Mutilasi Berantai Babe


Sekedar tambahan unek – unek untuk para penegak hukum yaitu : Polri, Jaksa dan Hakim plus Pengacara

1. Andaikata pembunuhan dan mutilasi kasus Robot Gedek dikemudian hari ternyata terbukti pelakunya tunggal yaitu Babe ( Baekuni ), siapa yang bertanggung jawab mengembalikan nyawa Robot Gedek yang telah divonis mati oleh Hakim gara – gara rekayasa hukum oleh Polri dan Jaksa. Menurut saya, anggota Polri pembuat berita acara pemeriksaan ( BAP) dan jaksa  penuntut umum serta Hakim yang salah dalam melakukan prosedur tersebut juga di hukum mati. Ini untuk mencegah agar ada efek jera, tidak salah prosedur lagi dalam kasus lain atau kasus serupa, karena sudah sering terjadi salah prosedur. Khawatir juga kasus Antasari, Willy,  ada gejala  atau tanda salah prosedur.

2. Diwaspadai bagi Ortu, Bila orang seperti Babe, tidak melanggar SOP (Standar Operating Procedur) yaitu menggauli anak asuhan sendiri. maka rahasia kejahatan Babe baru terbongkar paling sedikit 30 tahun kemudian, ini artinya umur Babe saat itu sudah 81 tahun, kemungkinan besar babe sudah meninggal dunia. Maka hati – hati dengan pola anak asuh untuk anak jalanan dan panti asuhan. Bow.. seru banget

Anda penasaran, ikuti saja beritanya

1. Kontras: Peradilan Robot Gedek Cacat Hukum

E Mei Amelia R – detikNews



Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menilai Pengadilan Siswanto alias Robot Gedek, cacat hukum. Sejumlah kejanggalan, terdapat dalam persidangan saat itu. Dalam putusan sidang Robot Gedek yang digelar 20 Mei 1997 lalu diketahui hanya ada satu saksi saja yang mengetahui pembunuhun yang dilakukan Robot Gedek yakni Siswanto alias Babe. “Kalau memang hanya satu saksi atau saksi tunggal, sebagai kebenaran materil, itu cacat hukum. Karena dalam pengadilan dikenal istilah satu saksi bukan saksi,” kata Koordinator Kontras Usman Hamid saat dihubungi detikcom, Minggu (9/2/2010) malam. Bahkan keterangan Babe pun diragukan. Karena dalam putusan yang dibacakan jaksa saat itu mengatakan bahwa Babe tidak melihat Robot Gedek melakukan pembunuhan, tapi Babe pernah melihat Robot Gedek membawa anak kecil ke rumah Babe sekitar pukul 01.00 WIB dini hari ke semak-semak di bekas Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat di tahun 1995. Robot Gedek kemudian membawa pergi anak kecil tersebut. Saat Robot Gedek pergi, Babe mengikutinya dan melihat Robot Gedek memotong pergelangan tangan dan pangkal kaki korban, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Saat mengetahui tindakan Robot Gedek, Babe menghardiknya. “Tega bener lu Bot,” kata Babe seperti tertulis dalam Amar Putusannya. “Emang gue tega,” jawab Robot Gedek. “Saksi (Babe) pun melihatnya dari jarak 20 meter dan hanya melihat gerakan-gerakan di balik semak-semak,” kata pengacara Robot Gedek saat itu, Febry Irmansyah yang ditemui secara terpisah oleh wartawan. Ada 20 saksi yang dimintai keterangan oleh jaksa kala itu. Namun, saksi-saksi tersebut tidak mengetahui secara langsung pembunuhan yang dilakukan oleh Robot Gedek. Kejanggalan lainnya, pengadilan saat itu tidak melakukan tes kejiwaan terhadap Robot Gedek. Bahkan saat Robot Gedek menjalani pemeriksaan di Polres Jakarta Pusat pun, penyidik tidak melakukan tes kejiwaan terhadapnya. “Kenapa saya saat itu minta agar di tes kejiwaan, karena Robot Gedek ini kalau saya lihat diajak ngomong tidak serius, kebanyakan cengengesan,” kata Febry. Dalam pengadilan, Robot Gedek sempat membuat pernyataan yang sebelumnya tidak tersirat dalam pemeriksaan polisi. Dikatakan Robot Gedek bahwa setelah membunuh, perut korban siayat lalu dijilati darahnya. Febry semakin yakin Robot Gedek mengalami gangguan kejiwaan ketika ditanya soal rasa darah. “Rasanya asin pak,” jawab Robot Gedek ditirukan oleh Febry. “Kalau orang normal kan akan bilang kalau rasa darah itu amis,” sambung Febry. Dan kejanggalan lainnya saat itu, pengadilan tidak menghadirkan barang bukti alat yang digunakan Robot Gedek untuk membunuh korbannya. “Silet, pisau, golok, itu tidak ada. Alat buktinya hanya keterangan saksi Babe dan pengakuan Robot Gedek,” tandas Febry. Sementara kata Usman, jika terbukti persidangan saat itu cacat hukum, polisi dan kejaksaan patut dipersalahkan. “Bisa semuanya salah. Karena kadang-kadang ambil keputusan hanya dari BAP, hanya melihat di atas kertas. Ini menunjukkan ketidaprofesionalan dalam menegakkan hukum,” kata Usman. (mei/mok) Senin, 08/02/2010 07:27 WIB Mutilasi Berantai Babe 2. Babe Tunjukkan Polisi Tentang Keberadaan Robot Gedek E Mei Amelia R – detikNews

