Inilah Tips Membantu Berhenti Merokok


Berhenti Merokok
Rabu, 26 Mei 2010 | 15:22 WIB

Dok UPH

Kampanye Bebas Rokok, Bebas Narkoba di UPH. Tampak Irjen Bambang Abimanyu Sekretaris BNN, Jonathan L. Parapak Rektor UPH, Agung Laksono Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Veronica Colondam YCAB, Nita Yudhi MBA. Ketua WITT dan Prof Toho Cholik Mutohir MA., Ph.D, Ketua IFA


JAKARTA, KOMPAS.com — Selain motivasi dari diri sendiri, perokok yang mau berhenti juga membutuhkan dukungan lingkungan sekitarnya. Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa Rumah Sakit Persahabatan, dr Tribowo T Ginting, dalam kampanye bebas rokok bertema “Break Free” di Jakarta, Rabu (26/5/2010), setidaknya ada lima hal yang dapat dilakukan dalam mendukung perokok yang ingin berhenti.

1. Bersihkan rumah dari atribut-atribut rokok seperti bungkus rokok, asbak, dan korek. Lalu, ajaklah rekan-rekan sesama perokok untuk tidak merokok di depan perokok yang ingin berhenti.

2. Bersabarlah, khususnya dalam 1-2 minggu pertama. “Kemungkinan akan timbul perselisihan dengan perokok yang sedang berusaha berhenti,” kata dr Bowo.

3. Berikan banyak pujian dan penghargaan kepada yang hendak berhenti merokok. “Hargai keputusan mereka yang ingin berhenti, rayakan kalau dalam 1-2 minggu mereka berhasil,” tambah dr Bowo.

4. Sediakan waktu untuk mendengarkan curahan hati dan perasaan perokok yang berusaha berhenti.

5. Alihkan perhatian perokok dengan menyibukkan mereka seperti mengajak jalan-jalan atau melakukan aktivitas fisik seperti olahraga pada waktu-waktu biasanya dia merokok. “Permen dapat mengalihkan perhatian perokok saat dia enggak tau mau apa, dia makan permen,” tambah dokter spesialis jantung, dr Aulia Sani.

6. Yang terpenting, yakinkanlah perokok bahwa mereka mampu berhenti atau mengurangi kebiasaan mengonsumsi nikotin.

2. 8 Cara Kreatif Stop Kecanduan Rokok
Jumat, 15 Januari 2010 | 15:15 WIB

shutterstock

Ilustrasi

KOMPAS.com – Berhenti merokok bukan perkara mudah. Coba saja tanya pada mereka para pecandu. Yohanes Mellencamp, bintang rock berusia 58, adalah satu sosok yang merasakan betapa sulitnya melepaskan diri dari cengkaraman tembakau.

Ia pernah terkena serangan jantung pada 1994, tetapi masih tetap saja merokok. Putranya yang berusia 14 tahun, Speck, bahkan harus menggalang dukungan di situs jejaring sosial  Facebook bertajuk “1.000.000 dukungan buat Mellencamp untuk menghentikan kebiasaan merokoknya”.

Jika dukungan itu mencapai satu juta, Mellencamp berjanji akan melupakan rokok seumur hidupnya. Hingga Januari 2010, hampir 290.000 facebookers telah menyatakan dukungan dan suatu hari angka satu juta mungkin akan tercapai.

Anda tentu tak perlu menjadi bintang rock dulu untuk menemukan cara kreatif menghentikan rokok. Inilah beberapa cara kreatif berdasarkan pengalaman para eks-perokok  di Amerika Serikat yang berhasil mengakhiri kebiasaan buruknya :

1. Mengubur rokok
“Aku pernah membungkus beberapa pak rokok dalam sebuah tas plastik dan menguburnya di suatu pot bunga di belakang rumah. Ketika saya harus menggalinya lagi, peraslah rokok itu dan dan kubur lagi kemasan rokok itu setiap kali saya ingin merokok. Itulah pengalaman 18 -tahun yang lalu!” — Pat Owens, Valley Stream, NY.

2. Bertaruh demi hadiah
“Saya berhenti merokok pada Februari 2002. Teman saya bertaruh bahwa saya tak bisa meninggalkan rokok dan saya memerima taruhan itu. Taruhannya adalah saya harus puasa merokok selama bulan dan jika sanggup, saya ditraktir makan steak di  di Brooklyn. Kisah lucunya adalah, butuh waktu lama untuk mendapat traktiran itu,  bahkan sampai sembilan bulan!” —  Eric Katzman, Queens, NY.

3. Membayar denda
“Dua dari sahabat saya setuju  untuk berhenti merokok atau membayar orang lain 1.000 dollar jika mereka tidak bisa. Jujurlah, kompetitif, dan bangkrut, itu akan berhasil! Sejak saat itu, tak satu pun dari dua sahabat saya yang merokok,”  ungkap Mikropon P., Newport, RI.

4. Bunuh kecanduan
“Sepupuku sudah merokok selama 20 tahun. Dia berhenti dengan cara yang unik. Ia awalnya makan biskuit Milkbone  untuk anjing! Dia mengunyahnya untuk membunuh kecandan dan dia berhenti.” — Chris T., New York, NY.

