Si Mungil Yang Lucu


08/02/2010 – 00:58
<!– reset –>
1. Bayi-bayi yang Dipelihara Negara (1)
Irvan Ali Fauzi
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta- Bayi merah itu menggeliat di atas ranjang kecil. Tangisnya pecah. Seorang perempuan dan dan menggendongnya. Susu botol diberikan. Bayi itu adalah anak negara.

Ya, perempuan itu bukan ibu atau pun saudaranya. Perempuan adalah seorang pengasuh di PSAA Balita Tunas Bangsa di Cipayung, Jakarta Timur. Di situ, anak-anak negara diasuh.

Anak negara, ialah anak-anak yang ditelantarkan. Apakah oleh orangtuanya atau oleh masyarakat.

 

Di panti itu terdapat 71 orang balita, mulai bayi yang masih merah hingga usia 6 tahun menjelang masuk Sekolah Dasar. Mereka adalah anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtua kandungnya.

Anak-anak itu, diterlantarkan sesaat setelah dilahirkan. Bayi yang tak berdosa itu harus menghadapi dunia sendirian. Karena itu, mereka diselamatkan dan dipelihara oleh panti.

Kepala Panti, Susana Budi Susilowati mengatakan, kebanyakan anak-anak yang diasuh di panti itu, adalah mereka yang ditelantarkan di rumah sakit sesaat mereka dilahirkan. Bayi-bayi itu ditinggalkan begitu saja oleh orangtuanya.

Misalnya Ferdi. Bayi itu baru berusia satu bulan saat ditinggalkan oleh ayah-ibunya di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Jakarta. Bayi itu sendirian, tanpa orangtua, dan bahkan belum diberi nama.

“Bisa saja itu bukan faktor kesengajaan, mungkin juga karena keterpaksaan. Orangtua mana yang tidak mencintai darah dagingnya sendiri?” ata Susana kepada INILAH.COM di ruangan kantornya.

Sesaat, ada tiga bocah usia TK yang baru saja pulang dari sekolah. Ketiganya datang menghampiri Susana dan mencium tangannya.

Setelah itu, anak-anak itu pergi ke taman bermain. Mereka bergabung bersama teman-temannya bermain ayunan dan loncat-loncatan. Mereka diawasi dua pengasuh.

Sama, ketiga bocah itu adalah anak-anak negara. Mereka tidak tahu siapa orangtuanya, setelah hampir enam tahun dirawat di panti itu. Bagi mereka, para pengasuh di panti itu adalah orangtuanya.[bersambung/ims]

08/02/2010 – 01:15
<!– reset –>
2. Bayi-bayi yang Dipelihara Negara (2)
Irvan Ali Fauzi
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Seorang pengasuh bercerita, dia senang bekerja sebagai pengasuh anak-anak yang dipelihara oleh negara itu. Dunia anak-anak sangat menyenangkan, meski harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tak tahu siapa orangtuanya.

“Rewel itu biasa, mas. Namanya juga anak-anak. Hingga usia lima bulan mereka tidak akan rewel jika tidak lapar atau buang air,” kata Yanti yang mengaku sudah bekerja sebagai pengasuh selama 5 tahun.

Panti ini rapi dan penuh keceriaan anak-anak. Tembok dan perabotan dicat berwarna-warni. Fasilitas di panti ini memang memadai untuk perawatan balita, ditunjang dengan pengasuh yang bekerja 24 jam secara bergantian.

Namun sebaik apapun kondisi panti itu, seorang anak tetap dianjurkan untuk dikembalikan kepada orang tuanya. “Meski di sini baik, namun kami lebih menyarankan agar anak-anak itui bisa dididik dalam sebuah keluarga utuh,” kata Kepala Panti, Susana Budi.

Karena itu, prioritas ertama dari panti itu adalah berusaha terus mencari dan melakukan pemanggilan kepada orangtua anak yang terlantar itu melalu media cetak.

