” Bertemu Tuhan Melalui Seks”


Dugaan Pelecehan Seksual Anand Krishna
A. Kasus Tara dianggap realisasi tujuan yang diinginkan Anand Krishna. Maksudnya?
Senin, 15 Februari 2010, 10:26 WIB
Elin Yunita Kristanti, Anda Nurlaila
Tara Pradipta Laksmi (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews – Kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa Tara Pradipta Laksmi (19) dan Sumidah menuai simpati dari mantan murid Anand Krishna.

Salah satunya Titi, yang mengaku menjadi pengikut Anand sejak 1998 hingga 2003. Kepada VIVAnews, Titi mengatakan kasus yang menimpa Tara adalah realisasi dari keinginan ajaran Anand yang disampaikan berulang-ulang sejak dulu. Maksudnya?

Diceritakan Titi, sejak dulu para murid diperkenalkan dengan agama dari India, dengan Tuhannya, Krishna.

“Kami dikenalkan dengan tokoh karismatik Krishna yang dikagumi banyak wanita — yang disebut gopi-gopi. Jumlah gopi  sebanyak 156, umumnya wanita yang sudah mempunyai suami. Diantara gopi-gopi, ada satu gopi setia yang akhirnya dipilih mendampingi Krishna bernama Radha,” kata Titi  di sebuah rumah di kawasan Cipete, Minggu 14 Februari 2010.

Anand Krishna, lanjut Titi mengidentikkan diri dengan Krishna. ” Waktu itu ada tujuh pasangan yang diberi pelajaran khusus soal itu.  Persisnya seperti apa yang mereka terima, saya tidak tahu karena saya sudah tua. Jadi tidak dipilih,” kata dia, lalu tertawa.

Anand juga memperkenalkan ajaran jika  mau merasakan hubungan dengan tuhan harus lewat seks. “Kalau wanita, harus dilakukan dengan guru. Sedangkan kalau pria, dia melakukannya dengan wanita yang dikenalkan guru,” tambah dia.

Titi mengaku keluar dari ajaran Anand karena pada 2003. Saat itu di salah satu kelas Jumat, Anand Krishna menyebutkan bahwa ada satu orang murid yang telah belajar selama lima tahun tetapi belum juga meninggalkan agamanya. “Saya merasa orang yang disebut Anand adalah saya. Karena saya tidak pernah meninggalkan salat,” kata Titi.

Lalu, dia pun memutuskan keluar. “Saya merasa terlalu jauh mengikuti ajaran yang sesat,” kata dia, lalu terdiam.

Melihat kasus Tara, Titi melihat ini adalah realisasi tujuan yang diinginkan Anand Krishna.

“Bagi saya ini adalah realisasi tujuan yang diinginkan Anand Krishna. Dia mengatakan pertemuan dengan Tuhan terjadi dengan melakukan seks,” kata dia.

Titi berharap masyarakat memperhatikan kasus yang menimpa Tara, dan juga Sum.

“Saya pikir, kita tidak perlu menunggu sampai ada kejadian buruk. Sekarang ada seseorang yang berani membuka perlakukan yang dia terima dan mempertaruhkan nama baiknya,” kata Titi.

“Apa kita harus menunggu jembatan ambruk baru bertindak, sementara kita sudah melihat jembatan itu sudah rusak,” lanjut Titi.

Titi berharap tak muncul korban-korban lain seperti Tara. “Kalau secara guyon, saya bisa bilang, orangtua kalau tersesat tahu jalan pulang. Tapi anak-anak kalau tersesat tidak akan mudah kembali pulang. Ini bukan sekedar fitnah,” tutur dia.

Anand Krishna dilaporkan ke Komisi Nasional Perempuan oleh para mantan muridnya. Upaya hukum juga akan ditempuh.

Sebelumnya, Anand Krishna membantah tuduhan para pelapor.

“Dan tuduhan-tuduhan itu semua tidak benar. Jadi kita sedang mempelajari, dan kita sudah membantah semuanya itu,” kata Anand di tempat khusus latihan yoga, Yogabarn, Desa Masa, Ubud, Gianyar, Bali.

Anand Krishna

Dugaan Pelecehan Anand Krishna

B. Tara:Anand Krishna Dekati Saya Lewat Facebook

Tara muncul ke publik dan mengabarkan kasus dugaan pelecehan seksual yang dia alami.
Senin, 15 Februari 2010, 07:44 WIB
Karaniya Dharmasaputra, Anda Nurlaila, Maryadie
Tara Pradipta Laksmi (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
Wawancara Khusus Tara Pradipta Laksmi

VIVAnews – Tokoh spiritual Anand Krishna, tiba-tiba menjadi buah bibir. Dia dilaporkan oleh para mantan muridnya ke Komisi Nasional (Komnas) Perempuan pada Jumat 12 Februari 2010, atas dugaan pelecehan seksual. Salah satu pelapor adalah Tara Pradipta Laksmi, gadis yang baru berusia 19 tahun.

Mengenakan gaun putih, Tara nampak tegar ketika ditemui di sebuah rumah di kawasan Cipete, Minggu 14 Februari 2010.

Namun, ketegarannya luruh ketika menceritakan kronologi kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan mantan guru spiritualnya itu. Gadis berkacamata itu tak kuasa menahan tangis. “Saya trauma,” kata dia, sambil mengelap air mata dengan tisu.

Meski sakit hati, Tara memutuskan untuk tampil ke publik dan menceritakan pengalamannya. Alasannya, dia tak ingin ada korban lainnya. “Saya bayangkan hal yang lebih buruk bisa menimpa orang lain.”

