Aku Seorang Ayah


Kamis, 28 Januari 2010 | 17:09 WIB

ilustrasi

Cerpen Astarina Ginting

Aku seorang ayah.
Seorang ayah dari 3 orang anak yang dulunya sangat kujagai.
Seorang suami dari seorang isteri yang dulunya sangat kucintai.
Seorang ayah yang hanya mempunyai sebuah cita-cita yang sederhana ; membahagiakan keluargaku!

Selama hidupku, aku belum pernah menikmati madu hidup.
Rasa sakit dan kerikil hidup selalu menyelimuti semenjak lahirku.
Dan aku tidak ingin anak-anakku merasakan hal yang sama.
Aku ingin mereka bahagia dan aku ingin membahagiakan mereka…selalu
.
***
Seekor lipan berwarna coklat kehitaman jatuh dari tandan buah sawit yang baru saja kuderes . Secepat detik, dia menyengat pundakku. Perih. Aku mengaiskannya. Seketika terasa panas. Aku langsung membasahi jari telunjukku dengan air kencingku, kemudian mengoleskannya ke bekas sengatan binatang sialan itu.

Aku mengayuh sepeda tuaku. Punggungku mulai terasa sedikit kaku. Tapi tidak apa-apa lah. Di rumah masih ada ramuan anti racun. Ramuan yang kubeli dari Taijo, teman sesama penderes, yang meramunya dengan tangannya sendiri. Aku dengar-dengar, ramuan itu hanya dibuat dengan mencampur aduk beberapa jenis getah dan akar pohon, ditambah dengan air kencing. Ya, air kencing siapa lagi kalau bukan air kencingnya sendiri. Memang dia pernah mengatakan kepadaku dengan dialek Jawa nya yang kental itu “Tubuh kita ini sebenarnya memiliki anti racun yang bisa menangkal racun apapun yang masuk kedalamnya”. Aku sempat percaya juga dengan ucapannya, tapi kemudian aku berpikir, kalau itu benar, kenapa Pak John, asisten kebun yang baru itu, seorang sarjana pertanian yang baru lulus dari universitas di kota, hampir tewas hanya karena disengat seekor lipan dewasa? Apa tubuhnya tidak memiliki anti racun sendiri? Atau jangan-jangan ketika dia hendak mengoleskan air kencing ke bekas sengatan itu, air kencingnya justru tidak mau keluar? Kubayangkan wajah kesakitannya yang saat itu berharap dan menunggu air kencingnya sendiri seperti berharap dan menunggu sebuah keajaiban.
***

Dua pasang sepatu kutemukan di depan pintu rumahku. Salah satunya kukenal sebagai sepatu Irna anak gadisku. Bukankah harusnya dia berada di sekolah saat ini? Apakah dia sakit? Atau dikeluarkan karena belum membayar SPP yang sudah 6 bulan ditunggak?

Aku melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang berbatasan langsung dengan kamar tidurku dan isteriku yang sempit itu. Suara desahan halus menghampiri telingaku. Sraap. Aku merasa aneh sekaligus terkejut. Kutempelkan mataku ke dinding kayu berlubang-lubang itu. Jantungku berhenti berdetak. Darahku membeku. Di atas tempat tidurku yang lusuh itu, Arni sedang bergumul dengan seorang pria yang tidak sempat kulihat wajahnya. Seragam sekolah mereka berserakan di lantai berlubang itu. Binatang! Ingin rasanya aku mengusir mereka berdua seketika. Tapi lamat lamat kudengar, Arni anakku meminta sejumlah uang dari prianya. Aku tertunduk lesu.
Sakit di punggungku tidak terasa sakit lagi. Aku melangkah keluar. Kembali ke duniaku. Ada beban berat yang tiba-tiba menekan pundakku. Menekanku demikian sangat hingga membuatku susah tegak berdiri.
***
Malam-malam selanjutnya bagiku adalah siksaan. Bayangan pergumulan itu tidak pernah bisa menghilang dari pikiranku. Apakah anak gadisku melakukan itu hanya demi uang? Atau hanya sebatas kenakalan dan rasa ingin tahu anak muda? Pantas saja akhir-akhir ini dia tidak pernah lagi meributkan masalah uang kepadaku dan kepada ibunya. Dan HP itu. Iya, HP yang tiba-tiba ditunjukkannya dengan bangganya kepada adik-adiknya. Kenapa selama ini aku tidak pernah berpikir dari mana dia memperolehnya? Apakah itu juga hasil dari “menjual” dirinya? Jual diri? Kata itu menjadi begitu menyeramkan bagiku saat ini. Kata itu terasa sangat dekat dan selalu berputar-putar di sekitar rumah lapuk ini…
***
Suatu sore menjelang malam, ketika aku kembali mengayuh sepeda tuaku pulang. Pikiranku kosong. Tatapanku lurus ke depan, juga kosong. Aku hanya ingin pulang, ingin merebahkan badanku, membuang rasa lelah yang tidak pernah bosan menemaniku. Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depanku. Menghambat perjalananku. Seorang wanita gendut turun dan menghampiriku. Aku mengenalnya sebagai salah satu dari tetanggaku. Setengah berteriak, dia marah dan mencaci maki ku, mencaci maki isteriku. 15 menit kemudian dia meninggalkanku. Aku merasa bahwa sebenarnya dia ingin meludahiku. Tapi untuk apa? Mungkin dia tahu, bahkan jika dia memaksaku sekalipun, aku tidak akan sanggup membayar hutang-hutang isteriku yang telah menumpuk padanya. Aku tertunduk menatap tanah berbatu di bawahku. Kembali mengayuh sepedaku. Aku hanya ingin pulang saat ini. Ingin merebahkan tubuh tua ku yang semakin hari semakin membungkuk. Dipaksa bungkuk oleh beban berat yang semakin menindihku.

