Prahara Asmara


1. JPU: ‘MATI’ di Berkas Antasari Harus Besar

Tulisan itu tidak mencerminkan tekanan dan rekayasa dalam tuntutan mati kepada Antasari.
Jum’at, 5 Februari 2010, 23:30 WIB
Antique, Eko Huda S

VIVAnews – Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus pembunuhan Nasrudin dengan terdakwa Antasari, Cirus Sinaga, mengklarifikasi pertanyaan yang diajukan kuasa hukum Antasari.

Menurut Cirus, tulisan ‘MATI’ di atas berkas tuntutan Antasari, memang harus dipertegas dengan huruf kapital. “Kenapa tulisan besar? Memang Cirus begitu, harus jelas,” kata dia usai persidangan dengan agenda pembacaan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 5 Februari 2010.

Terkait tulisan itu, Cirus juga membenarkan bahwa tulisan dengan huruf besar tersebut adalah tulisan tangannya.

Menurut dia, tulisan itu tidak mencerminkan adanya tekanan dan rekayasa dalam tuntutan mati kepada Antasari. Tuntutan itu, kata dia, telah sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Pada persidangan, pengacara Antasari sempat menuduh Jaksa Penuntut Umum Cirus Sinaga memiliki dendam pribadi terhadap kliennya karena pernah menjadi bawahan Antasari.

“Fakta di persidangan sudah sesuai dengan ancaman pidana. Orang yang turut serta melakukan pidana atau menyuruh melakukan tindak pidana, ancamannya sama (vonis hukuman mati). Jadi, bagaimana lagi?” kata Cirus.

antique.putra@vivanews.com

2. Jaksa: Tuntutan Mati Antasari Bukan Dendam
“Saya itu punya agama. Cirus itu tidak nakal dan tidak punya dendam dengan Antasari.”
Jum’at, 5 Februari 2010, 21:57 WIB
Antique, Eko Huda S
(VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews – Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum kasus pembunuhan Nasrudin dengan terdakwa Antasari, Cirus Sinaga membantah tuntutan mati yang diberikan dalam persidangan karena unsur dendam pribadi. Cirus mengatakan tuntutan itu telah sesuai dengan undang-undang.

“Saya itu punya agama. Cirus itu tidak nakal dan tidak punya dendam dengan Antasari,” kata Cirus usai persidangan dengan agenda pembacaan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 5 Februari 2010.

Bantahan itu diungkapkan Cirus untuk menanggapi pernyataan kuasa hukum Antasari dalam duplik yang mempertanyakan, apakah tuntutan mati itu dikarenakan adanya dendam pribadi antara Cirus dengan Antasari. Sebab, saat menjadi jaksa, Antasari pernah menjadi atasannya.

Menurut Cirus, hubungan dia dengan Antasari hanyalah terdakwa dan jaksa dalam persidangan. Dia mengatakan tuntutan itu tidak ada hubungannya dengan cerita masa lalu. Dimana Cirus pernah menjadi bawahan Antasari ketika masih sama-sama menjadi jaksa.

“Terus, selama ini ada hubungan dikantor, dia [Antasari] selaku Direktur Penututan, Saya Kasubdit. Tetapi tidak ada masalah,” kata dia. “Saya ini panggilan tugas, perintah undang-undang.” ( untuk menghukum mati? )

“Jaksa itu tugasnya mewakili pemerintah dan masyarakat melakukan penuntutan terhadap tindak pidana. Jadi, jangan dituduh ada rasa dendam. Dendam apa? Saya tidak pernah punya persoalan,” tutur dia.

antique.putra@vivanews.com

Solusi keputusan jaksa agar benar 100 %, jaksa minta tolong kepada Tuhan yang dianut jaksa yang katanya Maha Menghidupkan Orang Mati, maka hidupkan kembali Nasrudin, lalu tanya siapa dalang yang membunuhnya, setelah itu silahkan ia kembali kepada Tuhan dengan hati yang puas. Saya yakin ini bisa, karena Cirus tidak nakal dan tidak punya dendam pribadi kepada Antasari, ia bekerja sesuai dengan panggilan undang – undang, maka doanya bisa makbul. Setuju?


