Wawancara Khusus : Istri Antasari


Ida Laksmiwati, Istri Antasari (1)
Tiap Hari, Anak Saya ke Sel
Dwifantya Aquina
Ida Laksmiwati
(inilah.com /Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – Tak terlihat wajah cemburu pada Ida Laksmiwati. Perempuan yang hampir 30 tahun mendampingi Antasari Azhar ini berusaha tegar.

Hari-harinya, kini dilalui sendiri. Sang suami, menjadi terdakwa kasus pembunuhan Nazaruddin Zulkarnaen. Bagaimana perasaan dan hari-harinya. Inilah curhat Ida kepada INILAH.COM.

Kini, Anda melalui hari-hari sendiria. Gimana perasaannya?

Ya, kalo aktivitas seperti biasa. Masih seperti waktu ada bapak dulu. Saya juga ada kegiatan soal, ngurus rumah, bolak-balik ke anak saya.

Ada yang berubah?

Yang berubah, biasanya saya sharing sama bapak, sekarang harus ambil keputusan sendiri.

Sharing soal apa?

Anak-anak. Atau mungkin ada yang perlu diperbaiki, bapak kan nggak sempet. Atau, bapak mau bikin baju tapi nggak sempet ngambil, atau…

Putranya berapa?

Dua.

Yang pertama?

Di klinik, dia dokter.

Namanya?

Andita. Perempuan dua-duanya. Yang kecil Ajeng. Dia di Australia.

Bagaimana Ibu menghadapi semuanya sendirian?

Sudah biasa. Dulu sering berpindah-pindah dengan bapak. Anak-anak kadang-kadang nggak ikut. Biasanya dititipin kakek-neneknya. Jadi sudah biasa.

Bagaimana dengan masalah yang menimpa Pak Antasari, apakah keluarga terganggu?

Enggak. Alhamdulillah. Lingkungan teman-teman dia mendukung. Banyak yang tidak percaya. Jadi mereka yang memberikan dukungan kepada anak saya.

Di lingkungan rumah saya, yang biasanya arisan, semua hampir 99% mendukung saya. Jadi itulah kekuatan saya.

Apa anak-anak sering berkunjung ke Pak Antasari?

Ke tahanan?

Iya.

Anak yang pertama atau yang kedua?

Dua-duanya. Yang kecil kagi libur panjang, jadi setiap hari mengunjungi bapaknya.

Apa yang dibahas?

Kalau yang bungsu, dia kan kuliah di manajemen hukum. Lagi libur panjang. Jadi dia tanya jawab dengan bapaknya soal hukum. Sekarang anak saya juga banyak memberi masukan, karena bapak lagi bikin buku biografinya yang selama ini tertunda. Sekarang lagi ngerjain itu.[bersambung/ims]

Ida Laksmiwati, Istri Antasari (2)
Rani Itu… Menggoda
Ida Laksmiwati
(inilah.com /Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – Tak terlihat wajah cemburu pada Ida Laksmiwati. Perempuan yang hampir 30 tahun mendampingi Antasari Azhar ini berusaha tegar.

Hari-harinya, kini dilalui sendiri. Sang suami, menjadi terdakwa kasus pembunuhan Nazaruddin Zulkarnaen. Bagaimana perasaan dan hari-harinya. Inilah lanjutan curhat Ida kepada INILAH.COM.

Pak Antasari pernah jadi jadi jaksa. Kemudian jadi Ketua KPK dan populer. Sekarang jadi terdakwa. Menurut Anda sebagai istri, kenapa?

Agak vokal ya. Iya, kevokalannya itulah yang menyebabkan dia jadi seperti ini (tertawa). Iya, itu sebetulnya bukan vokal ya, dia mengkhususkan suara hatinya itu dengan suara masyarakat. Dia rela berkorban dengan suara rakyat.

Saya sampai sekarang ini, begitu bapak masuk tahanan, saya baru tahu bahwa anak asuh bapak itu sekian banyak. Jadi mereka itu biasa dikasih bapa. Selama ini kalau gajian bapak selalu menyisihkan buat mereka.

Tanpa sepengetahuan saya.

