GUSDUR dalam Catatan Guru Bangsa


30/12/2009 – 23:15

Inilah Perjalanan Hidup Gus Dur (1)
Sakti Budiono

INILAH.COM, Jakarta – Selain pernah menjadi Presiden RI, Ketua Umum PBNU, Gus Dur adalah orang Indonesia pertama yang mendapatkan gelar Doktor Kehormatan terbanyak. Sepanjang hidupnya, Gus Dur mendapatkan 10 gelar Doktor kehormatan. Inilah perjalanan hidup Gus Dur.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Nama lengkapnya Abdurrahman Wahid. Gus Dur lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur.

Kakek Gus Dur adalah KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara, kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan.

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny Hj Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Gus Dur, pernah secara terbuka pernah menyatakan bahwa dia memiliki darah Tionghoa. Gus Dur bilang bahwa dia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.[5] Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.

Pada tahun 1944, Abdurrahman Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia.

Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada akhir perang tahun 1949, Gus Dur pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.

Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Sejak muda, Gus Dur juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya.

Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada bulan April 1953, ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pendidikan Gus Dur berlanjut dan pada tahun 1954. Dia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas.

Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Gus Dur

pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo.

Gus Dur mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada tahun 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara dia melanjutkan pendidikannya sendiri, Gus Dur juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.

Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah sastra, yaitu majalah Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Setelah itu, Gus Dur belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.

Ia pergi ke Mesir pada November 1963. Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu oleh Universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab.

Karena tidak mau menunjukkan kemampuan bahasa Arab, Gus Dur terpaksa mengambil kelas remedial. Gus Dur menikmati hidup di Mesir pada tahun 1964; menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menonton sepak bola.

Gus Dur juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut.

Pada akhir tahun, Gus Dur berhasil lulus kelas remedial Arabnya. Ketika ia memulai belajarnya dalam Islam dan bahasa Arab tahun 1965, Gus Dur kecewa. Dia telah mempelajari banyak materi yang diberikan dan menolak metode belajar yang digunakan Universitas.[bersambung/ims]

Inilah Perjalanan Hidup Gus Dur (2)
Jurnalis Penjual Es Lilin
Alm Abdurrahman Wahid
(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Pulang dari luar negeri tahun 1971, Gus Dur memulai karier sebagai jurnalis. Karena keluarga besar, Gus Dur nyambi dagang kacang dan es lilin.Inilah perjalanan hidup Gus Dur bagian ke-2.

Di Mesir, Gus Dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat ia bekerja, peristiwa Gerakan 30 September terjadi. Mayor Jendral Suharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan Komunis dilakukan.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan pada Gus Dur, yang ditugaskan menulis laporan.

Gus Dur mengalami kegagalan di Mesir. Dia tidak setuju akan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966, ia diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar.

Gus Dur merasa gagal dengan pendidikannya di Mesir. Gus Dur pindah. Dia mendapatkan beasiswa di Universitas Baghdad. Gus Dur pun pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya.

Meskipun Gus Dur lalai pada awalnya, dia dengan cepat belajar. Gus Dur juga meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan juga menulis majalah asosiasi tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Gus Dur pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya.

Gus Dur ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Dari Belanda, Gus Dur pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.

Tiba di Indonesia, Gus Dur memulai kariernya justru sebagai jurnalis. Karier tersebut dimulai setelah bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) tahun 1971.

Organisasi ini lantas mendirikan majalah yang kemudian menjadi terkenal. Yaitu Prisma. Saat itu, Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut.

Gus Dur melesat dengan kariernya sebagai jurnalis. Dia juga sering menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan dia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas itu, Gus Dur mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar. Bisa ditebak, dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempatnya tinggal bersama keluarga.

Meskipun karirnya terbilang sukses saat itu, Gus Dur bukan orang yang kaya. Dia masih merasa kondisi ekonomi keluarganya kurang kalau hanya dari satu sumber pencaharian.

Akhirnya, Gus Dur bekerja mencari tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk dipakai sebagai bahan utama bisnis es lilin yang dikelola istrinya, Ny Sinta Nuriyah Wahid.