Hari masih belum dikatakan malam ketika aku telah berdiri menatap rumah tua ku itu. Aku menjumpai isteriku terlelap tidur. Anakku yang paling bungsu tergeletak begitu saja di depan TV tua yang dibiarkannya menyala, hanya nampak garis putih tebal naik turun di layar hitamnya. Badannya kelihatan kering. Kulitnya sedikit bersisik. Terlalu sering terkena sengatan matahari atau karena kurang gizi, aku tidak tahu. Aku membuka tirai tua berlubang-lubang itu dan menatap isteriku yang masih terlelap nyenyak. Tubuhnya nampak ringkih dalam ketuaannya. Wajahnya sama dengan wajahku, jauh lebih tua dari umur kami masing-masing. Aku mencintainya. Tetap mencintainya. Aku selalu ingin membahagiakannya. Dan aku telah bekerja keras untuk itu. Sekeras upayaku. Sekeras yang aku bisa. Aku melangkah dan berbaring di sampingnya. Aku memejamkan mata pela-pelan. Tidak ingin mengganggunya dalam satu-satunya ketenangannya ; dunia mimpi.

Belum sepenuhnya mataku terpejam, aku mendengar suara ribut dari luar rumah yang semakin mendekat dan semakin mendekat. Gedoran keras yang kurasa akan merobohkan pintu kayu lapuk itu membangunkanku dari setengah tidurku. Pemandangan nanar tersaji di hadapan ku begitu aku membuka pintu. Ramai. Andre anakku dipaksa jongkok oleh dua orang satpam berbadan besar dengan cara diinjak paha dan ditekan pundaknya. Wajahnya berdarah-darah. Lebam kebiruan nampak di pipi dan sudut mata sebelah kirinya. Dia mencoba bicara tapi sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya. Dia meringis. Aku meringis. Ingin melawan mereka, ingin menolong anak lelakiku. Tapi aku langsung terdiam, kaku. Aku mendengar mereka menyebut anakku maling. Anakku berusaha membantah, lagi-lagi sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya. Darah segar kulihat mengalir pelan dari sela bibirnya. Isteriku sudah berdiri di belakangku. Memepet tubuhku, seolah hendak sembunyi. Menangis, terisak pelan.

Aku tidak pernah membayangkan kalau suatu saat aku akan berada dalam posisi seperti ini. Dan saat itu adalah saat ini. Saat dimana aku dipaksa duduk berhadapan dengan oknum berpakaian seragam coklat yang menginterogasi anakku. Tentu saja lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk. Tanpa sungkan, dia menampar keras wajah anakku jika tidak menjawab atau berbelit-belit menjawab pertanyaannya. Lambat laun aku mendengar langsung dari mulut anakku kalau dia sudah sangat sering melakukan pencurian di desa perkebunan ini. Dan ternyata malam ini adalah malam naas baginya karena dia tertangkap basah ketika hendak melakukan pencurian di rumah penjaga masjid kami.

Massa sudah menghakiminya sedemikian rupa. Tapi belum cukup. Oknum-oknum berseragam coklat ini juga ikut menghakiminya. Aku meringis mengingat kembali tulisan besar yang ada di depan kantor ini ketika kami dipaksa masuk tadi “Pelindung dan Pengayom Masyarakat”.

Menjelang subuh, aku diperbolehkan pulang. Anakku Andre akan ditahan di sana dan katanya akan menunggu proses selanjutnya. Ternyata ada pilihan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara “perdamaian”. Tapi aku hanya bisa terkejut untuk selanjutnya terdiam mendengar sejumlah uang yang dibutuhkan untuk itu.
***
Aku mengayuh sepedaku, pelan.
Bayang-bayang kehidupan itu berjejer pelan di hadapanku, berganti-gantian membentuk sebuah film pendek di sepanjang jalan berbatu ini.
Isteriku menangis, tertunduk dengan tubuh tuanya yang terisak-isak.
Anak “gadis” ku Irna bergumul di atas tempat tidur yang biasa kugunakan dengan pria-pria yang akhir-akhir ini kudengar bahkan selalu berganti-ganti.
Anak lelaki ku Andre menangis terisak-isak memegangi bibirnya yang berdarah dan kakinya yang bengkak karena dijepit dengan kursi kayu oleh oknum berseragam coklat.
Si bungsu kurus tergeletak lemah di atas dipan busuk di depan tv yang hanya ada garis-garis putih tebal naik turun di layar hitamnya.
Pemandangan itu bergerak pelan di hadapanku. Berganti-ganti. Mengantarkanku hingga aku kembali berdiri di depan rumah tua itu.
***
Aku memandanginya.
Rumah perkebunan yang disediakan untuk keluarga lapisan pekerja dengan level terendah seperti aku.
Rumah tua dengan kenangan yang semakin menua setiap detiknya.

