SBY Memang Bershio Kerbau


03/02/2010 – 11:03
<!– reset –>
Merasa Disindir Seperti Kerbau
Abdullah Mubarok
Presiden SBY
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Mungkin ada alasannya, mengapa para pengunjuk rasa membawa seekor kerbau dalam aksinya. Apa karena SBY bershio kerbau?

Seperti diketahui, Presiden SBY lahir tanggal 9 September 1949. Jika dilihat dari kacamata zodiak Tionghoa atau yang biasa disebut dengan shio ini, setiap individu diasosiasikan dengan satu shio sesuai dengan tanggal kelahirannya.

Dua belas shio digabung dengan lima elemen membentuk periode 60 tahunan. Antara lain: tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi.

Orang shio kerbau lahir di tahun 1937,1949,1961,1973,1985,1997, dan seterusnya. Dalam situs http://www.id.shvoong.com, seseorang yang berzodiak kerbau memiliki karakter tersendiri.

Ia memiliki pembawaan tenang, sabar tetapi sedikit pemalu. Berpikir cermat sebelum mengambil keputusan. Teguh pendirian dan tidak mudah putus asa. Sikap sopan santun,mau introspeksi dan pandai mengatur waktu dan uang.

Selain itu, orang yang bershio kerbau dikatakan sering ketinggalan karena sifatnya yang lambat. Suka menyendiri dan membanggakan diri.

Entah benar atau tidak ramalan ini. Pemilik kerbau yang berdemo pada 100 hari SBY lalu, Yosep Rizal mengatakan, kerbau yang dibawanya berdemo merupakan sebuah simbol.

Siapapun bebas mengartikan bermacam-macam. Jika Presiden SBY merasa tersindir, Yosep mengaku tidak bermaksud demikian.

“Kita tidak pernah bilang kalau kerbau itu seperti SBY, yang gemuk dan lamban. Tapi dia (SBY) sendiri yang mengartikan itu adalah dirinya yang berbadan besar dan malas,” ujar Yosep saat berbincang dengan INILAH.COM, Jakarta, Rabu (3/2). [bar]

SBY Harus Tahan Banting dan Tidak Cengeng

Ikrar Nusabhakti
Selasa, 2 Februari 2010 | 19:48 WIB

RUMGAPRES/ ABROR RIZKI

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta tidak terlalu banyak atau sering berkeluh kesah. Sebagai seorang pemimpin, dia harus mampu menunjukkan dirinya sosok yang tidak saja sekadar pekerja keras, tetapi juga tahan banting dan tidak cengeng.

Pernyataan itu disampaikan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusabhakti, Selasa (2/2/2010), saat dihubungi per telepon di Bandung. Menurutnya, kritik sekeras apa pun dari demonstran atau mahasiswa seharusnya bisa dijadikan cambuk untuk bekerja lebih baik lagi.

Ikrar menanggapi keluh kesah Presiden Yudhoyono di Istana Kepresidenan, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, yang merasa tersinggung dengan ulah para demonstran, yang bahkan dalam aksi mereka membawa sekaligus menyamakan Presiden Yudhoyono seperti seekor kerbau berbadan besar yang bodoh dan malas.

“Lagi pula kan tidak selamanya kerbau identik dengan hal-hal buruk. Seperti di Kyoto, Jepang, ada kuil kerbau karena di sana hewan itu simbol ilmu pengetahuan. Sementara di sini, kerbau adalah hewan bertenaga besar yang sangat berguna untuk membajak sawah walau geraknya memang lamban,” ujar Ikrar.

Ikrar menasihati agar Presiden Yudhoyono cukup menganggap apa yang dilakukan para demonstran dan mahasiswa dalam aksi-aksi unjuk rasa tersebut sekadar guyonan politik dan kritik untuk memicu pemerintah bekerja lebih baik lagi. Tidak perlu ditanggapi secara berlebihan dengan berkeluh kesah seperti yang selama ini kerap dilakukan.

“Jangan sampai masyarakat berpikir, lho kok presidenku cengeng begini dan sering termehek-mehek. Padahal, cuma dikritik oleh mahasiswa. Kesannya jadi seperti hal yang luar biasa sampai-sampai Presiden sendiri langsung mengomentari dan berkeluh kesah begitu,” ujar Ikrar.