Pada tahun 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan sebagai guru di Pesantren Tambakberas, Jombang. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi guru kitab Al Hikam.[bersambung/ims

Inilah Perjalanan Hidup Gus Dur (3)
Nikah Diwakili Kakek
Alm Abdurrahman Wahid
(inilah.com /Agus Priatna)

INILAH.COM, Jakarta – Gus Dur memulai kehidupan rumah tangganya dengan pernikahan jarak jauh. Sebagai wakil pengantin pria, Gus Dur meminta kakeknya mewakili. Inilah perjalanan hidup Gus Dur bagian ke-3.

Gus Dur menjalani urusan asmara pada masa muda, dengan cara yang berbeda dari remaja pada umumnya. Gus Dur menikah karena tidak mau dilangkahi adiknya yang segera akan melangsungkan pernikahan.

Gus Dur meminta tolong kakeknya, KH Bisri Syansuri, untuk melamar gadis pujaannya yang tak lain adalah bekas muridnya di Pesantren Tambakberas.

Tidak hanya itu, Gus Dur juga meminta tolong kepada kakeknya, untuk mewakili dirinya dalam. Gadis itu adalah Sinta Nuriyah, putri H Abdulah Syukur, pedagang daging terkenal.

Pada tanggal 11 Juli 1968, Gus Dur melangsungkan pernikahan jarak jauh. Inilah kejadian heboh pertama dari Gus Dur buat keluarga istrinya. Sebagaimana permintaan dia, wakil pengantin laki-laki adalah Kiai Bisri Syansuri.

Pernikahan ini sempat geger tamu undangan.Bagaimana tidak, pengantin laki-laki sudah tua. Namun kesalahpahaman itu hilang setelah pada 11 September 1971, pasangan Gus Dur-Nuriyah melangsungkan pesta pernikahan.

Pernikahan Gus Dur-Ny Sinta dianugerahi empat putri. Mereka adalah Alissa Munawwarah, Arifah, Chyatunnufus, dan Inayah. Keluarga Gus Dur tak jauh berbeda dari model keluarga lain. Konsepnya tentang suami-istri, misalnya, pernah diungkapkannya.

“Istri itu yang terbaik kalau nggak ikut campur urusan suami. Dan suami yang baik adalah nggak mau tahu urusan istri. Yang penting menghormati hak masing-masing. Saya nggak pernah cerita-cerita.”

Gus Dur punya kisah betapa susahnya menjalani hidup saat itu. “Pulang dari Mesir, saya mengajar di pondok pesantren. Untuk tambah-tambah penghasilan, istri saya tiap malam menggoreng kacang dan bikin es lilin. Kadang-kadang sampai pukul 02.00 pagi. Esok harinya dijual di warung-warung. Dia tidak guncang. Sampai hari ini, saya selalu ingat saat menderita dulu itu.”

Sebagai seorang ayah, Gus Dur sangat mencintai anak-anaknya, kendati dia memberikan kebebasan penuh kepada mereka untuk memilih cita-cita dan jenjang pendidikan yang harus dilalui.

Lisa, putri sulungnya, kini menyelesaikan pendidikan di Fakultas Psikologi UGM. Putri keduanya, Yenny, sempat menjadi asisten koresponden Harian The Sydney Morning Herald di Sydney. Putri ketiganya, Nufus, menyelesaikan studi sastra Cina di Universitas Indonesia. Si bungsu, Ina, masih duduk di bangku SMU.

Yang menarik, selain pernikahan, Gus Dur punya kontroversi lain. Gus Dur, nama lengkapnya adalah Abdurrahma Al-Dakhil, ternyata tidak tahu persis tanggal lahirnya.

Gus Dur memang tahu dia dilahirkan pada hari Sabtu di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Tapi, tidak tahu kapan tanggal kelahirannya.

Itu terjadi sewaktu kecil, saat Gus Dur mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah SD di Jakarta. Waktu itu Gus Dur ditanya oleh pihak sekolah,”Namamu siapa Nak?”

“Abdurrahman,” jawab Gus Dur.

“Tempat dan tanggal lahir?”

“Jombang …,” jawab Gus Dur terdiam beberapa saat.