3. “Harusnya Jaksa Masuk Persatuan Cenayang”
Bagi pengacara Antasari, tindakan JPU misterius dan tak dapat diterima akal sehat.
Jum’at, 5 Februari 2010, 18:23 WIB
Elin Yunita Kristanti, Eko Huda S
Antasari Azhar (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews – Antasari Azhar dan pengacaranya hari ini membacakan duplik yang jadi kesempatan terakhir untuk membela diri.

Kuasa Hukum Antasari Azhar, Hotma Sitompul mengatakan sikap jaksa penuntut umum (JPU) sangat misterius. Jaksa, kata dia, telah mempersiapkan berita acara pengungkapan kasus sebelum penetapan Antasari sebagai tersangka.

“Pemeriksaan dimulai 4 Mei, namun telah dibuat Berita Acara pengungkapan kasus pada 26 April,” kata Hotma ketika membacakan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 5 Pebruari 2010.

“Artinya, sebelum diperiksa telah dipersiapkan berita acara pengungkapan kasus.”

Hotma mengatakan, tindakan itu tidak bisa diterima oleh akal sehat dan dianggap misterius. “Bagi jaksa yang berpikiran misterius, hal-hal yang misterius jadi biasa. Tapi bagi kami orang-orang normal tidak,” kata dia.

Dia mengatakan, pembuatan berita acara pengungkapan kasus yang telah dibuat 8 hari sebelum ditetapkannya Antasari sebagai tersangka, menyebabkan terjadinya manipulasi-manipulasi oleh para penyidik.

Hotma mempertanyakan bagaimana bisa membuat berita acara sebelum memeriksa.

Jaksa Penuntut Umum sebaiknya mendaftarkan diri pada persatuan cenayang,” kata dia.

Dalam persidangan sebelumnya, Antasari dituntut pidana mati oleh Jaksa Penuntut Umum. Antasari dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan turut serta melakukan pembujukan untuk melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnain.

Antasari pun dijerat dengan tiga pasal berlapis, yaitu Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke 2 KUHP jo Pasal 340 KUHP.

Apakah Antasari akan divonis mati sesuai tuntutan JPU, akan ditentukan hakim pada Kamis 11 Februari 2010.

4. Pengacara: Rani Si ‘Manusia Gaul Abis’
“Rani si pendusta bukan nabi. Dia bukan hanya berdusta tapi menghalalkan segala cara.”
Jum’at, 5 Februari 2010, 17:23 WIB
Elin Yunita Kristanti, Eko Huda S
Rani Juliani di Polda Metro (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews – Adu argumentasi antara jaksa penuntut umum (JPU) dan pengacara Antasari Azhar berlanjut hingga pembacaan duplik hari ini.

Pengacara Antasari, Maqdir Ismail menyerang jaksa yang dia nilai terlalu melindungi istri ketiga Nasrudin Zulkarnaen, Rani Juliani.

“Penjagaan kemanan Rani melebihi siapapun yang jadi saksi,” kata Maqdir dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 5 Februari 2010.

Kata Maqdir, mengapa Rani tidak dilindungi lembaga lain, seperti Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Apa jaksa takut kalau Rani bernyanyi tak seperti perintah konduktor, pemimpin orkes. Akan hancur berantakan dan pelaku sebenarnya atau kreator akan terungkap,” tambah Maqdir.

Dia juga mengatakan Rani Juliani sebagai pembohong. “Rani Juliani si pembohong. Apa dasar kepercayaan jaksa pada ‘manusia gaul abis’ itu. Jaksa seakan pengikut nabi terhadap Rani,” kata dia.