04/02/2010 – 07:01
<!– reset –>
Presiden Salah Kaprah Tanggapi Kerbau
Santi Andriani
Ray Rangkuti
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Aksi Pengunjukrasa yang membawa kerbau ditanggapi Presiden SBY yang menyayangkan tak memiliki etika. Ditanggapinya soal sepele tersebut membuat SBY dinilai salah kaprah.

“Seharusnya kekesalan dia soal kerbau kan disampaikan saja di Cikeas, itu wajar. Tapi ini disampaikan di sidang kabinet, seolah-olah ada organisasi kerbau, kerbau sepertinya sekarang dianggap jadi opisisi pemerintah,” tutur Direktur eksekutif LIMA Ray Rangkuti kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (4/2).

Akbar: Soal Kerbau, itu Risiko Presiden
Dwifantya Aquina
Akbar Tandjung
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Presiden SBY merasa dirinya disamakan dengan kerbau pada demo 28 Januari lalu. Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbar Tandjung, itu sudah merupakan risiko seorang Presiden.

“Itu risiko menjadi seorang pemimpin. Saya juga pernah mengalami itu. Anggap saja itu sebuah konsekuensi yang harus dihadapi, jangan sampai hilang keseimbangan,” ujar Akbar usai diskusi di Megawati Institute, Jakarta, Rabu (3/2).

Ia juga mengatakan, kalau dilihat gambar-gambar demo kerbau itu memang tidak tepat dengan menempelkan gambar SBY pada bokong seekor kerbau.

“Tapi sebagai presiden, kita harus siap menerima hal apapun yang terjadi pada diri presiden tidak perlu mengalami kegoncangan,” katanya.

Sebelumnya, Presiden SBY sudah menyinggung soal demo kerbau pada 28 Januari lalu itu. SBY mengatakan, sebaiknya demo dilakukan dengan mengindahkan norma-norma kepantasan.

“Kita bahas juga misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini. Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” ujarnya di Istana Cipanas. [mut]

Karena kerap menanggapi hal yang sepele, lanjut dia, tidak mengherankan jika SBY dicap presiden sebagai tercengeng sepanjang sejarah Indonesia. Cap itu, lanjut mantan Sekjen KIPP ini, pantas diberikan kepada SBY.

Karena, menurutnya, bukan sekali ini saja SBY sibuk meluangkan waktu dan tenaga untuk menyampaikan pidato yang kebanyakan menanggapi hal-hal yang sifatnya pribadi dan tidak perlu.

Ray mebeberkan pun beberapa contoh. Yakni, soal kegelisahan SBY yang mengaku menjadi sasaran tembak teroris, dan soal kekhawatiran adanya pihak tertentu yang ingin mengagalkan pelantikan dirinya sebagai Presiden 2009-2014.

Kemudian, soal isu pemecatan Menkeu Sri Mulyani, dan yang lainnya. Termasuk yang terakhir adalah soal kerbau yang dibawa pendemo pada 28 Januari yang diibaratkan sebagai dirinya.

“Tapi yang terjadi kan sebaliknya, sekarang ditanggapi malah masyarakat semakin berani mengungkapkan pendapatnya. Makanya tadi pagi (kemarin) kerbau itu dibawa lagi ke Bunderan HI,” tandas Ray. [jib]

Golkar: Presiden Baiknya Tak Usah Tanggapi Kerbau
Mevi Linawati
Priyo Budi Santoso
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Partai Golkar menyarankan, Presiden SBY tidak perlu menanggapi secara langsung tentang adanya demonstrasi, yang menyamakan dirinya dengan kerbau.

“Ke depan saya sarankan Presiden tidak perlu menanggapi begituan. Sehingga yang jadi tanda tanya ada apa?” ujar Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/2).

Priyo mengaku baru mengetahui ada demo menggunakan kerbau setelah ada pernyataan dari SBY. Kalau memang menyerang harkat martabat, kata dia, sangat bisa dipahami SBY merasa gusar.

“Tapi akhirnya kedepan daya gigit atau pengaruh pernyataan Presiden membuat orang jadi kebal. Kok repot disampaikan. Itu merugikan cukup jubir saja,” kata dia.