Kedua, jika usaha pertama gagal, maka anak akan dicarika orang tua asuh yang bersedia mengadopsinya.

Ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh keluarga yang ingin mengadopsi

anak dari panti ini. Yaitu, mereka adalah pasangan suami istri yang sudah menikah lebih dari lima tahun dan memiliki pendapatan tetap yang dibuktikan dengan slip gaji.

Selanjutnya hak adopsi itu akan disahkan di pengadilan dan dicatat di Kantor Catatan Sipil.

Jika anak-anak itu beruntung, mereka akan menjadi anak angkat dalam sebuah

keluarga. Sebaliknya jika tidak beruntung, bisa saja mereka tumbuh besar

dari panti ke panti. Artinya, negara hanya memelihara kehidupan mereka masa kini, soal masa depan, masih tanda tanya.[bersambung/ims]

08/02/2010 – 01:43
<!– reset –>
3. Bayi-bayi yang Dipelihara Negara (3)
Irvan Ali Fauzi
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Di panti itu, cerita tentang orangtua yang menelantarkan anaknya bukanlah hal baru. Kasus terakhir adalah kisah ibu yang menelantarkan tiga anaknya yang masih balita selama 5 hari tanpa makanan.

Di antara banyak kasus penelantaran anak, yang paling sering adalah penelantaran di ruma sakit. Biasanya, setelah anak itu dilahirkan, sang ibu meninggalkan bayinya begitu saja di rumah sakit.

Susana Budi Susilowati, Kepala PSAA Balita Tunas Bangsa itu mengatakan, alasan orangtua meninggalkan anaknya seperti itu sering dikarenakan desakan masalah ekonomi.

“Mereka tidak mampu untuk membayar biaya persalinan, dan si ibu biasanya juga diterlantarkan lebih dulu oleh lelaki atau ayah si bayi itu,” ujar Susana di kantornya.

Menurut Susana, selain desakan ekonomi, penelantaran anak bisa terjadi karena rasa malu orangtuanya. Malu karena biasanya mereka hamil di luar nikah atau malu melahirkan anak cacat.

Beberapa anak asuh Susana adalah anak cacat yang diterlantarkan orangtuanya. Namun, jika memang kecacatan itu parah, maka anak tesebut akan dirujuk ke Panti Sayap Ibu yang khusus menangani anak cacat.

Misalnya Samil, bayi yang lahir kekurangan gizi diterlantarkan oleh orangtuanya di Rumah Sakit Fatmawati. Kini di usianya yang menginjak sembilan bulan, Samil sudah berangsur sehat dan menampakkan kemajuan. Dia pun sudah dipesan sebuah keluarga untuk diadopsi.

Di raung pengasuhan, Samil beserta bayi-bayi lainnya mendapat perawatan yang baik dan dijaga oleh para pengasuh selam 24 jam secara bergantian. Bayi-bayi di atas lima bulan memang butuh diperhatikan, karena mereka sudah belajar berinteraksi.

Saat INILAH.COM berkunjung, anak-anak itu sedang bermain, dan menjelang

tengah hari anak-anak itu dijadwalkan untuk tidur siang. Mereka hanya boleh berada dalam kamar dan ditemani para pengasuhnya.

Sementara anak-anak yang lebih besar, diajari mengaji dan di ajak ke masjid untuk solat berjamaah.

Kehidupan di panti itu masih lebih baik untuk anak-anak yang diterlantarkan itu. Jika dibanding dengan balita-balita yang menggelandang di jalanan.

Para penghuni panti ini bisa dibilang lebih beruntung. Banyak balita yang digendong di jalanan dimanfaatkan untuk memancing iba para dermawan.

Untung jika si anak yang tak berdosa itu ada yang merawat. Sesusai dengan

amanat konstitusi, negaralah yang berkewajiban memelihara.

PSAA Balita Tunas Bangsa adalah salah satu panti yang menampun anak-anak terlantar. Dari bayi yang masih merah hingga anak siap masuk SD.[habis/ims]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s