Tambah Maqdir, keterangan Rani dalam kasus pembunuhan Nasrudin berdiri sendiri. “Rani si pendusta bukan nabi. Dia bukan hanya berdusta tapi menghalalkan segala cara,” lanjut dia.

Maqdir menganggap JPU pongah dan tak tahu diri karena menganggap Antasari lebih rendah dari Rani Juliani.

“Apa karena jaksa ingin terkenal sebagai pembela hak-hak perempuan? Apa ingin naik jabatan?,” tuding Maqdir.

Sebelumnya, JPU mengungkapkan Antasari Azhar tidak berani menatap mata istri Nasrudin, Rani Juliani ketika memberikan kesaksian dalam persidangan yang digelar secara tertutup November 2009.

“Terdakwa Antasari tidak berani menatap mata saksi Rani, selama Rani bersaksi mulai dari awal hingga akhir kesaksian,” kata JPU, M Pandiangan ketika membacakan replik dalam persidangan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa 2 Februari 2010.

( Menurut Jaksa, Seharusnya Antasari di Ruang Pengadilan memandang Rani sambil bermain mata kegenitan, penuh hasrat?. Haram choi )

Dia mengatakan, ketidakberanian Antasari menatap wajah Rani selama sidang itu disebabkan adanya rasa takut Antasari kepada Rani. “Ada yang mengatakan, berani karena benar, takut karena salah,” kata dia.. [Apa hubungan memandang Rani dengan gairah dengan kebenaran materil secara hukum. Apa begini  cara Jaksa  berpikir ?]

Hari ini adalah kesempatan terakhir Antasari membela diri. Pada Kamis 11 Februari 2010, majelis hakim akan memutus vonis Antasari.

• VIVAnews
5. “Pembunuhan Nasrudin Seperti Sinetron Buruk”
Konspirasi untuk menjebak Antasari sepeti sinetron yang buruk dengan pemeran jelek.
Jum’at, 5 Februari 2010, 16:56 WIB
Arry Anggadha, Eko Huda S
Nasrudin Zulkarnaen (Repro: Warta Kota/ Tribun Timur)

VIVAnews – Penasehat hukum Antasari Azhar, Muhammad Assegaf, mengatakan terdapat konspirasi penjebakan terhadap kliennya dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Dia mengatakan konspirasi itu dirancang dengan buruk, sehingga mudah dibongkar.

“Istilahnya konspirasi untuk menjebak Antasari sepeti sinetron yang buruk dengan pemeran yang juga jelek,” kata Assegaf ketika membacakan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat 5 Februari 2010.

Dia mencontohkan indikasi konspirasi itu ketika Nasruddin Zulkarnaen yang berpura-pura terkejut dan marah saat mendapati Rani Juliani dan Antasari di kamar 803 hotel Grand Mahakam, pada 2008 lalu. Padahal, lanjut dia, Nasruddin sendiri yang mengantarkan Rani ke hotel dan meminta Rani merekam pertemuannya dengan Antasari.

Tidak hanya itu, indikasi konspirasi juga terlihat dari rekaman pembicaraan Antasari dengan Sigid Haryo Wibisono. Assegaf
mempertanyakan jika dakwaan kepada Antasari bukan rekayasa, mengapa Sigid harus melakukan perekaman.

Selain itu, hukuman mati yang dijatuhkan pada Antasari juga menurut Assegaf semakin menguatkan dugaan rekayasa ini. ” Jadi rekayasa ini sudah nampak dengan telanjang,” kata dia.

Dalam persidangan sebelumnya, Antasari dituntut pidana mati oleh Jaksa Penuntut Umum. Antasari dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan turut serta melakukan pembujukan untuk melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnain. Antasari pun dijerat dengan tiga pasal berlapis, yaitu Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke 2 KUHP jo Pasal 340 KUHP.