Jakarta – Sebelum Siswanto alias Robot Gedek, terpidana pembunuhan disertai sodomi di tahun 1997 tertangkap, Sunarto alias Babe lebih dulu ditangkap polisi. Dari keterangan Babe inilah, polisi akhirnya memburu Robot Gedek. Bahkan Babe sendiri yang menuntun polisi tentang keberadaan Robot Gedek.

“Waktu Babe ditangkap, dia bilang bukan saya Pak. Robot Gedek yang melakukan,” kata Febry Irmansyah, pengacara Robot Gedek saat itu menirukan Babe kepada wartawan, di Jakarta, Sabtu (8/2//2010) malam.

Hingga akhirnya, Robot Gedek tertangkap di Tegal, Jawa Tengah. Polisi kemudian membawa Robot Gedek ke Polres Jakarta Pusat untuk diperiksa.

“Selama pemeriksaan dia tidak serius banyak cengengesan. Kalau ditanya cuma jawab iya dan tidak,” katanya.

Babe adalah teman Robot Gedek yang dikenalnya saat bekerja di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Babe ini, diyakini oleh Febry sebagai Baekuni alias Babe.

“Saya yakin seratus persen, wajah Babe ini (baekuni) mirip dengan Babe yang pernah bersaksi di sidang Robot Gedek,” tutup Febry.

Robot Gedek akhirnya divonis hukuman mati pada 20 Mei 1997. Namun, Robot Gedek meninggal dunia di LP Nusakambangan akibat serangan jantung.
(mei/mok)