“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjutnya

Gus Dur agak ragu. Rupanya, saat itu Gus Dur sedang menghitung tanggal dan bulan kelahirannya. Gus Dur hanya ingat bulan Komariahnya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia tidak ingat bulan Syamsiahnya atau hitungan berdasarkan perputaran matahari.

Gus Dur waktu itu mengingat bahwa dia lahir bulan Syakban. Itu sama saja dengan bulan kedelapan dalam hitungan Komariah. Tetapi gurunya menganggap itu Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah.

Maka sejak itu, Gus Dur dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Syakban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.[bersambung/ims]

Inilah Perjalanan Hidup Gus Dur (4)
Bubarkan Deppen
Alm Abdurrahman Wahid
(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Gus Dur menjadi Presiden RI keempat dalam suasana republik yang masih penuh ketegangan. Langkah kontroversi banyak dilakukan. Inilah perjalanan hidup Gus Dur bagian ke-3.

Gus Dur akhirnya terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia yang keempat. Gus Dur menggantikan Presiden BJ Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999.

Masa kepresidenan yang dimulai pada 20 Oktober 1999 berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.

Gus Dur menyelenggarakan pemerintahan dengan dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Kabinet ini adalah kabinet koalisi yang meliputi anggota berbagai partai politik: PDI-P, PKB, Golkar, PPP, PAN, dan Partai Keadilan (PK). Non-partisan dan TNI juga ada dalam kabinet tersebut.

Ada dua reformasi penting di pemerintahan Gus Dur. Reformasi pertama adalah membubarkan Departemen Penerangan, senjata utama rezim Soeharto dalam menguasai media. Reformasi kedua adalah membubarkan Departemen Sosial yang korup.

Pada November 1999, Gus Dur mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania.

Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Cina.

Setelah satu bulan berada dalam Kabinet Persatuan Nasional, Menteri Menteri Koordinator Pengentasan Kemiskinan (Menko Taskin) Hamzah Haz mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan November.

Muncul dugaan bahwa pengunduran dirinya diakibatkan karena Gus Dur mencurigai beberapa anggota kabinet melakukan korupsi selama dia masih berada di Amerika Serikat.

Selanjutnya, Gus Dur berencana memberikan Aceh referendum. Namun referendum ini menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti referendum Timor Timur.

Gus Dur juga ingin mengadopsi pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh dengan mengurangi jumlah personel militer di Negeri Serambi Mekkah tersebut. Pada 30 Desember, Gus Dur mengunjungi Jayapura di provinsi Irian Jaya.

Selama kunjungannya, Gus Dur berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua. Ketika Gus Dur berkeliling ke Eropa pada bulan Februari, ia mulai meminta Jendral Wiranto mengundurkan diri dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

Ketika Gus Dur kembali ke Jakarta, Wiranto berbicara dengannya dan berhasil meyakinkan Gus Dur agar tidak menggantikannya.

Pada April 2000, Gus Dur memecat Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla dan Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi. Hal ini memperburuk hubungan Gus Dur dengan Golkar dan PDI-P.

Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai melakukan negosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM hingga awal tahun 2001, saat kedua penandatangan akan melanggar persetujuan.

Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Gus Dur juga berusaha membuka hubungan dengan Israel, yang menyebabkan kemarahan pada kelompok Muslim Indonesia.

Isu ini diangkat dalam pidato Ribbhi Awad, duta besar Palestina untuk Indonesia, kepada parlemen Palestina tahun 2000.

Baik Gus Dur dan menteri luar negerinya Alwi Shihab menentang penggambaran Presiden Indonesia yang tidak tepat, dan Alwi meminta agar Awad, duta besar Palestina untuk Indonesia, diganti.

Dalam usaha mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik, Gus Dur mengangkat Agus Wirahadikusumah (alm), menjadi Panglima Kostrad pada bulan Maret.

Pada Juli 2000, Agus mulai membuka skandal yang melibatkan Dharma Putra, yayasan yang memiliki hubungan dengan Kostrad.[bersambung/ims]

2 thoughts on “GUSDUR dalam Catatan Guru Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s