Selain itu, Priyo juga menyetujui pernyataan SBY terkait demo, yang harus beretika. Ketika menyampaikan pendapat memang harus santun. [mvi/bar]

03/02/2010 – 16:33
<!– reset –>
Denny: Soal Kerbau, SBY Sangat Toleran
Windi Widia Ningsih
Denny Indrayana
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Reaksi Presiden SBY soal isu kerbau cukup wajar. Justru, sikap SBY sudah sangat toleran kepada para demonstran.

“Waktu zaman Presiden Soeharto ada tidak gambar presiden diinjak-injak dan ditempelkan di bagian belakang kerbau? Presiden sekarang sudah sangat toleran,” kata staf khusus kepresidenan bidang hukum Denny Indrayana usai dialog ‘Prospek supremasi hukum dan Pansus Century, di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (3/1).

Menurut Denny, tindakan penghinaan terhadap presiden mestinya bisa dikenakan pasal 207 tentang pencemaran dan penghinaan terhadap penyelenggara negara. “Barang siapa dengan sengaja melakukan penghinaan baik secara lisan maupun tertulis diancam pidana 18 bulan penjara,” ujarnya.

Namun tutur Denny, langkah hukum tersebut tidak dilakukan SBY. “Presiden tidak memberikan intruksi apa-apa kepada kepolisian,” cetusnya.

Denny juga mengatakan saat ini apa yang dilakukan SBY selalu diangap salah. “Sekarang dibilang lebay, dibilang cengeng,” pungkasnya. [win/ikl]

ox_swf.addVariable(‘clickTARGET’, ‘_blank’);

03/02/2010 – 14:54
<!– reset –>
Presiden Off Side Kalau Urus Demo Kerbau
Mevi Linawati
Presiden SBY
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Presiden SBY menjadi kurang efektif terkait demo kerbau. Juga insiden penginjakan dan pembakaran foto dirinya dalam aksi demo beberapa waktu lalu.

“SBY kehilangan arah,” ujar pengamat politik UI Boni Hargens dalam diskusi ‘Mencermati lobi politik di Pansus Angket Century’ di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/2).

Boni juga mengganggap, marah dan curhatan hati SBY itu karena ada di dalam ruang kaca. Yaitu depan, belakang samping kiri dan kanan hanya melihat bayangannya sendiri.

Presiden dianggap takut dengan bayangannya sendiri. Ketika tanggal 28 Januari dan 9 Desember diumumkan akan ada demo besar-besaran, ternyata tidak benar.

“Presiden off side. Kita bisa salahkan tuyul- tuyulnya dan pembisiknya,” pungkas dia. [mvi/ikl]

03/02/2010 – 14:32
<!– reset –>
Marzuki Alie: Kita Terluka karena Kerbau
Windi Widia Ningsih
Marzuki Alie
(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta – Karena ada kerbau yang ikut berdemo pada 100 hari Pemerintahan SBY lalu, Presiden langsung meresponnya. Ketua DPR Marzuki Alie pun merasa terluka dengan demo kerbau itu.

“Manakala aspirasi itu disampaikan dengan cara-cara yang tidak berahlak, cara-cara yang tidak santun, cara-cara yang tidak tepat. Pertama kita sebagai orang timur saja merasa dilukai, kita ini orang timur yang mengedepankan sopan santun, ahlak, etika. Aapa lagi kita negara religius, negara yang mengakui adanya Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Marzuki di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/2).

Menurutnya, kalau berbicara Ketuhanan, maka harusnya ada aturan-aturan agama yang mengatur tatacara kehidupan dalam kehidupan sehari-hari. Saat mengekspresikan aturan-aturan agama, budaya, maka akan menjadi pertanyaan apakah demo itu harus diatur atau tidak.

Menurutnya, aturan agama mengajarkan kebaikan dan seharusnya sebagai umat yang beragama dapat menghormati hal-hal yang demikian tidak perlu diatur lagi dalam undang-undang bagaimana berdemo dan sebagainya.

“Dalam kehidupan sehari-hari harusnya sudah dapat mengatur hidup kita beragama. Ini yang menjadi keprihatinan kita kenapa kita hilangkan jati diri bangsa dangan cara-cara yang sebetulnya cukup menyakiti kita semua. Saya kira rakyat Indonesia tidak happy melihat seperti itu,” ujarnya.

Marzuki Alie pun mengajak agar masyarakat dapat berpikir jernih yang dimaksud demo itu seperti apa.