3. Modus Pembunuhan Babe & Robot Gedek Mirip

E Mei Amelia R – detikNews



Jakarta – Ada kemiripan dalam modus pembunuhan yang dilakukan oleh Siswanto alias Robot Gedek dengan Baekuni alias Babe. Pembunuhan yang dilakukan keduanya, disertai dengan menyodomi korban lalu membuangnya. “Modus pembunuhan yang dilakukan Robot Gedek saat itu, mengajak korban bermain ding-dong atau member makan, lalu disodomi, dibunuh dengan dijerat lehernya oleh tali rafia lalu dibuang,” kata Febry Irmanysah, pengacara Robot Gedek saat itu kepada wartawan, Sabtu (7/2/2010) malam di Starbucks Café, Sarinah, Jakarta Pusat. Begitu pula dengan tersangka Babe. Dia melakukan pembunuhan dengan cara korban dijerat tali rafia kemudian disodomi lalu dimutilasi dan dibuang mayatnya. Keduanya juga melakukan pembujukan terlebih dahulu terhadap para korbannya dengan cara mengajak korban bermain, makan atau memberi uang. Babe bahkan pernah mengajak beberapa korbannya jalan-jalan ke Candi Borobudur sebelum akhirnya membunuhnya. Alat yang digunakan untuk membunuh korban juga sama yakni tali rafia. Tali tersebut digunakan untuk menjerat leher korban. Yang berbeda dari keduanya hanya alasan pembunuhannya. Jika Babe membunuh korban dengan alasan korban menolak disodomi, Robot Gedek tidak. “Alasannya waktu itu karena takut ketahuan kalau dia pernah menyodomi” kata Febry. (/mok) Minggu, 07/02/2010 22:25 WIB 4. Babe Sering Ganti Identitas E Mei Amelia R – detikNews

Jakarta – Tersangka pembunuhan yang disertai sodomi 14 bocah anak jalanan ternyata sering ganti identitas. Tercatat selama hidupnya, sedikitnya Babe memiliki identitas dengan 3 nama.

“Babe memang sering berganti nama,” kata pengacara Babe, Rangga Beri Rikuser kepada wartawan, Minggu (8/2/2010).

Dikisahkan Rangga, Babe terlahir sebagai bayi kembar di tahun 1960 silam. Orangtua Babe awalnya memberi nama Hasan. “Sedangkan kembarannya diberi nama Husein,” jelasnya.

Namun Husein lebih dulu meninggal dunia saat usianya masih kanak-kanak. Orangtua Babe kemudian mengganti nama Hasan dengan Baekuni.

Baekuni kecil saat itu dipanggil Bungkih. Hingga beranjak dewasa, identitas Babe di Kartu Tanda Penduduk (KTP) masih Baekuni.

Barulah setelah ke Kuningan, Jawa Barat sekitar tahun 1993, Babe berganti identitas baru. Di KTP barunya, nama Babe adalah Agus.

Babe juga diduga pernah beridentitas sebagai Sunarto di tahun 1995, saat dirinya di Jakarta. Sunarto adalah saksi dalam kasus Siswanto alias Robot Gedek.

“Saya yakin seratus persen, Sunarto alias Babe ini mukanya persis dengan Baekuni,” kata Febry Irmansyah, pengacara yang pernah menangani kasus Robot Gedek.

Namun, nama Sunarto ini dibantah oleh Rangga. Rangga bersikukuh jika Babe tidak pernah bersaksi di sidang Robot Gedek. “Itu Babe lain, bukan Babe ini (Baekuni). Babe kan nama panggilan untuk orangtua yang menampung anak jalanan,” tandas Rangga.

(mei/mok)