Anak asuh itu ada di beberapa tempat. Entah di pesantren, entah di yayasan apa. Jadi selama bapak nggak ada, ini jadi kesibukan saya. Jadi saya bukan ngurus anak dua lagi, anak banyak.

Ada juga ibu-ibu tua penjaga golf di Padang. Dia nggak punya rumah, jadi harus ngontrak lagi. Sekarang harus memperpanjang kontrak. Mungkin itu dulu nggak mau melibatkan saya, dia pikir sudah dapat ditangani sendiri, menyewakan kontrakan untuk ibu pembersih lapangan golf. Sekarang saya yang urusi.

Sejak kapan Pak Antasari suka golf?

Sejak perutnya gendut waktu di Padang. Eh, di Riau. Pekanbaru. Dia tuh over (weight), terus akhirnya kolesterolnya naik. Dia terus olahraga tenis, udah nggak kuat lari kencang

untuk mengejar bola. Terus treadmill, males. Jadi satu-satunya yang jalan ya golf. Dia diajak temen sesama jaksa main golf.

Waktu di KPK juga suka golf?

Iya, waktu banyak sekali tersita. Waktu untuk saya juga, untuk anak-anak juga. Dia pekerja keras.

Bagaimana perasaan Anda bu setelah mendengar rekaman Pak Antasari dan Rani?

Setelah mendengar, maksudnya gimana? Ya nggak gimana-gimana. Karena kan saya pikir dia menarik klien untuk kembali lagi supaya jadi member lagi di Modern golf. Karena waktu itu, bapak bilang ke saya mau bertemu dengan Rani di Hotel Mahakam untuk ngurus membe. Saya bilang kenapa kok ga jadi member dari dulu? Karena jauh kan dari BSD ke sana. Jadi makanya main di BSD aja.

Jadi, sebelum bertemu Rani, Pak Antasari minta izin?

Oh iya. Saya tahu bapak datang kesana.

Jadi, rekaman percakapan itu biasa aja…

Ya, sama seperti saya ngadepin bapak kalau lagi nganter ke mall. Kan ada orang yang jual parfum. Itu kan gayanya juga sama. Saya pikir wajar sih seperti itu.

Anda pernah bertemu dengan Rani?

Engga pernah. Karena dia kan disembunyikan terus oleh polisi.

Ada perasaan dendam dengan Rani?

Dendam enggak. Dia kan nggak menyakiti saya. Saya gak ada kontak langsung dengan dia. Jadi nggak ada yang perlu saya dendamkan dengan dia. Dia kan berurusan dengan bapak sebagai klien. Karena mau dijadikan member. Kalau dengan saya, enggak ada.

Rani menurut Anda, seperti apa?

Ya, seperti caddy-caddy lain lah yang saya lihat. Saya juga pernah ikut bapak golf. Ya seperti itu, bayangan saya cuma seperti itu aja.

Maksudnya, menggoda?

Iya begitu, dimana-mana caddy kan begitu.

Memang, selama Pak Antasari main golf, caddy-nya selalu Rani?

Enggak. Bapak pasti rame-rame, saya tahu itu. Jadi, si Rani ini dimanfaatkan oleh polisi bahwa dia harus membuat suatu skenario bahwa dia tuh begini begini. Lha, buktinya saja sampai sekarang di nggak dilepaskan oleh polisi? Nah itu, kasian juga sebenarnya, itu beban bagi dia sendiri.[bersambung/ims]

Ida Laksmiwati, Istri Antasari (3)
Pak SBY di Bawah Bapak Saya
Dwifantya Aquina
(inilah.com /Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – Tak terlihat wajah cemburu pada Ida Laksmiwati. Perempuan yang hampir 27 tahun mendampingi Antasari Azhar ini berusaha tegar.

Hari-harinya, kini dilalui sendiri. Sang suami, menjadi terdakwa kasus pembunuhan Nazaruddin Zulkarnaen. Bagaimana perasaan dan hari-harinya. Inilah lanjutan curhat Ida kepada INILAH.COM.

Pernah kah Anda ragu dengan kesetiaan Pak Antasari?

Oh, tidak. Seribu. Seribu persen saya tidak meragukan dia (ketawa).