“Kalau niat memperburuk nama orang lain, saya tidak akan memberikan pengakuan yang mempertaruhkan nama baik saya,” tambah Tara, sambil bercucuran air mata.

Berikut petikan penuturan Tara kepada VIVAnews tentang kronologi kasus, tentang trauma yang dia rasakan, dan harapannya di masa depan.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung dengan perguruan Anand Krishna?

Saya mengetahuinya dari keluarga. Secara resmi saya mulai bergabung sejak Juli 2008. Saat itu ada retreat untuk anak muda. Saya menjadi koordinator untuk wilayah Jakarta. Awalnya saya lihat programnya oke-oke saja.

Apa yang Anda cari di sana?

Tempatnya berbeda dengan yang lain. Ada meditasi, kami diajarkan bisa mengontrol stres dengan stress management.

Kapan tepatnya Anda sadar ada yang tidak beres dalam perguruan ini?

Saya mulai sadar–bahwa saya telah dicuci otak–pada akhir 2008. Saya awalnya aktif di grup muda-mudi. Semuanya diperlakukan biasa saja, sama saja. Setelah itu ada perlakuan khusus.

Maksudnya?

Anand Krishna mulai mendekati saya, awalnya  lewat Facebook dengan menulis pesan di inbox dan wall saya. Saat itu, saya merasa spesial karena tidak semua orang mendapat perhatian seperti itu.

Saya mulai dekat dengan mereka [lingkaran dalam Anand Krishna] dan sering diminta lebih intens menginap di padepokan di Ciawi. Saya juga mulai mendapat hadiah-hadiah kecil seperti patung, gelang dan kristal.

Saya tiba-tiba merasa sangat jatuh cinta kepada Anand Krishna, seperti perempuan terhadap laki-laki. Bersamaan dengan itu ada pelajaran bakti kepada guru. Dan juga kisah Mirabai dengan tokoh yang ditonjolkan adalah Krishna [Dewa Hindhu]. Di dalamnya juga ada cerita-cerita mengenai Krishna dengan gopi-gopinya [perempuan-perempuan yang mengelilinginya]. Saat itu saya merasa menjadi gopi dan dia [Anand] sebagai Krishna.

Selanjutnya apa yang terjadi?

Sekitar Maret 2009 saya semakin mengiyakan apa yang mereka minta. Saya disuruh untuk keluar dari kampus. Awalnya saya tidak mau karena memang saya menyukai kuliah saya (di bidang desain). Tapi lama-kelamaan saya makin menuruti apa yang mereka katakan hingga melawan orang tua saya.

Saya makin dekat dan diperbolehkan masuk ke kamar Anand Krishna di Layurvedha (Kawasan Fatmawati). Pertama-tama saya dibawa ke kamarnya di lantai tiga di rumah terapi dan spa Layurvedha dengan asistennya. Saya disuruh, setelah ke kampus, sering-sering datang ke sana. Lama-lama saya sendirian masuk ke kamar Anand Krishna.

Dari situ Anand Krishna mulai memegang-megang saya. Mulai dari memegang tangan saya, mencium kening, meraba-raba bagian tubuh atas. Dia melakukannya di luar program ritual.

Saya sadar waktu dia melakukan perbuatan itu kepada saya. Hati saya menolak tapi fisik saya tidak bisa melawan. Sama halnya ketika saya melawan orangtua saya.

Melawan orang tua?

Ya. Puncaknya terjadi pada tanggal 14 Juni 2009. Saya merasa sudah saatnya keluar dari rumah dan saya memaksa keluar dari rumah. Saat itu saya tidak ingat apa yang saya ucapkan dan saya lakukan.

Menurut Anand Krishna, saya sudah dewasa (waktu itu berumur 18 tahun) dan berhak atas nasib saya sendiri.

Tetapi keluarga tidak setuju dan menahan saya. Lalu saya menelepon pihak Anand Krishna, lalu ada 40 orang yang datang ke rumah saya dari kelompok Anand Krishna. Enam orang diantaranya masuk ke dalam rumah dipimpin MS dan YN. Sedangkan yang lain menunggu di luar. Setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya saya pindah di kos dekat kampus.

Setelah peristiwa itu apa yang terjadi?

Setelah insiden itu, orang tua saya curiga. Anand Krishna dan MS sering sekali mengirim SMS dan menelepon saya. Bahasa-bahasa yang digunakan [Anand Krishna] I love you, you are my angel, seperti itulah. Saya panggil Anand Krishna Bapak, dia panggil saya Tara, kadang-kadang Angel. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada saya, orang tua lantas mencari informasi dan mendapati kabar bahwa ada praktek seks di sana.

Berapa lama Anda mengalami pelecehan seksual?

Kejadiannya Februari sampai Juni 2009. April-Juni 2009 adalah saat yang paling parah

Setahu Anda ada korban pelecehan seksual yang lain?

Sejauh yang saya ketahui belum ada yang seperti saya.

Pernah bicara antar teman di perguruan?

Muda-mudi seperti kami belajar bakti, salah satunya adalah bakti ke guru. Guru lebih penting dari siapapun. Di antara murid-murid sendiri nggak boleh gosip. Curhatpun dengan orang tertentu, seperti pada MS dan LN.

Kapan Anda sadar telah dilecehkan?

Setelah  14 Juni, keluarga dan pengacara mengambil saya dari kos-kosan. Keluarga menghalangi saya dari mereka dan membatasi. Lalu, saya dihipnoterapi psikolog.