Jumat, 05/02/2010 18:35 WIB

5. Babe Tumbalkan Robot Gedek?

E Mei Amelia R – detikNews



Jakarta – Keterkaitan hubungan Baekuni alias Babe dengan Robot Gedek memunculkan dugaan bahwa Robot Gedek tidak pernah membunuh korban sodominya. Mungkinkah Babe ‘menumbalkan’ Robot Gedek untuk menutupi kejahatan Babe? Jika benar, ini bisa menjadi novum baru dalam merehabilitasi nama Robot Gedek. “Bisa saja (menjadi novum). Bahkan bukan itu saja, mungkin bisa ada korban baru,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro, Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mapolda Metro, Jumat (5/2/2010). Polisi sendiri akan meminta keterangan terhadap Babe atas kesaksiannya saat itu. “Tapi itu perlu waktu,” ungkapnya. Febri Firmansyah, pengacara Robot Gedek meyakini Baekuni alias Babe pernah bersaksi dalam persidangan Robot Gedek pada tahun 1997 silam. Bahkan menurut Febri, Babe adalah saksi tunggal yang memberatkan Robot Gedek. “Saya yakin 100 persen mukanya Babe (Baekuni) mirip dengan saksi Robot Gedek, Sunarto alias Babe” kata Febri, kemarin. Saat bersaksi, Babe menggunakan nama Sunarto. “Dalam kesaksiannya, Babe mengetahui kalau Robot Gedek membunuh,”ujar Febri. Febri sendiri saat itu tidak yakin kliennya mampu melakukan pembunuhan. Karena dari segi kejiwaan, Robot Gedek labil. Dikatakan Febri, Babe dan Robot Gedek sendiri berteman sejak keduanya di Senen, Jakarta Pusat. Bahkan Babe mengetahui jika Robot Gedek memiliki kelainan seksual berupa paedofil. Febri sendiri pernah meminta agar Robot Gedek diperiksa kejiwaannya. Namun, permohonan Febri ditolak mentah-mentah oleh majelis hakim, bahkan saat Robot Gedek ditahan di Polres Jakarta Pusat. Namun, Boy bersikukuh jika Babe dan Robot Gedek sama sekali tidak memiliki keterkaitan. Bahkan keputusan hakim dalam memvonis Robot Gedek, menurutnya atas dasar pembuktian. “Jadi tidak serta merta kita menuduh Robot Gedek,” kata Boy. Hakim menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap Robot Gedek. Namun, Robot Gedek meninggal di LP Nusakambangan tahun 2007 karena serangan jantung. “Jadi tolonglah hormati proses peradilan yang sudah lewat itu,” pungkas Boy.(mei/Rez) Kamis, 04/02/2010 18:56 WIB 6. Pengacara Robot Gedek Yakin Babe Pernah Jadi Saksi Utama di Sidang E Mei Amelia R – detikNews

Jakarta – Febri Firmansyah, pengacara terpidana Siswanto alias Robot Gedek meyakini bahwa Baekuni alias Babe (49) adalah saksi kunci dalam sidang Robot Gedek. Babe adalah saksi yang memberatkan terdakwa dalam persidangan pada Juli 1997 silam.

“Saya yakin 100 persen mukanya mirip dengan Sunarto alias Babe,” kata pengacara Robot Gedek, Febri Firmansyah saat dihubungi wartawan, Kamis (4/2/2010).

Namun, saat persidangan Robot Gedek di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Baekuni menggunakan nama lain, yaitu Sunarto alias Babe. Saat persidangan, Babe bersaksi bahwa Robot Gedek memutilasi kemudian menyodomi korban Robot Gedek.

Saksi Babe saat dihadirkan di muka meja hijau adalah sebagai teman Robot Gedek. Jaksa Penuntut Umum saat itu menghadirkan Babe karena Babe dan Robot Gedek intens berhubungan.

“Yang jelas keduanya punya hubungan dimana sama-sama memiliki kelainan seksual. Suka menyodomi anak di bawah umur,” jelas Febri.

Menurut Febri, Robot Gedek dan Babe saling mengenal saat keduanya bekerja di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat beberapa tahun silam.

Febri tidak yakin kliennya membunuh, karena saksi yang dihadirkan oleh JPU hanya Babe. Dan dari performa kejiwaan pun, Robot Gedek memiliki kejiwaan labil. Sidangnya sendiri saat itu berlangsung tertutup karena kasus asusila.

Tes Kejiwaan

Meski dalam pengadilan, Robot Gedek mengakui membunuh, Febri meminta Majelis Hakim untuk melakukan tes kejiwaan terhadap Robot Gedek. Namun, permintaan Febri selalu ditolak.

“Mulai dari Polres Jakarta Pusat hingga diajukan ke persidangan selalu ditolak,” jelasnya.

Alasan Febri melakukan tes kejiwaan terhadap Robot Gedek saat itu karena Robot Gedek tidak pernah serius saat diajukan pertanyaan. “Dia selalu cengengesan saat ditanya apakah membunuh,” paparnya.

Namun, majelis hakim saat itu lagi-lagi menolak bantahan Febri. Alasan majelis hakim, Babe mampu diajak berkomunikasi.

“Padahal orang berdasi sekali pun bisa punya kelainan jiwa,” tandasnya.