“Demo itu kan salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi. Di dalam demokrasi ada ruang yang diberikan kepada masyakrat, kepada tokoh-tokoh tertentu untuk menyampaikan aspirasi. Tapi tentunya ruang itu digunakan sebaik-baiknya agar aspirasi yang disampaikan itu sampai kepada siapa pun yang berkopeten dalam mengambil keputusan,” imbuhnya. [mut]

03/02/2010 – 12:18
<!– reset –>
Stafsus: Presiden Tak Mengecam Demo Kerbau, Cuma…
Abdullah Mubarok
Presiden SBY
(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta – Silakan saja mengelar unjuk rasa dimana saja. Asalkan tetap memperhatikan etika.

Pernyataan Presiden SBY terkait demo yang membawa seekor kerbau, jangan diartikan sebuah kecaman. Jika Presiden mengeluh, bisa saja para pengunjuk rasa akan ditangkap ketika berdemo.

“Tidak benar Presiden mengeluh atau mengecam tentang demo,” kata staf khusus kepresidenan Andi Arief kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (3/1).

Presiden SBY, ujarnya, tidak pernah mempermasalahkan dengan adanya kritik. Sebab, masukan dan pendapat diperlukan, untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini.

“Kita berunjuk rasa, harus tetap menghormati Presiden. Kan beliau simbol negara. Media luar negeri kan juga meliput ini semua,” imbuh Andi Arief.

Diberitakan sebelumnya, Presiden SBY menyinggung soal demo kerbau pada 28 Januari lalu itu. Presiden SBY mengatakan, sebaiknya demo dilakukan dengan mengindahkan norma-norma kepantasan.

Presiden mengatakan, saat aksi digelar, para pengunjuk rasa ada yang mengatakan “SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling”.

“Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” ujar Presiden. [bar]

Gerindra: Curhat Kerbau, SBY Turun Wibawa
Mevi Linawati
Presiden SBY
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Bukan hanya kali ini, Presiden SBY mendramatisir isu, seperti soal kerbau. Jika keseringan ‘curhat’, SBY bisa turun wibawa.

“Kalau satu sampai dua kali curhat, itu nggak papa, tapi setiap kali curhat kita menganggapnya beda. Kalau SBY mungkin maksudnya untuk simpati, kalau bagi kita ini malah mengurang kewibaan,” ujar anggota Fraksi Gerindra Desmond Mahesa di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/2).

Desmond menyatakan, Presiden SBY adalah penguasa. Jadi, penguasa itu harus menunjukkan kepemimpinan dan ketegasan dengan tidak berkeluh kesah.

“Ini menunjukkan kepemimpinan lemah,” kata dia.

Fenomena ini, menurut Desmon menjadi pikiran bagi rakyat karena bisa diartikan SBY tidak siap menjadi memimpin. “Harusnya mengayomi bukan berkeluh kesah apalagi kepada rakyatnya,” pungkasnya. [mvi/ikl]

Terlalu Berlebihan Bahas Kerbau di Forum Resmi
Presiden SBY
(Inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Presiden SBY harus memahami urgensi aksi demo yang membawa kerbau sebagai bentuk aspirasi rakyat. Presiden sangat melankolis telah ‘curhat’ isu kerbau dalam rapat formal.

“SBY tidak perlu menanggapi kerbau segala, tidak usah berlebihan, apalagi dia mengatakannya dalam forum formal,” kata pengamat politik UI Boni Hargens di Jakarta, Rabu (3/2).

Sebagai kepala negara SBY tak tepat mencurahkan perasaan pribadi kepada seluruh rakyat. Terlebih dalam demokrasi pernyataan SBY melenceng dari esensi aksi unjuk rasa itu sendiri.

“Ia harus paham urgensinya mengapa rakyat sampai membawa simbol kerbau,” kata Boni.

Artinya, rakyat menganggap pemerintahan SBY-Boediono sangat lamban, dan malas. Kehadiran kerbau dalam aksi demo, bukan tanpa alasan.

“Orang-orang juga tahu kok. Lebih penting adalah memaknai kritikannya, materi, isi dari tuntutan itu, jangan mengomentari kerbaunya,” cetusnya.

Sebelumnya, Presiden SBY sudah menyinggung soal demo kerbau pada 28 Januari lalu itu. Presiden SBY mengatakan, sebaiknya demo dilakukan dengan mengindahkan norma-norma kepantasan.