Ketika sadar, sekitar September, awalnya saya syok [karena telah dilecehkan], sulit membuka diri. Keluar rumah lihat kanan kiri, memastikan diri aman dari kelompok Anand Krishna.

Mengapa Anda berani muncul ke publik dan menceritakan pelecehan seksual yang Anda alami?

Saya nggak mau ada yang jadi korban seperti saya, merasakan seperti apa yang saya rasakan. Saya sangat trauma.

Pihak Anand Krishna membantah pernyataan Anda.

Saya tahu resiko saya dengan melaporkan. Saya bayangkan hal yang lebih buruk bisa menimpa orang. Apalagi sekarang mereka sedang merekrut remaja. Kalau niat membuat namanya buruk saya tidak akan memberikan pengakuan yang mempertaruhkan nama baik saya.

Bagaimana kalau Anand Krishna menggugat balik Anda atas dugaan pencemaran nama baik?

Saya siap.

Setelah Anda melaporkan ke Komnas perempuan, ada komunikasi dari Anand Krishna?

Sampai sekarang nggak ada. Dari akun Facebook yang aku buka kemarin, belum ada sama sekali yang kirim pesan.

Harapannya dari kasus ini?

Mereka stop melakukan hal ini. Jangan lagi ada korban. Mama [Ibu Tara] menelepon para orang tua yang anaknya di sana, meminta mereka berhati-hati. Tapi, mereka tidak mempercayainya.

Setelah masalah ini selesai, apa yang ingin Tara lakukan?

Saya ingin kembali kuliah.

Dugaan Pelecehan Seksual
C. Anand Krishna Kenal Si Pelapor
Sum itu bukan pekerja yayasan dan bukan asisten dirinya.
Minggu, 14 Februari 2010, 13:13 WIB
Ismoko Widjaya
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Anand Krishna, pendiri yayasan pusat meditasi dan holistik Anand Ashram membantah tuduhan pelecehan seksual. Anand mengakui mengenal si pelapor.

“Oh ya, saya kenal karena begini. Itu juga saya baru tahu dari media,” kata Anand Krishna di tempat latihan yoga, Yogabarn, Desa Masa, Ubud, Bali, kepada VIVAnews dan dua televisi swasta, semalam.

Pada Jumat 12 Februari 2010 kemarin, tujuh orang yang mengaku murid Anand Krishna melapor ke Komnas Perempuan. Mereka mengaku mendapat perlakuan tidak wajar dari sang guru, salah satunya adalah berinisial Sum.

“Pelapor itu kerja sama ibu Maya (Maya Safira Muchtar. Direktur Anand Ashram). Dia (Sum) itu bukan sama saya loh,” kata mantan Marketing Director sSainath Group of Companies ini.

Jadi, kata Anand, Sum itu bukan pekerja yayasan dan bukan asisten dirinya. “Asisten saya adalah satu-satunya ibu Lini,” kata pria yang menempuh pendidikan dasarnya di Lucknow, India Utara, ini.

Anand melanjutkan, satu-satunya yang membantu dirinya dalam organisasi adalah Maya Safira Muchtar. Khusus di Bali, ada dr Wayan Sayoga dan beberapa teman lain yang menjadi pembantu Anand.

“Jadi bukan. Saya tidak pernah mengangkat seorang asisten selama 10–15 tahun terakhir,” ujar Anand yang membantah bahwa Sum adalah asistennya.

Sebelumnya, Direktur Anand Ashram Maya Safira Muchtar juga membantah Sum adalah asisten Anand. Sum, kata Maya, adalah terapis di L’Ayurveda, Centre for Inner Beauty & Holistic Care selama lebih dari empat tahun.

“Sum memang sering memberikan terapis kepada Pak Anand, dan semua juga kerap menggunakan jasanya,” kata Maya di Anand Krisna Center di Jalan Pura Mertasari, Kuta, Sabtu, 13 Februari 2010.

Laporan: Dewi Umaryati l Bali

ismoko.widjaya@vivanews.com

Dugaan Pelecehan Seksual
D. Anand Krishna: Ada yang Tidak Senang
Jadi, tuduhan itu sama sekali tidak ada dasarnya.
Minggu, 14 Februari 2010, 12:23 WIB
Ismoko Widjaya
Anand Krishna (www.anandkrishna.org)

VIVAnews – Tokoh spiritual Anand Krishna sudah membantah tuduhan dugaan pelecehan seksual mantan muridnya. Anand tidak pernah mengadakan ajaran secara private. Paling minim pesertanya adalah 30 orang.

“Tidak pernah saya memberikan ajaran secara private. Secara umum saya punya public meeting, minimal 30–40 orang. Kadang-kadang seratusan orang lebih,” kata Anand Krishna di tempat latihan yoga, Yogabarn, Desa Masa, Ubud, Bali, kepada VIVAnews dan dua televisi swasta, semalam.

Menurut pria yang sembuh dari Leukemia stadium lanjut ini, tidak pernah dirinya menangani seseorang secara langsung. Jadi, tuduhan itu sama sekali tidak ada dasarnya.

“Tidak pernah, sudah 5–6 tahun saya tidak pernah tangani orang secara langsung,” kata tokoh yang pernah menjadi CEO pada D’jar Inc ini.

Anand kembali mempertegas, bahwa segala macam persoalan itu bisa diselesaikan dengan cara cinta kasih. Jadi, kata dia, love the only solutions. Solusi satu-satunya adalah cinta kasih.