(mei/ndr)

Kamis, 04/02/2010 15:14 WIB

7. Babe & Robot Gedek Tak Pernah Garap Korban Bersama
E Mei Amelia R – detikNews



Jakarta – Baekuni alias Babe (49), tersangka mutilasi 14 bocah berteman dekat dengan pembunuh yang melegenda di tahun 1996, Siswanto alias Robot Gedek. Dan keduanya saling mengetahui kalau sama-sama faedopil alias menyukai anak kecil. “Babe tahu kalau Robot Gedek suka sama anak kecil. Kalau Robot Gedek mungkin tahu, mungkin juga tidak,” kata pengacara Babe, Rangga Beri Rikuser saat dihubungi wartawan, Kamis (4/2/2010). Keduanya berteman sejak tahun 1993. Keduanya berkenalan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat saat sama-sama menjadi anak jalanan. “Sama-sama anak jalanan, sama-sama ngamen,” katanya. Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Satuan Jatanras Polda Metro Ajun Komisaris Besar Nico Afinta. “Menurut pengakuan Babe, dia memang kenal Robot Gedek,” kata Nico. Sementara itu, Nico juga terus mendalami kemungkinan adanya korban lain. “Itu terus kita dalami juga,” jelas Nico. Menurutnya, dalam mengorek keterangan dari Babe polisi harus ekstra sabar. Karena ingatan Babe mulai menurun. “Dia kalau diperlihatkan foto baru ingat,” ungkapnya. Sementara itu, Nico mengatakan pihaknya masih membuka laporan kehilangan anak. Bagi yang merasa pernah kehilangan anak, diharapkan membawa foto anaknya. (mei/ndr) Kamis, 04/02/2010 14:09 WIB 8. Babe Diduga Jalani Ritual Ilmu Hitam E Mei Amelia R – detikNews

Jakarta – Pembunuhan yang disertai sodomi yang dilakukan oleh tersangka Baekuni alias Babe (49) ternyata bukan hanya karena seks. Pembunuhan yang dilakukan Babe diduga karena Babe menjalani ritual ilmu hitam.

“Dia ngilmu pesugihan di tahun 1993,” kata sumber di kepolisian kepada wartawan, Kamis (4/2/2010).

Sementara itu, Kepala Satuan Jatanras Direktorat Reskrimum Polda Metro, Ajun Komisaris Besar Nico Afinta mengatakan akan mendalami dugaan tersebut.

“Itu nanti akan kita dalami,” kata Nico di Mapolda Metro.

Dikatakan sumber, ritual itu sudah Babe tekuni sejak tahun 1993, berupa ilmu pesugihan. Menurut sumber, untuk mencapai ilmu hitam itu, Babe harus menumbalkan anak-anak di bawah umur.

Sementara itu, pengacara Babe, Rangga Beri Rikuser membantah dugaan tersebut. Tapi, katanya, dugaan itu pernah ditanyakan penyidik dan pengacara terhadap Babe.

“Itu memang pernah ditanyain ke Babe. Tapi kata Babe nggak,” ujar Rangga.

Namun, Rangga tidak menampik jika Babe melakukan ritual. Tapi menurutnya, ritual itu dilakukan setahun sekali di hari kelahiran Babe.

“Ritualnya puasa  di hari kelahiran. Dan itu pun dilakukan kadang-kadang kalau dia lagi mau saja,” tandas Rangga.

(mei/ndr)

