Kurikulum Prita


CALAK EDU
Senin, 14 Desember 2009 00:01 WIB

<!–YAHOO! BUZZ–>

Siapakah Prita Mulyasari? Dia adalah suara azan dari setiap surau dan masjid di seluruh penjuru Tanah Air yang menggema lima kali sehari. Dia adalah lonceng gereja pengingat suara hati jemaat. Prita juga perlambang langgam dan tembang para pedanda serta gumaman syahdu para biksu yang senantiasa membuka relung hati rakyat kecil yang berusaha mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Suara-suara tersebut merupakan representasi dari hati rakyat kecil yang tak pernah tertulis dalam lembar kurikulum dan lesson plan dan dipelajari para siswa di sekolah.
Goenawan Mohamad (GM) menulis kesan soal Prita dalam status Facebook-nya: “Prita adalah pengalaman Indonesia: ada peradilan yang absurd, ada ketakadilan yang tanpa malu, tapi ada perlawanan bersama yang bersahaja.” Dalam skema lesson plan yang paling sederhana, peradilan yang absurd adalah masalah yang harus dipecahkan, ketakadilan tanpa malu adalah akibat kognitif yang belum bisa diurai dalam skema pembelajaran masyarakat, dan perlawanan bersama adalah kehendak (will) untuk tersebut.

Edu sedang membayangkan, dengan begitu banyaknya masyarakat yang melakukan perlawanan terhadap kasus Prita, termasuk di antaranya adalah para guru dan siswa yang datang berbondong-bondong untuk mengumpulkan koin, sebuah kesadaran baru untuk melakukan integrasi kesadaran moral terhadap ketidakadilan ke dalam aktivitas keseharian siswa di sekolah merupakan sebuah inisiatif yang harus dicoba para guru.
Karena ada jutaan Prita dan Minah yang merana tak berdaya ketika berhadapan dengan kekuasaan, sejajar dengan begitu banyaknya siswa kita yang tidak berdaya ketika dipaksa untuk terus mengikuti alur kurikulum tertulis yang tanpa dievaluasi dan dikritik secara baik oleh pengelola pendidikan kita.
Berkaca pada Prita dan Mbah Minah, sesungguhnya sedang terjadi kritik luar biasa terhadap polarisasi kebijakan pendidikan kita yang kurang mengakomodasi persoalan penanaman karakter siswa. Oleh karena itu, ada baiknya sesekali Kementerian Pendidikan kita mengaudit kurikulum yang selama ini diajarkan para guru kepada para siswa.
Sebagai sebuah model yang diperkenalkan pertama kali oleh Dr Leon Lessingger (Every Kid a Winner: 1970), audit kurikulum akan sangat bermanfaat dalam melihat keterkaitan apa yang diajarkan secara fungsional, operasional, dan program yang didesain seorang guru. Secara fungsional apakah kurikulum kita kaya dengan inovasi guru yang terlihat dari instructional design yang dibuatnya, sedangkan secara audit operational untuk melihat seberapa tajam seorang guru mengimplementasikan desain tersebut ke dalam relung pikir dan hati para siswa. Oleh karena itu, model kurikulum bergaya kasus Prita perlu juga diaplikasikan secara komprehensif dalam proses belajar-mengajar.
Karena itu jika guru mampu membuat program-program tambahan, baik program pendukung maupun inti dari apa yang akan diajarkan, kasus Prita mungkin bisa membawa para guru untuk melakukan praktik kunjungan sekolah (school-visit) yang berguna untuk mempertajam aspek psikomotorik dan kognitif siswa sekaligus. Salah satu target kunjungan sekolah bisa jadi kantor pengadilan, kantor kejaksaan, hingga lembaga pemasyarakatan. Pastilah siswa akan banyak sekali memperoleh pengetahuan tentang lembaga-lembaga yang mengatur persoalan hukum di negeri ini. Menarik untuk membayangkan, apa yang akan terjadi, misalnya, ketika anak-anak kita berdialog dengan para narapidana di LP, para hakim di pengadilan serta para jaksa.
Hasil dari wawancara para siswa bisa dijadikan portofolio para guru untuk terus mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan bakat dan minat siswa, dalam rangka melahirkan anak-anak yang pandai menghitung risiko perilaku menyimpang seperti yang saat ini dipertontonkan dengan jelas oleh media masa. Dengan demikian, prinsip ketertautan (alignment) dalam kurikulum benar-benar dalam diuji sekaligus diaudit, baik oleh para pengawas, pejabat diknas, hingga orang tua siswa.
Sebagai salah satu bentuk dari educational performance audit (EPA), kunjungan sekolah model ini juga diharapkan dapat membuka mata hati para siswa dan guru untuk terus melalukan inisiatif dan inovasi pembelajaran berbasis pelayanan publik sehingga target pembelajaran yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat dicapai sekaligus dalam sebuah lesson design yang cerdas dan bertanggung jawab.

Ahmad Baedowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s