“Barang kali ada salah paham, ada orang tidak merasa senang atau apa dan semua masalah itu bisa diselesaikan dengan cinta kasih, dengan silaturahim, dengan kebersamaan,” ujar pria yang pernah memimpin 10 organisasi ini.

Pada Jumat 12 Februari 2010 kemarin, tujuh orang yang mengaku murid Anand Krishna melapor ke Komnas Perempuan. Mereka mengaku mendapat perlakuan tidak wajar dari sang guru.

Anand dituduh sering merayu dan memuji serta mulai berani memeluk, membelai dan mencium. Bahkan belakangan gurunya itu sering meraba tubuhnya.

Menurut pengacara pelapor yang mendampingi, Agung Mattauch, pelecehan ini dilakukan Anand Krishna di padepokannya di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Fatmawati, Jakarta Selatan dan Bogor, Jawa Barat.

Laporan: Dewi Umaryati l Bali

ismoko.widjaya@vivanews.com

Dugaan Pelecehan Seksual
E. Anand Krishna: Semua Tuduhan Itu Tidak Benar
“Saya tidak punya murid. Saya tidak pernah memberikan inisiasi atau apa,” kata Anand.
Minggu, 14 Februari 2010, 11:45 WIB
Ismoko Widjaya
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Tokoh spiritual Anand Krishna akhirnya angkat bicara. Pria keturunan India kelahiran Solo, Jawa Tengah-Indonesia, pada 1 September 1956 itu membantah tuduhan dugaan pelecehan seksual mantan muridnya.

“Saya tidak punya murid. Saya tidak pernah memberikan inisiasi atau apa. Jadi tidak pernah ada murid,” kata Anand Krishna di tempat khusus latihan yoga, Yogabarn, Desa Masa, Ubud, Gianyar, Bali, kepada VIVAnews dan dua televisi swasta, semalam.

Menurut pria yang pernah memperoleh gelar MBA dari Pacific Southern University di Amerika Serikat ini, banyak orang yang menganggap dirinya sebagai guru. Dan itu dinilai Anand sebagai kebebasan mereka.

“Dan tuduhan-tuduhan itu semua tidak benar. Jadi kita sedang mempelajari, dan kita sudah membantah semuanya itu,” kata Anand di sela puluhan warga asing yang sedang berlatih yoga ini.

Apakah berarti si pelapor telah berbohong? “Saya tidak bisa mengatakan itu. Saya mengatakan bahwa selalu pasti ada orang-orang tidak senang dengan saya, dan kembali saya mengatakan saya juga bukan dewa,” ujar Anand.

Mungkin saja, kata Anand, dirinya pernah tanpa sengaja berbuat sesuatu yang menyakiti, mengatakan sesuatu menyakiti hati, atau sejenisnya.

“Dan kembali saya katakan, satu-satunya solusi adalah cinta. Dengan cinta kita bisa selesaikan berbagai macam persoalan. Saya berikan advice pada Palestina dan Israel juga (sambil tertawa),” kata pendiri yayasan pusat meditasi dan holistik Anand Ashram ini.

Pada Jumat 12 Februari 2010 kemarin, tujuh orang yang mengaku murid Anand Krishna melapor ke Komnas Perempuan. Mereka mengaku mendapat perlakuan tidak wajar dari sang guru.

Anand dituduh sering merayu dan memuji serta mulai berani memeluk, membelai dan mencium. Bahkan belakangan gurunya itu sering meraba tubuhnya.

Menurut pengacara pelapor yang mendampingi, Agung Mattauch, pelecehan ini dilakukan Anand Krishna di padepokannya di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Fatmawati, Jakarta Selatan dan Bogor, Jawa Barat.

Laporan: Dewi Umaryati l Bali


ismoko.widjaya@vivanews.com

F. Facebook Anand Krishna Panen Dukungan
Pada akun Facebook Anand, para murid dan simpatisannya memuji dan menyatakan Love U.
Minggu, 14 Februari 2010, 06:35 WIB
Ismoko Widjaya
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Murid Guru Spiritual Anand Krishna tak percaya berita yang menyebut gurunya melakukan pelecehan. Mereka menilai hal itu adalah fitnah dan masih mendukung gurunya dalam status akun Facebook.

Pada akun Facebook Anand, para murid dan simpatisannya memuji dan menyatakan Love U. Mereka juga menyatakan berita bahwa gurunya melakukan perbuatan keji tidak masuk akal.

Debbie Sutopo misalnya mengatakan meditasi selalu dilakukan di ruangan terbuka dan diikuti puluhan hingga ratusan murid. Karena itu tidak masuk akal ada pelecehan.

Mereka juga menyayangkan media yang memuat berita yang mereka nilai fitnah itu. “Kalo mau publikasi yg adil, kok berita yg mengaku pelecehan seksual saja yg ditayangkan? bagaimana dg sekian ratus atau ribu orang yg berubah hidupnya menjadi lebih baik karena p’Anand?” ujarnya.

Apalagi selama ini Anand mengkampanyekan cinta dan budaya membawa nama baik bangsa Indonesia ke dunia internasional dengan biaya sendiri. Hal itu tidak pernah diliput dan ditayangkan.

Prabu Dennaga yang juga simpatisan Anand juga menyatakan hal yang sama. Dia menilai media terlihat tidak adil dan berpihak.

Misalnya saat acara kebangsaan di gelar dengan skala Nasional tak satu pun media meliput. “Ketika ada berita murahan yang ga masuk akal malah cendrung ke arah fitnah dgn cepat para wartawan mencari berita dan menayangkan,” ujarnya.

