Rini Berjumpalitan di Lampu Merah


Deden Gunawan – detikNews

Foto: Deden/Detikco

Jakarta – Lampu merah di Jalan Matraman Raya, Jakarta sudah menyala. Rini yang hari ini memakai baju merah bergegas mengayuh becaknya di bawah jembatan layang perempatan Matraman. Meskipun becak sudah dilarang di Ibukota, namun dua polisi yang berjaga sore itu hanya senyum-senyum saja.

Wajar jika polisi diam saja, becak itu bukan becak sungguhan. Yang melintas di depan mereka adalah becak mainan dari kayu yang dinaiki seekor monyet bernama Rini.

Aksi tukang topeng monyet tersebut memang sering kita lihat di perempatan Matraman, Jakarta Timur. Mereka mangkal di sana sejak siang hingga malam hari. Itupun dengan catatan, hari sedang cerah. Jika sedang hujan, para tukang monyet ini berteduh agar monyet mereka tidak kehujanan.

Dari pantauan detikcom, Rabu (20/1/2010) sore itu ada tiga tukang topeng moyet di perempatan Matraman. Mereka duduk berjajar di sepanjang trotoar yang membelah jalan Matraman. Begitu lampu merah menyala, mereka langsung menyuruh monyetnya masing-masing beraksi.

Ada yang bermain sepeda motor, becak, dan kuda-kudaan. Semua mainan itu terbuat dari kayu. Untuk atraksi tersebut beberapa pengendara biasanya ada yang melemparkan uang recehan kepada tukang topeng monyet.

“Lumayan, Mas. Bisa dapat Rp 2 ribu atau Rp 3 ribu setiap lampu merah menyala. Tapi memang kadang-kadang tidak ada yang memberi,” jawab Husen (37) saat ditanya detikcom.

Husen mengaku, dari aksi topeng monyetnya itu, paling tidak setiap hari ia bisa mendapatkan uang Rp 40 ribu-Rp 50 ribu. Dari seluruh penghasilannya itu ia paling hanya membawa pulang Rp 20 ribu atau Rp 30 ribu. Selebihnya habis untuk makan dan bayar sewa monyet.

Pengakuan sama juga dikatan Ucup (18) dan Ujang (23), dua tukang topeng monyet yang juga mangkal di perempatan Matraman. Mereka juga setiap hari hanya bisa membawa pulang Rp 20 ribu. Minimnya uang yang dibawa lantaran harga sewa monyet yang mereka bawa tarifnya Rp 15 ribu per hari. Harga ini lebih tinggi dari tarif sewa monyet Husen dari bosnya yang hanya Rp 10 ribu.

Husen, Ucup, dan Ujang memang mangkal di lokasi yang sama tapi punya bos yang berbeda. Otomatis harga sewa juga tidak sama tergantung pertimbangan bos mereka.

Topeng monyet yang beraksi di sejumlah lampu merah, seperti yang dilakukan Husen, Ucup, dan Ujang memang berbeda dengan dengan topeng monyet yang biasanya beratraksi di perumahan penduduk. Kalau di rumah penduduk, topeng monyet dimainkan oleh satu kelompok yang jumlahnya 3 sampai 4 orang. Masing-masing orang punya tugas masing. Ada yang bertugas memainkan musik, memerintah sang monyet, serta yang bertugas meminta uang kepada masyarakat yang menyaksikan pertunjukan itu.

Sedangkan topeng monyet yang saat ini marak terlihat di setiap perempatan jalan umumnya beraksi seorang diri. Mereka hanya duduk-duduk di trotoar sambil memberi isyarat kepada si monyet untuk menaiki kendaraan mainan yang mereka bawa. Tidak ada yang alat musik yang dimainkan.

Menurut Husen, aksi topeng monyet seorang diri jauh lebih enak dibanding harus melakukan pertunjukan keliling perumahan penduduk. Selain ia bisa mengambil seluruh penghasilan yang didapat, ia juga tidak harus capek-capek keliling kampung mencari warga yang sedang berkumpul.

“Kalau dulu kita harus keliling kampung supaya dapat uang. Sekarang hanya duduk-duduk saja sambil megangin ikatan monyet sudah dapat duit,” jelas pria asal Cirebon yang mengaku sudah menggeluti profesi topeng monyet sejak 10 tahun yang lalu.

Sebelum bersolo karier di atraksi topeng monyet ini, Husen awalnya ikut dalam beberapa rombongan topeng monyet dan 5 tahun terakhir ia ikut rombongan yang dipimpin Yanto. Saat bersama Yanto, Husen mengaku kebagian tugas memainkan alat musik gendang. Sehari-hari ia dan rombongan  berkeliling ke rumah-rumah penduduk di daerah Manggarai serta Jalan Tambak, Jakarta Pusat.

Hasil pentas di kampung-kampung berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu perhari. Uang tersebut kemudian dibagi-bagi sore harinya, saat mereka ingin pulang. Dari hasil yang didapat, Husen dan seorang temannya yang bertugas menyodorkan topi meminta bayaran kepada penonton, kebagian masing-masing Rp 20 ribu- Rp 25 ribu. Selebihnya diambil Yanto. Pendapatan yang lebih besar untuk Yanto lantaran ia sebagai pemilik monyet dan alat-alat.

Setelah 5 tahun ikut rombongan Yanto, awal 2009 Husen mulai berpikir untuk bersolo karir dengan melakukan atraksi topeng monyet di perempatan jalan. Husen melirik perempatan jalan lantaran terinspirasi para pengamen yang sering mangkal di sana. Dalam benaknya, jika pengamen saja bisa menghasilkan uang dengan hanya genjrang-genjreng di samping mobil yang berhenti, mengapa ia tidak bisa melakukan hal itu dengan seekor monyet.

“Apalagi sekarang minta-minta di jalanan kan dilarang. Jadi orang yang biasanya bersedekah ke pengemis bisa memberikan kepada saya,” tuturnya sambil tertawa.

Nah, melihat peluang seperti itu tekad Husen semakin kuat untuk jadi tukang topeng monyet di perempatan jalan. Berbekal monyet yang disewa dari Yanto, ia pun mulai mangkal di sejumlah perempatan jalan antara Matraman hingga Rawamangun.

Entah sampai kapan Husen dan teman se-profesinya akan terus menjadi penghibur trotoar bersama monyet-monyet yang mereka bawa. Tapi yang jelas mereka akan terus mencari nafkah bersama monyet selagi tidak terganggu dengan kehadiran Satpol PP atau derasnya hujan. Bagi mereka, kehadiran Satpol PP dan hujan sama-sama membuat mereka lari tunggang-langgang.
(ddg/fay)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s