“Kita bahas juga misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini. Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” ujar Presiden di Istana Cipanas. [ikl]

Kerbau Demonstran Itu Bernama Si Lebay
Raden Timutia Hatta
(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta – Pemilik kerbau yang berdemo pada 100 hari SBY lalu, Yosep Rizal mengaku tidak bermaksud menyindir presiden dengan beraksi membawa kerbau yang diberi nama Si Lebay itu.

Ia mengatakan, kerbau yang dibawanya berdemo merupakan sebuah simbol yang bebas diartikan bermacam-macam oleh siapapun. Dirinya tidak membatasi siapaun untuk mengartikan kerbau itu apa, termasuk Presiden SBY sendiri.

“Kita tidak pernah bilang kalau kerbau itu seperti siapa, yang gemuk dan lamban. Tapi ada yang mengartikan lain,” ujar Yosep saat berbincang dengan INILAH.COM, Jakarta, Rabu (3/2).

Ia mengatakan, selama ini dirinya telah 3 kali membawa kerbaunya itu ikut berdemo.

“Pertama waktu di KPU sebelum Pemilu lalu, kedua 28 Januari kemarin dan yang ketiga hari ini yang akan kita gelar di Bundaran HI,” ungkapnya.

Dalam undangan yang diterima INILAH.COM, Rabu (3/2), akan digelar aksi demontrasi dengan membawa kerbau kembali di jilid II. Demo itu digelar oleh Pemuda Cinta Tanah Air. Berikut isi undangan lengkapnya;

‘AYO DATANG & DUKUNG !!!: Demo Kerbau jilid 2 SileBaY, KEBO CENGENG ! Rabu 3 Februari 2009 pukul 11wib di Bundaran HI Jl MH Thamrin JakPus.- aktor tunggal: Yosep Rijal, Pemuda Cinta Tanah Air.’

Sebelumnya, Presiden SBY sudah menyinggung soal demo kerbau pada 28 Januari lalu itu. SBY mengatakan, sebaiknya demo dilakukan dengan mengindahkan norma-norma kepantasan.

“Kita bahas juga misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini. Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” ujarnya di Istana Cipanas. [mut]

03/02/2010 – 09:27
<!– reset –>
Demo ‘Kerbau Cengeng’ Goyang Bundaran HI
Vina Nurul Iklima
(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta – Aksi demonstrasi pada 100 hari SBY lalu diwarnai dengan adanya seekor kerbau yang ikut berdemo. Meski Presiden SBY telah menyinggungnya, namun demo kerbau kembali digelar.

Dalam undangan yang diterima INILAH.COM, Rabu (3/2), akan digelar aksi demontrasi dengan membawa kerbau kembali di jilid II. Demo itu digelar oleh Pemuda Cinta Tanah Air. Berikut isi undangan lengkapnya;

‘AYO DATANG & DUKUNG !!!: Demo Kerbau jilid 2 SileBaY, KEBO CENGENG ! Rabu 3 Februari 2009 pukul 11wib di Bundaran HI Jl MH Thamrin JakPus.- aktor tunggal: Yosep Rijal, Pemuda Cinta Tanah Air.’

Sebelumnya, Presiden SBY sudah menyinggung soal demo kerbau pada 28 Januari lalu itu. SBY mengatakan, sebaiknya demo dilakukan dengan mengindahkan norma-norma kepantasan.

“Kita bahas juga misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini. Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” ujarnya di Istana Cipanas.

Selain demo kerbau, berdasarkan infromasi dari TMC Polda Metro Jaya, ad tujuh aksi unjuk rasa yang akan mengepung Ibukota Jakarta hari ini.

Unjuk rasa pertama akan terjadi pada pukul 10.00 WIB di Kantor Depdagri Jl Merdeka Utara, Jakarta Pusat yang dilanjutkan ke Bundaran HI di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat dan berakhir di Kantor KPK, Jl HR Rasuna Said.

Berikutnya unjuk rasa akan terjadi pada pukul 10.00-15.00 WIB di Gedung DPR/MPR RI Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Massa ketiga akan melakukan aksinya pada pukul 10.00-16.00 WIB juga di Gedung DPR/MPR RI Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat lalu dilanjutkan ke Bundaran HI, Jl MH Thamrin Jakarta Pusat dan berakhir di Depan Istana Negara Jl Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Massa keempat juga masih mendatangi Gedung DPR/MPR RI Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat pada pukul 10.00 yang dilanjutkan ke Depan Istana Negara Jl Merdeka Utara Jakarta Pusat. Aksi kelima dimulai pada waktu yang sama, massa akan menyambangi Bundaran Hotel Indonesia Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat dan Kantor KPK Jl Rasuna Said Jakarta Selatan.