Laporan: Dian Widyanarko

ismoko.widjaya@vivanews.com

G. Reaksi Anand Khrisna Dituduh Lecehkan Wanita

Anand Khrisna akan menyelidiki tujuh wanita yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual.
Sabtu, 13 Februari 2010, 22:41 WIB
Pipiet Tri Noorastuti, Maryadie
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Anand Khrisna terkejut dengan tudingan pelecehan seksual yang dilayangkan kepadanya. Tokoh spiritual itu tak menyangka tujuh mantan muridnya tega melaporkannya ke Komisi Nasional Perempuan atas tuduhan pelecehan seksual.

Demikian disampaikan Juru Bicara Anand Khrisna, yang juga Ketua Yayasan Anand Ashram, Maya Safira Muchtar, dalam perbincangan dengan VIVAnews, Sabtu, 13 Februari 2010. “Bapak sangat kaget mendengar hal ini. Tapi dia tetap tenang. Bapak paham tidak bisa menyenangkan semua pihak,” ucap Maya.

Sejauh ini, meski merasa namanya dicemarkan, Anand belum berencana melakukan perlawanan ke jalur hukum. Anand juga belum berencana mengadakan pertemuan dengan para pelapor. Anand dan para pengikut setianya masih fokus untuk menyelidiki siapa saja yang melakukan pelaporan.

Sebab, dua pelapor yang sudah diketahui Anand yaitu Sum dan TR adalah dua mantan muridnya. Sum pernah bekerja selama empat tahun sebagai terapis di L’Ayurveda, Centre for Inner Beauty & Holistic Care, bagian dari Yayasan Anand Ashram.

Maya menduga para pelapor adalah mantan murid Anand Khrisna yang sakit hati. Ia mengisahkan bahwa Sum mungkin saja sakit hati karena pernah ditegur akibat melakukan indisipliner dalam bekerja. Namun, Maya enggan menjelaskan detail pelanggaran kerja itu. “Kami masih menyelidiki siapa saja yang lapor,” ujarnya.

Maya percaya Anand Ashram tidak melakukan hal-hal seperti yang dituduhkan. Baginya, Anand Khrisna adalah guru yang selalu mengajarkan kedamaian dan harmoni. “Profesi beliau kan selama ini memperjuangkan pluralisme dan ketidakbenaran. Jadi mungkin ada yang tidak senang. Ya ini risiko pekerjaan,” ujar Maya.

• VIVAnews
Dugaan Pelecehan Seksual Anand Krishna
H. Anand Ashram Masih Berjalan Normal
Anand Krishna belum bersedia memberi penjelasan langsung kepada media.
Sabtu, 13 Februari 2010, 15:11 WIB
Maryadie
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Kegiatan Anand Ashram yang berkaitan dengan meditasi maupun terapi tetap berjalan seperti biasa, meskipun ada mantan murid yang melaporkan Anand Krishna ke Komisi Nasional Perempuan telah melecehkannya secara seksual.

“Semuanya masih berjalan baik dan seperti biasa, seperti yang Anda lihat,” ungkap Direktur Anand Ashram Maya Safira Muchtar, Sabtu, 13 Februari 2010 saat menggelar jumpa pers di Anand Krisna Center, di Jalan Pura Mertasari, Kuta.

Dikatakan Maya, ini Anand Krishna tengah berada di sebuah acara di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali sehingga tidak bisa menemui awak media. Namun, Anand sudah mengetahui adanya pengaduan terhadap dirinya itu.

“Awalnya mendengar kasus ini muncul di media, Beliau antara percaya dan tidak. Pak Anand sempat kaget juga dengan laporan itu,” jelas Maya.

Meskipun tak sampai menghambat kegiatan, seperti ditambahkan fasilitator Anand Krishna Center, Wayan Sayoga, kasus ini tak pelak sempat menjadi bahan diskusi serius di antara mereka.

Lalu kapan Anand Krishna akan menjelaskan sendiri tentang kasus ini? Maya mengaku akan melihat perkembangan ke depan seperti apa. “Yang pasti, Pak Anand siap untuk memberikan pernyataan secara langsung. Saat ini, Beliau hanya bisa mendoakan saja semoga mereka menjadi yang lebih baik,” kata Maya.

Laporan: Dewi Umaryati | Bali

• VIVAnews
Dugaan Pelecehan Seks Anand Krishna
I. “Tak Pernah Ada Meditasi Privat”
“Kita semua di sini tak pernah melakukan private session”
Sabtu, 13 Februari 2010, 13:36 WIB
Maryadie
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Para korban mengaku aksi pelecehan seksual itu dilakukan tokoh spiritual Anand Krisna ketika sesi meditasi secara privat. Namun hal ini dibantah Direktur Anand Ashram Maya Safira Muchtar saat menggelar jumpa pers di Anand Krisna Center di Jalan Pura Mertasari, Kuta, Sabtu, 13 Februari 2010.

“Kita semua di sini tak pernah melakukan private session karena semua selalu dalam bentuk group session,” tegas Maya.

Sum, kata Maya, adalah terapis di L’Ayurveda, Centre for Inner Beauty & Holistic Care selama lebih dari empat tahun. “Sum memang sering memberikan terapis kepada Pak Anand, dan semua juga kerap menggunakan jasanya,” jelasnya.

Sementara TR adalah murid biasa yang bebas keluar masuk kapan dia mau. Tak hanya TR yang ikut dalam meditasi di Anand Ashram tapi juga ada ibu dan tantenya.