• VIVAnews
6. Antasari Tak Mau Cabut Kata  ‘Imajinasi Jaksa’
Jaksa menilai kata-kata imajinasi sangat berlebihan.
Jum’at, 5 Februari 2010, 16:45 WIB
Arry Anggadha, Eko Huda S
(VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews – Terdakwa kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Antasari Azhar tidak akan mencabut kata ‘imajinasi’ dalam surat pembelaannya. Antasari mengatakan JPU tidak memiliki alasan yang jelas untuk meminta pencabutan itu.

“Saya belum akan mencabut pernyataan tersebut selama penuntut umum tidak dapat menjelaskan berdasarkan fakta hukum yang diperoleh di depan persidangan atas pembelaan saya,” kata Antasari ketika membacakan duplik dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 5 Pebruari 2010.

Antasari pun mengutip replik dari JPU. Pada halaman 129 replik jaksa misalnya. Terdapat kalimat ‘bahwa menurut pemikiran saksi Sigid Haryo Wibisono’.

Selain itu, dia juga mengutip replik jaksa pada halaman 133 yang terdapat kalimat ‘adalah mustahil terdakwa sebagai seorang ketua komisi pemberantasan korupsi’ dan ‘bagaimana mungkin terdakwa tidak menjadi panik dan ketakutan’.

“Kata-kata ‘menurut pemikiran, ‘adalah mustahil, dan ‘bagaimana mungkin’ adalah gambaran imajinasi penuntut umum untuk menganalisa fakta dengan menggunakan sistem pembuktian,” kata dia.

Dalam replik yang dibacakan, jaksa penuntut umum meminta Antasari mencabut kata-kata ‘imajinasi’. Menurut jaksa, kata-kata itu sangat berlebihan. ( Ada apa jaksa minta Antasari mencabut kata imajinasi?. In i menjadi pertanyaan kita, seakan – akan penuntutan jaksa terhadap Antasari seperti cerita misteri fiksi.)

Dalam persidangan sebelumnya, Antasari dan Williardi secara terpisah dituntut pidana mati oleh Jaksa Penuntut Umum. Mereka berdua dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan turut serta melakukan pembujukan untuk melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnain. Antasari dan Willi pun dijerat dengan tiga pasal berlapis, yaitu Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke 2 KUHP jo Pasal 340 KUHP.

7. Antasari Cerita ‘Pengembara dari Sel Tahanan’
Antasari mulai bercerita. Suatu ketika ada seorang pengembara dikejar Harimau lapar.
Jum’at, 5 Februari 2010, 15:31 WIB
Ismoko Widjaya, Eko Huda S
Antasari Azhar & pengacara Hotma Sitompul (Antara/ Prasetyo Utomo)

VIVAnews – Antasari Azhar, terdakwa pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen membacakan duplik. Di bagian akhir, Antasari berkisah tentang seorang pengembara.

“Kisah tentang seorang pengembara. Hal ini saya rangkum dari renungan dalam dzikir di Blok A nomor 10 tahanan narkoba,” kata Antasari yang juga mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 5 Februari 2010.  ( mengapa sel tahanan kasus pembunuhan = sel tahanan  kasus narkoba?)

Antasari mulai bercerita. Suatu ketika ada seorang pengembara dikejar Harimau yang kelaparan. Si pengembara itu lari ke sebuah sumur untuk menghindari kejaran.

“Ternyata di dalam sumur terdapat seekor ular,” cerita Antasari. Dia melanjutkan cerita. Si pengembara tadi masuk ke dalam sumur dan hanya bergantungan pada sebuah akar pohon.

Melihat si pengembara tergantung pada sumur dengan memegang akar pohon, sang ular mencoba mengiggit kaki pengembara yang jaraknya hanya sejengkal.

“Ketika melihat ke atas, Harimau itu siap menerkam dengan jarak satu jengkal, antara kepala Harimau dengan si pengembara,” lanjut dia.

Kaki Harimau lapar itu ternyata tersangukut pohon. Karena goyangan kaki Harimau, pohon itu tumbang. Pada pohon itu ternyata terdapat satu sarang lebah, yang juga ikut terjatuh.