Rabu, 03/02/2010 21:55 WIB

9. Kontras: Nama Robot Gedek Harus Dibersihkan

E Mei Amelia R – detikNews


Jakarta – Beberapa nama korban Babe memiliki kemiripan dengan korban Robot Gedek. Jika terbukti korban Babe adalah korban Robot Gedek, maka negara wajib membersihkan nama Robot Gedek. “Kalau itu benar, negara wajib rehabilitasi nama baik Robot Gedek dan keluarganya,” kata Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid, saat dihubungi detikcom, Rabu (3/2/2010). Cap sebagai pembunuh yang menempel terhadap Robot Gedek, kata Usman, mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap keluarganya. “Keluarganya juga ikut terpengaruh. Karena saat itu, kasus Robot Gedek dianggap melampaui batas-batas kemanusiaan,” jelasnya. Menurut Usman, seharusnya peradilan saat memvonis Robot Gedek mempertimbangkan kejiwaannya. Saat itu, Robot Gedek dianggap terganggu kejiwaannya. “Bayangkan jika dia sampai dieksekusi mati. Ini akan sulit untuk merehabilitasi namanya,” jelasnya. Terkuaknya kasus Babe ini mengundang tanda tanya besar atas proses peradilan Robot Gedek. Jika benar, korban Robot Gedek diakuki Babe sebagai korbannya, Usman menilai ada yang salah dalam proses peradilan terdahulu. “Ini menimbulkan novum baru jika peradilan saat itu salah membuktikannya,” imbuhnya. “Tapi mungkin Hakim saat itu punya bukti yang kuat,” tandasnya.  Robot Gedek adalah terpidana mati kasus pembunuhan 12 anak di tahun 1995. Namun, Robot Gedek akhirnya tewas terkena serangan jantung di penjara Nusakambangan pada 26 Maret 2007 sebelum dieksekusi. Nah, Babe sendiri mengaku berteman dengan Robot Gedek. Mungkinkan korban Robot Gedek adalah korban Babe? Rabu, 03/02/2010 17:05 WIB 10. Polisi Perpanjang Masa Penahanan Babe E Mei Amelia R – detikNews

Jakarta – Tersangka mutilasi 14 bocah anak jalanan, Baekuni alias Babe (49), diperpanjang masa penahanannya. Perpanjangan masa penahanan dilakukan karena polisi masih mengorek keterangan dari Babe akan dugaan adanya korban lainnya.

“Babe sudah diperpanjang masa penahanannya,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jaksel, Rabu (3/2/2010).

Masa penahanan Babe diperpanjang hingga 60 hari. “Ini dalam rangka melengkapi berkas perkara,” katanya.

Namun jika hingga masa perpanjangan penahanan itu polisi masih memerlukan keterangan Babe, polisi masih bisa memeriksa Babe. “Tapi penahanan dari kejaksaan,” lanjutnya.

Boy sendiri optimis jika pihaknya dapat menyelesaikan berkas Babe dalam batas waktu yang sudah ditentukan. “Harus optimis dong,” imbuhnya.

Babe ditangkap polisi pada 9 Januari lalu. Sudah satu bulan Babe ditahan di Mapolda Metro Jaya.

Sementara itu, Boy belum bisa memastikan kapan berkas Babe akan segera
dilimpahkan ke kejaksaan. “Secepatnyalah kita akan limpahkan, kan kita juga ada batas waktunya,” tandasnya.

(mei/ndr)

Selasa, 02/02/2010 19:10 WIB

11.Babe Pernah Divonis 2 Tahun dalam Kasus Penculikan

E Mei Amelia R – detikNews



Jakarta – Baekuni alias babe ternyata tidak hanya melakukan pembunuhan dan mutilasi saja. Babe pernah divonis 2 tahun atas tuduhan penculikan seorang gadis berusia 9 tahun. “Babe ini pernah divonis 2 tahun. Karena dituduh menculik anak perempuan berusia 9 tahun,” ujar pengacara Babe, Haposan Hutagalung saat dihubungi detikcom, Selasa (2/2/2010). Menurut Haposan, Babe menculik gadis itu karena beralasan ingin memiliki anak. Gadis yang diculik itu Babe bawa ke Kuningan, Jawa Barat di tahun 1995. Namun Haposan sendiri enggan menjelaskan identitas anak tersebut. Korban Baekuni alias Babe terus bertambah. Polisi mencatat total korban mencapai 14 orang. (mei/Rez) Senin, 01/02/2010 17:13 WIB 12. Kasus Babe Kejahatan Paling Mengerikan di Indonesia E Mei Amelia R – detikNews

Jakarta – Kasus kejahatan apakah yang paling mengerikan di Indonesia? Kasus pembunuhan disertai dengan mutilasi yang dilakukan oleh Baekuni alias Babe. Setidaknya demikian menurut kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala.