“Dia bukan murid atau pegawai di tempat ini (Anand Ashram) sehingga bisa kapan saja datang sesuka hatinya,” kata Maya.

Soal TR yang juga ikut melaporkan Anand Krisna atas tuduhan telah melecehkannya, justru membuat Maya menjadi heran. Menurut Maya, TR mengikuti program meditasi karena dia termasuk remaja yang penuh ketakutan. Setelah berlatih melakukan terapi di Anand Ashram, ia menjadi lebih berani dalam memberdayakan diri sendiri.

“Saya sendiri tidak tahu masalah apa yang dialami TR, namun itulah faktanya. Mungkin terjadi perubahan dalam dirinya di mana dia tidak berkenan, sehingga dia melakukan hal ini (ikut melapor),” kata Maya

Laporan: Dewi Umaryati/Bali

• VIVAnews
Pelecehan Seksual Tokoh Spriritual
J. Korban Dicuci Otak oleh Anand
Korban pun siap memberikan nyawanya jika diperintah sang guru.
Sabtu, 13 Februari 2010, 13:29 WIB
Antique, Zaky Al-Yamani
Anand Krishna and Maya Muchtar (Anand Khrisna and Maya Muchtar)

VIVAnews – Pelecehan seksual berulang-ulang yang dialami sejumlah mantan murid Anand Krishna diduga akibat mereka berada dalam pengaruh ajaran Anand.

“Jadi, korban dalam keadaan tercuci otaknya, sehingga mereka menuruti perintah Anand yang dianggap gurunya,” ujar Agung Mattauch, kuasa hukum korban TR saat dihubungi VIVAnews, Sabtu, 13 Februari 2010.

Agung mengakui, TR pernah bercerita saat berada dalam pengaruh ajaran Anand, dirinya siap memberikan nyawanya jika diperintah sang guru. “Disuruh mati pun, saya bersedia,” ujar Agung menirukan perkataan TR kala itu.

Tentunya, dia menambahkan, mereka pun menerima saja saat mengalami pelecehan seksual yang dilakukan gurunya, karena menganggap ini sebagai pengabdian kepada guru.

Namun, menurut Agung, untuk melaporkan peristiwa pelecehan seksual itu ke pihak kepolisian, pihaknya butuh bukti yang lengkap dan mencukupi. “Kami sedang mengumpulkan bukti-bukti tambahan. Untuk mengungkap masalah pelecehan seksual ini kan butuh waktu, karena beban psikologis yang dialami para korban serta keluarga korban yang menganggap peristiwa ini aib,” ujarnya.

Agung juga menduga, masih banyak korban pelecehan seksual yang dilakukan Anand. “Tujuh korban yang melapor ini, mereka semua adalah murid Anand yang sudah keluar. Saya kira, banyak korban-korban lain yang masih menjadi murid Anand,” tuturnya.

Atas pelecehan seksual ini, para korban kemarin telah melapor ke Komnas Perempuan. “Kami meminta kepada Komnas memberi rekomendasi agar peristiwa ini tidak terulang lagi,” ujar Agung.

antique.putra@vivanews.com

• VIVAnews
Dugaan Pelecehan Seksual Tokoh Spiritual
K. Anand Ashram: Sakit Hati Akibat Ditegur
Maya menduga kalau laporan itu karena sakit hati Sum yang ditegur karena indisipliner.
Sabtu, 13 Februari 2010, 13:25 WIB
Maryadie
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Direktur Anand Ashram, Maya Safira Muchtar mengaku kenal dengan dua korban yang melaporkan Anand Krishna ke Komisi Nasional Perlindungan Perempuan.

“Saya hanya kenal dua orang saja yaitu Sum dan TR, selebihnya (korban lain yang ikut melapor) saya nggak tahu,” jelas Maya saat menggelar jumpa pers di Anand Ashram Center di Jalan Pura Mertasari, Kuta, Sabtu, 13 Februari 2010.

Dikatakan Maya, Sum adalah seorang terapis yang bekerja di L’Ayurveda, Centre for Inner Beauty & Holistic Care selama empat tahun.

Maya menduga kalau laporan itu karena Sum sakit hati karena ditegur akibat telah melakukan indisipliner melanggar tata tertib dalam bekerja.

Saat didesak apakah pelanggaran itu dilakukan dalam bentuk kriminal atau lainnya, Maya enggan menjelaskan karena ini menyangkut rahasia perusahaan. “Maaf, saya tak bisa jelaskan karena ini data internal,” elak Maya.

Menurut Maya, seorang karyawan ditegur oleh atasannya karena melakukan kesalahan adalah hal yang biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Merasa tak nyaman dengan pekerjaannya, Sum akhirnya memilih untuk keluar. Namun ditegaskan oleh Maya kalau yang bersangkutan keluar dengan sendirinya. “Dia bukan dipecat karena kami tidak pernah memecat orang tapi dia sendiri yang memilih untuk keluar,” urai Maya.

Kemarin, tujuh perempuan mengadukan guru spiritual mereka, Anand Krishna, ke Komisi Nasional Perempuan atas tudingan pelecehan seksual. Rencananya, mereka juga akan melaporkan Anand  ke polisi.

