia juga aktivis pendukung pemekaran propinsi baru di Aceh. Penggunaan Konsep ”Aborigin Aceh” ini tentu saja masih diperdebatkan. ”Banyak misteri budaya dan sejarah Gayo yang perlu dieksplorasi lebih dalam,” tegas Zam Zam.

Ada berbagai macam suku yang telah lama tinggal di Tanah Gayo, seperti Jawa, Batak, Padang, Aceh pesisir, bahkan Cina. Kaberagaman suku ini membuat Takengon cukup kaya dengan keunikan gaya hidup dan cita rasa. Si Jawa yang petani kopi, si Aceh yang ahli bikin mie, atau si Batak yang pedagang. Sedang warga Gayo asli akan menawarkan kita sajian seni sulam bermotif unik, yang terkenal dengan ”Kerawang Gayo”.

Takengon menghampar di tanah datar yang dikelilingi bukit yang penuh dengan bunga-bunga, ilalang, dan kaktus. Masih sering kita menemui kupu-kupu raksasa yang indah di sini, atau burung unik yang bertengger di pohon-pohon halaman rumah. Di sudut kota, di kaki bukit, terdapat danau yang bernama Danau Lut Tawar. Danau ini memiliki misteri yang belum terjawab. Terdapat habitat ikan unik yang konon katanya hanya bisa hidup di danau Lut Tawar saja. Orang kebanyakan menyebut dengan nama ikan ”Depik”. Ikan ini tidak pernah dibudidaya, tapi selalu hidup dan dipanen setiap waktu.

”Jika tidak dipanen warga atau diambil setiap saat, danau bisa penuh dengan ikan depik,” ungkap Wahyudi, warga asli Takengon, yang juga staff di Badan Reintegrasi Aceh (BRA).

Misteri lainnya adalah kuda. Kuda merupakan binatang yang banyak dipelihara oleh masyarakat Takengon. Kuda – kuda itu dibiarkan lepas di hamparan ilalang atau bekas sawah yang selesai dipanen. Tentu saja warga Takengon tidak gemar makan daging kuda, tapi amat mengggemari kuda. Ada juga perayaan pacuan kuda setiap tahun di bulan Agustus.

Pacuan Kuda merupakan even rakyat, yang benar-benatr menghabiskan pundi-pundi masyarakat Takengon. Bahkan kebanyakan mereka sengaja menabung setahun sebelumnya untuk bisa ikut serta dalam pacuan kuda, entah sebagai peserta, penonton atau ikut taruhan.

Ikon lain dari Takengon adalah Kopi Gayo. Menurut Zulfikar, staff Badan Perencanaan Pembangunan Aceh Tengah, kopi gayo Takengon pernah sangat digemari warga Eropa, bahkan sudah dipatenkan di Belanda menjadi kopi Holland. Sampai saat ini pun, kopi gayo Takengon menjadi pemasok untuk kopi terkenal “Starbuck”.

Nanas juga menjadi makanan khas Takengon. Di daerah Toa yang berbukit, kita bisa menikmati kedai nanas, dan teh hangat. Nanas dikupas dan dipotong kecil, lalu disajikan dengan taburan garam dan sambal kacang yang lezat. Jangan salah duga, Nanas Takengon manisnya luar biasa, dan tidak ada rasa asam.

Banyak keunikan dari Tekengon yang bisa dijual. Namun wisatawan yang datang belum sebanyak yang diharapkan. Bukan saja persoalan minimnya promosi wisata Takengon, namun juga karena program wisata sendiri belum menjadi prioritas pembangunan bagi Pemerintah Daerah Aceh Tengah.

”Takengon belum siap dengan ekoturisme, masalah sampah, akomodasi wisatawan, dan infrastruktur merupakan bagian yang harus dibenahi,” komentar Paul, expatriat yang bekerja di Takengon. Bahkan ketika wisatawan datang ke Pantan Terong, sebuah puncak bukit yang didesain pemerintah setempat untuk bisa menikmati Takengon dari atas, ternyata tidak dilengkapai sarana yang memadai sebagai sebuah lokasi wisata.

Di Pantan Terong kita bisa menikmati cakrawala lepas, memandang bukit dan danau Lut Tawar dan kota Takengon dari atas. Namun sayangnya tidak ada rumah makan, warung atau kios, tidak ada penginapan dan tidak ada sarana bermain anak. Jadi Pengunjung Pantan Terong harus menyiapkan bekal sebelum menuju Pantan Terong, termasuk makanan dan mainan anak-anak, agar mereka tidak bosan hanya melihat pemandangan.

Butuh waktu untuk membuat Takengon menjadi primadona ekotourisme. Namun, bagi yang menggemari keaslian, datanglah ke Takengon. Anda dapat mencapai Takengon dengan jalan darat dari Medan selama 9 jam, atau Anda bisa menggunakan pesawat SMAC dari bandara Polonia Medan ke bandara Bener Meriah, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 30 menit .

Welcome to the mysterious city!

Logo Media Bersama

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s