Menjelang siang hari Panti Sosial Kebon Jeruk Jakarta Barat akan didatangi massa pada 13.00-15.00 WIB. Pukul 13.30 massa yang berbeda akan mendatangi Depan Supermarket Carefour Jl. MT Haryono Jakarta juga untuk berunjuk rasa.

Sore hari pada pukul 15.30-18.00WIB juga akan berlangsung pertandingan Sepak Bola Liga Super 2009/2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta Pusat. Bagi anda yang tidak ingin terjebak macet yang sangat panjang diharapakan untuk tidak melewati jalan tersebut pada waktu demo berlangsung. [mut]

SBY Bahas Kerbau Demo di Cipanas
Presiden SBY
(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Cipanas – Presiden SBY mengumpulkan Gubernur se-Indonesia di Istana Cipanas. Selain membahas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, SBY juga membahas soal Kerbau yang ikut demo pada 28 Januari lalu.

“Kita bahas juga misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini. Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” ujarnya di Istana Cipanas, Selasa (2/2).

Atas dasar itu, Presiden pun mengimbau agar unjuk rasa itu tetap menjunjung tinggi pranata. “Mari kita bicarakan yang baik tanpa mengganggu yang lain dan tetap menjunjung tinggi pranata, kepantasan perlu dijaga,” kata SBY.

Pembahasan diawali penjelasan Wapres Boediono dan Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan Pembangunan Kuntoro Mangkusubroto dalam acara yang dimulai pada pukul 10.00 WIB. Kemudian diikuti oleh penjelasan RPJM oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.

Pembahasan implementasi RPJMBN tersebut akan berlangsung sejak Selasa hingga Rabu mendatang di Istana Cipanas. Peserta rapat tersebut nantinya akan dibagi menjadi enam kelompok kerja.

Keenam kelompok kerja itu masing-masing pokja tata ruang dan climate change, pertahanan, perijinan dan sinkronisasi perundang-undangngan sektoral, pokja pangan (Hulu-Hilir), pokja energi, pokja Infrastruktur, pokja program-program pro rakyat, pokja reformasi birokrasi, keamanan, demokrasi, dan penegakan hukum.

Presiden Yudhoyono dalam pengantar rapatnya mengatakan ada tiga agenda utama dalam rapat tersebut. “Rapat kerja ini miliki tiga agenda, pertama disampaikan apa yang sudah kita capai dalam 100 hari pertama program pembangunan kabinet,” katanya.

Hal yang kedua adalah, penjelaskan RPJMN 2010-2014 supaya dipahami arah tujuan, agenda dan program lima tahun mendatang.

“Yang penting juga, mengapa gubernur hadir dan aktif terlibat rumuskan secara bersama adala pembahasan isu khusus yang selama ini kita hadapi yang boleh disebut sumber permasalahan untuk rumuskan solusi dan opsi yang kita pandang tepat,” paparnya.

Sepanjang Selasa, selain akan didengarkan paparan Wakil Presiden Boediono dan Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan Pembangunan Kuntoro Mangkusubroto tentang evaluasi 100 hari, juga akan dipaparkan RPJMN oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana dan diikuti oleh pembentukan pokja dan curah pendapat.

Sementara pada Rabu, mulai pukul 09:00 WIB, pokja yang terdiri dari menteri, gubernur dan kepala BUMN mulai melakukan perumusan sesuai bidang masing-masing dan pada pukul 14:00 WIB dipaparkan dalam rapat pleno serta diakhiri oleh pencanangan RPJMN oleh Presiden Yudhoyono.

Sesi evaluasi 100 hari kerja kabinet dan curah pendapat pada Selasa berlangsung tertutup. Seluruh Gubernur dan Menteri Kabinet hadir dalam acara sejak Selasa hingga Rabu. Demikian juga anggota Watimpres diundang untuk hadir. Pertemuan berlangsung di sebuah tenda besar yang digelar di halaman belakang Istana Cipanas. [*/mut]

2 thoughts on “SBY Memang Bershio Kerbau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s