Laporan : Dewi Umaryati | Bali

• VIVAnews
Dugaan Pelecehan Seksual Tokoh Spiritual
L. Pihak Anand Krishna: Ada Yang Sakit Hati
Hal-hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang memang tidak suka dan merasa sakit hati.
Sabtu, 13 Februari 2010, 12:33 WIB
Maryadie
Anand Krishna and Maya Muchtar (Anand Khrisna and Maya Muchtar)

VIVAnews – Pihak Anand Krishna yang diwakili Direktur Anand Ashram, Maya Safira Muchtar membantah keras adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan tokoh spiritual itu.

Seperti pemberitaan sebelumnya, tokoh yang juga seorang motivator ini dilaporkan mantan tujuh muridnya ke Komisi Nasional Perlindungan Perempuan karena telah melakukan pelecehan seksual.

“Laporan itu saya tegaskan tidak benar dan memang tidak pernah terjadi apapun antara Pak Anand dengan mereka,” sergah Maya saat menggelar jumpa pers di Anand Ashram Center di Jalan Pura Mertasari, Kuta, Sabtu, 13 Februari 2010.

Maya berpendapat bahwa hal-hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang memang tidak suka dan merasa sakit hati.

“Ini bukan kejadian pertama kali menimpa kami karena sebelumnya juga pernah terjadi seperti tuduhan menggelapkan uang dan kasus-kasus lain. Namun semuanya selesai begitu saja,” tegas dia.

Kemarin, tujuh perempuan mengadukan guru spiritual mereka, Anand Krishna, ke Komisi Nasional Perempuan atas tudingan pelecehan seksual. Rencananya, mereka juga akan melaporkan Anand  ke polisi.

“Kami akan laporkan. Tapi harus menunggu dulu,” kata Agung Mattauch, kuasa hukum tujuh korban tersebut. Pihaknya, kata dia, harus mengumpulkan barang bukti yang lengkap.

Laporan : Dewi Umaryati | Bali

Pelecehan Seksual Tokoh Spriritual
M. Tuduhan Kepada Anand Krishna Dinilai Fitnah
Tindakan senonoh kepada muridnya dianggap fitnah dan tidak bertanggung jawab.
Jum’at, 12 Februari 2010, 18:50 WIB
Eko Priliawito
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Tudingan miringan terhadap tokoh spiritual kelas dunia Anand Krishna, yang diduga melakukan tindakan tidak senonoh kepada muridnya dianggap fitnah dan tidak bertanggung jawab.

“Itu fitnah. Kami hanya berlatih yoga dan meditasi. Kita selalu bicara kebangsaan,” ujar Public Relation L’ayurveda, Paula Dewi, kepada VIVAnews melalui sambungan telepon, Jumat 12 Febuari 2010.

Paula yang baru saja tiba dari Palembang, saat berada di Bandara Soekarno-Hatta mengaku sangat kaget dengan berita ini. Tapi dirinya mengaku tenang menghadapi persoalan ini.

Sementara itu saat ditanyai apakah Anand Krishna sudah mengetahui tentang berita ini, Paula mengaku belum bertemu dengan Anand.

“Beliau ada di Bali, tapi saya rasa tahu. Tapi saya belum bisa menghubunginya,” ujar Paula lagi.

Paula menambahkan bahwa akan diadakan jumpa pers terkait persoalan ini. “Malam ini juga saya pergi ke Bali. Besok kita akan jelaskan semua melalui jumpa pers,” ujarnya menutup perbincangan dengan VIVAnews.

Seperti diketahui, tujuh murid tokoh spiritual Anand Krishna mengadu ke Komisi Nasional Perempuan. Mereka melaporkan dugaan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan Anand Krishna.

“Kami melaporkan penyimpangan yang dilakukan Anand Krishna. Salah satunya peyimpangan seksual. Sudah tujuh orang melapor pada kami,” ujar kuasa hukum pelapor, Agung Mattauch, Jumat 12 Febuari 2010, di Kantor Komnas Perempuan, Jakarta.

Tujuh korban adalah murid Anand Krishna dan salah satu korbannya adalah TR, yang merupakan mahasiswi di Jakarta. Dia mengaku mendapat perlakuan tidak wajar dari sang guru.

Gurunya itu sering merayu dan memuji serta mulai berani memeluk, membelai dan mencium. Bahkan belakangan gurunya itu sering meraba tubuhnya.

• VIVAnews

Pelecehan Seksual Tokoh Spriritual
N. Ada ‘I Love You’ di SMS Anand ke TR
“Saat anak saya mulai menentang. Saya sudah mulai curiga,” kata ibunda TR.
Jum’at, 12 Februari 2010, 18:06 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Mohammad Adam
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Tujuh perempuan melaporkan guru spritual mereka, Anand Khrisna ke Komisi Nasional  dengan dugaan pelecehan seksual. Orang tua salah satu korban mengaku curiga saat tabiat anaknya mulai berubah.

“Saat anak saya mulai menentang. Saya sudah mulai curiga,” kata ibunda TR, berinisial WNG, 49, di kantor Komnas Perempuan, Jumat 12 Februari 2010.

Pada awal 2009, kata dia, putrinya TR meminta izin untuk berhenti kuliah saja supaya bisa bekerja di yayasan milik Andand Khrisna. “Tapi bapaknya bilang, bisa kerja di Anand, setelah ada ijazah S1,” kata dia.

Bukannya mengerti, TR malah makin membangkang. Karena curiga, WNG kemudian memeriksa telepon genggam TR. “Ada banyak SMS (layanan pesan singkat) dari Anand yang isinya menurut saya tidak pantas diucapkan guru kepada murid,” kata dia.

Menurutnya, banyak SMS dari Anand kepada putrinya yang mencantumkan kata-kata kayaknya kekasih, seperti ‘i love you’ dan ‘you are my angel.’