“Madu dari sarang lebah itu menetes ke pengembara. Harimau itu terjatuh dalam sumur bersama ular. Dan, keduanya mati bersama-sama,” cerita Antasari yang mengibaratkan dirinya sebagai seorang pengembara.

Akibat madu yang menetes di atas mulut si pengembara, akhirnya dahaga haus pun hilang. “Hikmah yang dapat diperoleh, ketika suasana genting yang dihadapi dengan penuh kesabaran maka percayalah mukzizat Tuhan akan datang,” Antasari menutup dupliknya.


ismoko.widjaya@vivanews.com

8. Pengacara Antasari: Rani Tak Bisa Dipercaya
Assegaf tetap beranggapan bahwa ada rekayasa dalam kasus yang menjerat kliennya.
Kamis, 4 Februari 2010, 21:09 WIB
Antique, Fadila Fikriani Armadita
(Antara/ Ismar Patrizki)

VIVAnews – Penasehat hukum Antasari Azhar, M Assegaf tetap mempermasalahkan Rhani Juliani karena diduga memberikan keterangan tak benar. Hal tersebut akan disampaikan tim penasehat hukum Antasari yang rencananya akan dibacakan besok.

“Dia (Rhani), dijadikan jaksa sebagai salah satu saksi, padahal keterangan dia tidak dapat dipercaya,” kata Assegaf, yang ditemui di sela persidangan Uji Materi UU no 1 PNPS tahun 1965.

Assegaf tetap beranggapan bahwa ada rekayasa dalam kasus yang menjerat mantan Direktur Penuntutan Kejaksaan Agung ini. Rekayasa dimaksud Assegaf adalah pertemuan Rhani dan Antasari di kamar 803 hotel Grand Mahakam. “Saat itu, Rhani diantar suaminya dan dia menemui Antasari,” ujar dia, Kamis 4 Februari 2010.

Menariknya, kata Assegaf, Nasrudin meminta Rhani menyalakan telepon genggamnya selama berbincang dengan Antasari.

Rekayasa lain, dia menambahkan, adalah pertemuan di rumah Sigid Haryo Wibisono di Patiunus. Dalam pertemuan tersebut, Sigid secara diam-diam merekam pembicaraan. Assegaf yakin, pasti ada tujuan tertentu mengapa Sigit merekam pembicaraan tersebut.

“Itu rekayasa yang coba dibangun oleh kekuatan yang tidak jelas sampai sekarang,” tambah assegaf yang hadir di Mahkamah Konstitusi sebagai pihak dari MUI.

Versi pengacara, kata Assegaf, Nasrudin adalah anak wayang yang bermain dengan memanfaatkan istri sirinya, Rhani Juliani. “Teori intelejen orang yang sudah tidak terpakai lagi akan bahaya, cara menghilangkannya yakni dibunuh,” tutur dia.

Lebih lanjut, Assegaf mengatakan majelis hakim harus jeli dalam melihat fakta persidangan.”Apa alasan dua peristiwa tersebut direkam,” ujarnya. Terlebih lagi, kedua rekaman tersebut diajukan jaksa sebagai bukti di persidangan.

Namun, dirinya enggan memperinci lagi terkait duplik yang akan dibacakan besok di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. “Soal substansi repliknya besok, nggak tebal kok,” ujar Assegaf.

Pekan lalu, Antasari Azhar dan kuasa hukumnya secara bergantian membacakan pleidoi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam persidangan tersebut, Antasari membacakan pleidoi yang diberi judul Imajinasi Penuntut Umum Berujung pada Tuntutan Mati.

Sementara itu, penasehat hukum membacakan pembelaan setebal 600 halaman dengan judul Menebar Dongeng dengan Fitnah: Membongkar Konspirasi Menjatuhkan Ketua KPK.

antique.putra@vivanews.com



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s