Aku menarik nafas pelan memasuki rumah itu.
Isteriku terlelap dengan memeluk erat si bungsu. Seolah-olah dia tidak ingin melepaskannya seperti anaknya yang lain. Aku mencium keningnya, kemudian mencium kening si bungsu sepelan mungkin. Aku tidak ingin membangunkan mereka.
Aku melirik pelan ke dalam kamarku. Anak “gadis” ku Irna terlihat tertidur lelap di atas tempat tidur itu. Satu-satunya tempat tidur yang ada di rumah ini. Aku menyadari bahwa kegadisannya memang sedang ranum. Aku ingin mencium keningnya juga, tapi ada sesuatu yang menahan ku.

Aku melangkah menyeret kakiku sepelan mungkin ke belakang rumah. Di sana seperti biasa, gelap.
Aku mencari sebuah arit yang selalu kupergunakan setiap harinya. Arit yang kupastikan selalu tajam setajam-tajamnya. Dan aku menemukannya di antara tumpukan karung plastik berrumput-rumput. Aku kembali melangkah masuk. Kembali menatap wajah isteri dan anakku. Aku tidak kuat. Aku tidak akan pernah kuat melakukannya.

Tubuhku bergetar. Aku kembali melangkah ke dapur yang gelap itu.
Tekadku sudah bulat kini. Aku mengarahkan arit itu ke leher ku. Aku menutup mataku. Aku takut. Aku ragu. Aku tidak sekuat yang kubayangkan. Aku takut. Tubuhku bergetar. Tak kusadari, gigiku gemeretak pelan. Aku jatuh. Terduduk. Aku menangis. Menangis tanpa suara. Aku lelah. Lelah dan muak menghadapi semuanya.

Aku menyayangi mereka.
Aku mencintai mereka.
Dan aku sudah berbuat segalanya untuk mereka.
Tapi kenapa takdir sepertinya tidak pernah dan tidak akan pernah berubah?
Kenapa nasib tidak pernah berpihak padaku barang 1 detik saja?

Aku menangis…

Tak sengaja, tanganku menyentuh sebuah wadah plastik yang segera berguling di sampingku.
Sebotol racun hama. Racun yang biasanya kugunakan untuk membunuh hama yang tidak diinginkan di sepetak kecil tanah perkebunan di belakang rumah yang kugunakan sebagai tempat menanam beberapa jenis tanaman.

Aku menatap botol itu.
Meraihnya. Dingin. Setengah berisi, setengah kosong.
Aku menggenggamnya. Berpikir. Ini kah cara yang ditunjukkan takdir bagi ku?

Kembali aku menutup mataku.
Membuka tutup botol itu. Secepat mungkin menempelkan lehernya ke bibirku. Meminumnya.
Pahit sepahitnya!
Aku ingin muntah.
Tapi tanganku tidak ingin melepaskan botol itu.
Tanganku mendorong keras botol itu hingga melukai gusiku.
Sampai kosong dan terjatuh dengan sendirinya.

Mulutku terasa nyeri.
Bibirku seketika kering.
Terbakar.
Perutku panas. Mual.
Ada sesuatu yang terbakar di dalam sana.
Hati kah? Jantung kah?

Air mataku keluar dengan sendirinya.
Air liurku juga demikian.
Aku terjatuh, terguling.
Gelap. Pekat. Panas. Sakit.
Jariku mencakar-cakar tanah.
Aku ingin teriak, tapi yang keluar dari mulutku hanya busa berbuih-buih.
Aku ingin menghentikan ini.
Aku menyadari kalau aku takut.
Tapi semua tidak bisa dihentikan lagi.

Aku menangis. Menutup mataku pelan.
Gelap segelap-gelapnya.
***
Aku seorang ayah.
Seorang ayah yang gagal!

3 thoughts on “Aku Seorang Ayah

  1. hmmm panjang juga sob, tapi aku jadi tau ini sepertinya ungkapan isi hati dari seseorang atau seorang ayah yang mneyesal atas tindakan yang pernah dilakukannya ya. Emang penyesalan datang nya belakangan tapi dengan adanya kesalahan dimasa lalu tentu bisa menjadi guru atau pengalaman yang sangat berguna untuk melangkah maju kedepannya. So, jangan menyerah dan tetap semangat karena semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan jika gagal coba lagi ya. Kalo bisa perbaiki masalah dengan menghadapinya dengan cara baik dan persuasif. thank

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s