“Kasus Babe ini layak dianggap sebagai kasus cerita kejahatan yang paling mengerikan di Indonesia, the most scariest crime story,” kata Adrianus saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (1/2/2010).

“Kalau dibilang paling banyak (jumlah yang dibunuh), masih kecil dibandingkan dukun AS yang mengaku membunuh puluhan orang, tapi yang ketahuan jasadnya hanya 6,” imbuh Adrianus.

Kasus ini meminta Polri untuk menjaga konsistensi dari segi sumber daya manusia (SDM). Karena menurut Adrianus, masih banyak lagi kasus serupa yang mungkin saja kembali terjadi. “Polri dituntut seberapa jauh bisa membuat suatu keajegan dari segi resources,” imbuhnya.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan, dalam kasus Babe, anak jalanan menjadi target utama karena memang paling mudah memperdaya mereka.

“Pada dasarnya Babe diindikasikan kelainan kejiwaan, paedofil, homoseks, mengalami kekerasan masa kecil yang dihina sebagai anak bodoh. Dia cenderung memilih anak jalanan karena memang paling mudah,” papar Kak Seto.

Kak Seto menjelaskan, anak jalanan mengalami potensi kekerasan seksual yang sangat tinggi, terutama jumlahnya setiap tahun kian meningkat.

“Komnas PA mencatat di Jakarta ada 40-50 ribu dari 300 ribu anak jalanan di Indonesia. Ini terus mengalami kenaikan seiring dengan kemiskinan,” tambahnya.

(anw/iy)

Senin, 01/02/2010 17:04 WIB
Mutilasi Berantai Babe

13. Babe Tertangkap Gara-gara Langgar ‘SOP’ Sendiri

E Mei Amelia R – detikNews


Jakarta – Sudah belasan tahun Baekuni alias Babe berlaku jahat pada anak-anak. Kejahatannya terkuak setelah dia melanggar “standard operating procedur (SOP)” yaitu berhubungan seks dengan anak asuhannya.

“Kenapa Babe tertangkap? Karena dia melanggar “SOP” sendiri. Dia kan biasanya melakukan hubungan seks dengan anak yang di luar pengasuhannya,” ujar psikolog Sarlito Wirawan di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (1/2/2010).

Menurut Sarlito, Babe menggauli Ardiansyah karena cukup cakep. Ardiansyah baru diasuh Babe 6 bulan. Bocah 9 tahun itu menetap di kontrakan Babe setelah diajak oleh anak asuh Babe lainnya.

“Ibunya Ardiansyah pun kenal dengan Babe. Sehingga inilah yang akhirnya gampang menangkapnya,” imbuh Sarlito.

Selama Babe melakukan dengan cermat dan sesuai prosedur, lanjut Sarlito, maka aibnya itu tidak akan terbuka. “Bisa bertahan sampai 30 tahun,” kata dia.

Korban Babe yang tercatat hingga kini sebanyak 14 orang, beberapa di antaranya dimutilasi. Babe tidak hanya homoseksual dan paedofil tetapi juga necrofil (menyetubuhi mayat).

(nik/nrl)

<!–

–><!–

–><!–

–>

2 thoughts on “Mutilasi Berantai Babe

  1. Baekuni alias Babe (49) informasi berbagai seumber dari warga masyarakat telah banyak membunuh/menjagal banyak orang di kota besar dan daerah sekitarnya di pulau jawa tapi banyak yang belum dilaporkan kepada aparat penegak hukum negara !!!

    Suka

  2. Baekuni alias Babe (49) informasi berbagai seumber dari warga masyarakat selain memutilasi 15 anak juga telah banyak membunuh/menjagal banyak orang di kota besar dan daerah sekitarnya di pulau jawa tapi banyak yang belum dilaporkan kepada aparat penegak hukum negara !!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s