WNG mengaku bahwa dia pun semula ada murid Anand. Tapi, selama menjadi murid, Anand tidak pernah memberikan nomor telepon genggamnya. “Tapi kok anak saya bisa?” kata dia.

Namun, kubu Anand membantah tuduhan dan mengatakan ini bukan yang pertama.

Seperti diketahui, tujuh murid tokoh spiritual Anand Krishna mengadu ke Komisi Nasional Perempuan. Mereka melaporkan dugaan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan Anand Krishna.

“Kami melaporkan penyimpangan yang dilakukan Anand Krishna. Salah satunya peyimpangan seksual. Sudah tujuh orang melapor pada kami,” ujar kuasa hukum pelapor, Agung Mattauch, Jumat 12 Febuari 2010, di Kantor Komnas Perempuan, Jakarta.

Tujuh korban adalah murid Anand Krishna dan salah satu korbannya adalah TR, yang merupakan mahasiswi di Jakarta. Dia mengaku mendapat perlakuan tidak wajar dari sang guru.

Gurunya itu sering merayu dan memuji serta mulai berani memeluk, membelai dan mencium. Bahkan belakangan gurunya itu sering meraba tubuhnya.


• VIVAnews
Pelecehan Seksual Tokoh Spriritual
O. Korban: Mulai dari Diraba Sampai Dicium
TR mengaku tidak sadar saat dilecehkan begitu. Dia bahkan menuruti untuk berhenti kuliah.
Jum’at, 12 Februari 2010, 17:12 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Mohammad Adam
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Tokoh spiritual Anand Krishna diadukan ke Komisi Nasional Perempuan oleh sejumlah muridnya. Salah satunya TR.

Gadis 19 tahun ini mengaku telah dilecehkan Anand Februari-Juni 2009. Saat itu, kata TR, dirinya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

“Diraba, dipegang tangan, di peluk, sampai di cium di kening,” kata TR di kantor Komnas Perempuan, Jumat 12 Februari 2010.

Dia mengaku tidak sadar saat dilecehkan begitu. Dia bahkan menuruti permintaan Anand untuk berhenti kuliah. “Jadi kayak dicuci otak. Aku disuruh berhenti kuliah dan disuruh kerja sama mereka,” kata dia.

Cuci otaknya, kata TR, berupa doktrin yang terus dikatakan bahwa anak yang sudah berusia 18 tahun harus sudah mandiri. “Orang tua sudah tidak punya hak lagi atas aku,” kata dia.

Dia bahkan merasa tidak betah di rumah dan akhirnya menyewa kamar atau kos.

TR bersama enam murid Anand lainnya mengadukan guru mereka itu ke Komnas Perempuan hari ini.

• VIVAnews
Dilaporkan ke Komnas Perempuan
Anand Krishna Diduga Lakukan Pelecehan Seks
P. Tujuh mahasiswi mengaku dapat perlakukan  ‘Khusus’ dari Anand Krishna.
Jum’at, 12 Februari 2010, 15:55 WIB
Eko Priliawito, Zaky Al-Yamani
Anand Khrisna (www.anandkhrisna.org)

VIVAnews – Tujuh murid tokoh spiritual Anand Krishna mengadu ke Komisi Nasional Perempuan, berdasarkan dugaan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan Anand Krishna.

“Kami melaporkan penyimpangan yang dilakukan Anand Krishna. Salah satunya peyimpangan seksual. Sudah tujuh orang melapor pada kami,” ujar kuasa hukum pelapor, Agung Mattauch, Jumat 12 Febuari 2010, di Kantor Komnas Perempuan, Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat.

Tujuh korban adalah murid Anand Krishna dan salah satu korbannya adalah TR, yang merupakan mahasiswi di Jakarta. Dia mengaku mendapat perlakuan tidak wajar dari sang guru.

Gurunya itu sering merayu dan memuji serta mulai berani memeluk, membelai dan mencium. Bahkan belakangan gurunya itu sering meraba tubuhnya.

Menurut Agung, pelecehan ini dilakukan Anand Krishna di padepokannya di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Fatmawati, Jakarta Selatan dan Bogor, Jawa Barat.

Anand diduga melakukan pencucian otak kepada para korbannya dengan ajaran-ajarannya. Sehingga korban menjadi pasrah dan mengikuti apapun kemauan dan permintaan sang guru.

Sementara pelapor lainnya yang berinisial TMD, juga mengalami hal yang sama seperti TR. Dia mau saja diminta memijat tubuh sang guru pada bagian yang sensitif pada malam hari.

“Setelah melakukan perintah yang diinginkan sang guru, para korban selalu menyadarinya. Tapi peristiwa ini terus saja terulang dan mereka menurut saja,” ujarnya.

Perlakuan senonoh sang guru juga dilakukan dengan menyentuh payudara para muridnya. Setelah melapor ke Komnas Perempuan, masalah ini akan langsung dilaporkan ke pihak kepolisian untuk proses hukum lanjutan.

• VIVAnews

3 thoughts on “” Bertemu Tuhan Melalui Seks”

  1. After looking into a handful of the articles on your web page,
    I seriously like your way of blogging. I book-marked it to my
    bookmark webpage list and will be checking back in the near future.

    Take a look at my website as well and let me know your opinion.

    Suka

  2. Thanks for your personal marvelous posting! I quite enjoyed reading it, you
    may be a great author. I will make certain to bookmark your blog and will often come back later on.
    I want to encourage that you continue your great
    posts, have a nice day!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s