Ngomong-ngomong, bagaimana sih Anda ketemu Pak Antasari dulu?

Ketemu bapak akhirnya bisa lanjut itu, awalnya saya tantang dia:”Kamu berani gak minta saya langsung sama bapak saya?” Tapi mintanya, waktu itu bapak saya ngetes dia dengan dipanggil ke kantornya. Bukan ngelamar di rumah.

Bapak saya kantornya di SUA Angkatan Darat. Itu lho SUA, Staf Angkatan Darat yang di deket Merdeka itu, yang kantor Kasad. Itu di situ bapak saya berkantor dulu.

O, bapak Anda Angkatan Darat?

Iya, dulu sama-sama dengan Pak SBY. Pak SBY malah di bawah ayah saya waktu di Palembang. Ayah saya itu ada di beberapa tingkat sebelum Pak SBY di Kodam Sriwijaya.

Lalu?

Terus, ya sudah, saya pikir dia tidak berani. Eh, ternyata berani. Karena saya udah janji kalau berani saya mau, eh ternyata berani. Ya sudah, jadi. Prosesnya singkat.

Pakai pacaran nggak?

Ya, beberapa bulan setelah itu saya kuliah di Airlangga, Surabaya. Jaraknya kan jauh. Habis itu saya lulus duluan. Saya tunggu bapak lulus, baru kemudian menikah.

Karena, perjanjiannya harus selesai sekolah dulu. Orangtua saya bilang, harus selesai dulu baru menikah. Nanti, 1 Januari 2010, usia pernikahan saya sama bapak sudah 27 tahun lho.

Apa rencana di ulang tahun pernikahan nanti?

(Ketawa) Merayakan gimana? Bapak di dalam (tahanan). Ya paling berdoa bersama. Hampir 30 tahun, sudah makan asam garam(ketawa).

Apa harapan Anda terhadap kasus Pak Antasari?

Mudah-mudahan pengadilan dan para hakim menjatuhkan vonisnya memang berdasarkan atas keadilan yang seadil-adilnya dan sesuai hati nurani. Dan untuk ke depannya, bapak mau saya suruh jadi dosen saja. Dia dari dulu bercita-cita jadi dosen. Dia kepengen kalau pensiun mau jadi guru atau dosen. Nah sekarang, banyak yang nawarin kalau dia mau jadi dosen.

Memangnya, kalau jadi dosen bisa tenang?

Iya, lebih tenang. Jadi dia nggak ngurusin mmmm… apa itu namanya? Bukan negara ya… Tapi dia mau mengabdi kepada masyarakat dan tidak harus di dalam pemerintahan kan.

Di segala bidang dia bisa. Dia ingin bercita-cita supaya rakyat ini lebih sejahtera, impian dia itu. Tapi ternyata yang dilakukan dia tidak disukai oleh banyak pihak. Terutama oleh pihak-pihak yang pernah ditangkap oleh bapak.

Jadi ganjalannya di situ. Bahwa, di Indonesia ini belum bisa pemberantasan korupsi secara menyeluruh. Masih banyak orang yang merasa kurang adil kalau koruptor-koruptor ini dimasukin ke dalam tahanan. Belum bisa Indonesia bersih dari korupsi.

Tapi, kalau jadi dosen penghasilannya turun dong?

Begini, kita menyikapi sesuatu itu turun atau tidak, semua bergantung pada kita. Semua rejeki kita nggak tau dari mana datangnya. Saya meyakini itu.

Dulu, bapak mengawali karier dari mana?

Dari pengantar koran. Terus jadi agen, jadi loper. Dari percetakannya di drop ke satu agen dan agen lain. Pakai mobil, lalu didrop sekian… sekian…

Jadi, sudah siap hidup sederhana?

Sudah. Nggak masalah. Malah enak kalau saya bilang saya bisa bebas. Saya tidak perlu dikawal-kawal lagi, kehidupan saya seperti yang kemarin itu, tidak rutin dengan peraturan yang ketat. Saya lebih bahagia seperti sekarang. Saya bisa ketemu teman tanpa harus jam sekian saya ditulis keluar, jam sekian kembali. Itu yang membuat saya agak rikuh.[habis/ims]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s