5. Buat perjanjian

“Sebagai kompensasi atas mahalnya biaya menghentikan kebiasaan membeli rokok tiap hari, saya buat perjanjian dengan diri bahwa saya akan bebas kapan saja untuk membeli karcis lotere, tanpa merasa bersalah. Sejak saat itu, saya belum pernah merokok lagi selama 25 tahun lamanya, dan merasa nyaman untuk mengatakan saya tidak pernah akan melakukannya. Saya ingin katakan bahwa di antara salah satu karcis lotere itu berhadiah sejuta dolar, tetapi itu tidak pernah terjadi — paling tidak belum!” —Liz Rubin, Potomac Utara, Milidarcy.

6. Minum ramuan baking soda
“Saya membaca sebuah artikel di surat kabar mengutip seorang dokter yang ingin berhenti merokok. Campurlah sesendok makan baking soda dengan segelas air dan lalu minumanlah dua kali sehari untuk seminggu pertama. Lalu sekali sehari untuk seminggu kedua. Saya tadinya merokok satu pak atau sekitar 30 batang rokok sehari. Saya minum dua gelas pada hari Minggu dan Senin.  Rasayanya seperti Alka-Seltzer (semacam vitamin c). Pada Minggu dan Senin, saya mengisap dua batang rokok. Pada Selasa saya  hanya mengisap sebatang rokok dan lalu berhenti sama sekali. Saya teruskan ramuan baking soda itu sampai seminggu. Saya bahkan tak berpikir untuk meneruskannya hingga minggu kedua. Saya sudah berhenti rokok selama 20 tahun.” ­—Joanne Fanizza, Farmingdale, NY.

7. Menghipnotis diri sendiri
“Saya adalah psikolog di New Jersey. Pada 1976 lalu, saya sudah meraih gelar doktor, menjalani pelatihan hipnosis, dan mengisap sebungkus rokok setiap hari. Pada pesta Tahun Baru, seorang teman meminta saya menunjukkan ketrampilan hipnosis saya agar bisa membantunya berhenti merokok. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam, di mana dia dalam kondisi tak sadar. Sepekan kemudian, teman saya berbicara di telepon, dan dia sedang merokok. Di saat itu saya tersadar kalau saya tidak merokok selama minggu terakhir. Saya telah menghipnotis diri saya! Sekali dua kali keinginan merokok pernah muncul lagi, tapi sekarang  saya bahkan  tak pernah memiikirkannya lagi; Saya tak pernah lagi mengisap rokok lebih dari 30 tahun.” —Sheila Sidney Bender, PhD, Florham Park, NJ.

8. Mulailah dari yang kecil
” Saya buat perjanjian dengan diri saya, maka saya bisa berhenti. Saya tak bisa mengisap sebatang rokok seminggu jika langsung menghentikan kebiasaan merokok sebungkus. Musim panas lalu, saya hanya yang mengisap dua batang rokok dan selama musim gugur, saya tak merokok sama sekali. Saya kira, sudah selesai!” —Kevin Gerard Kilpatrick, San Diego,

<!–/ halaman berikutnya–>

KESEHATAN
3. Bahaya Rokok bagi Si Pasif…
Rabu, 26 Mei 2010 | 16:27 WIB

shutterstock


JAKARTA, KOMPAS.com — Risiko perokok pasif terserang kanker paru dan penyakit jantung bertambah 20-30 persen, menurut beberapa studi di Kanada pada tahun 2001.

Hal itu disampaikan dokter spesialis jantung, Aulia Sani, dalam kampanye “Break Free, Semangat Bebaskan Diri dari Jeratan Adiksi Nikotin” di Jakarta, Rabu (26/5/2010).

Dikatakan Aulia, perokok pasif yang rawan terserang kanker paru dan jantung koroner adalah perokok pasif dewasa. Sementara anak-anak akan lebih rentan terserang bronkitis atau infeksi saluran pernapasan lainnya.

“Perokok pasif paling banyak kena penyakit lain, bronkitis, batuk, pilek, anak-anak biasanya. Kalau dewasa nanti kena koroner, hipertensi, dan yang kena semakin muda karena bapak-ibunya perokok,” ujar dr Aulia.

Selain itu, dr Aulia menyampaikan bahwa dewasa ini terjadi perubahan tren di mana wanita muda banyak terserang jantung koroner dibanding pria. Hal tersebut dikarenakan kebiasaan merokok pada wanita semakin meningkat. “Dan lingkungan mereka juga banyak perokoknya,” tambah dr Aulia.

Bahaya merokok dan asap rokok juga mengancam ibu hamil. Berdasarkan materi yang disampaikan dr Aulia, ibu hamil berisiko mengalami proses kelahiran yang bermasalah, seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, lahir mati, atau cacat lahir. “Karena itu, yang diedukasi bukan cuma pasien berhenti merokok, tapi juga masyarakat,” kata dr Aulia.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar menghindari orang merokok sejak dini. “Tidak ada cara, cuma menghindari orang merokok, dan dibuat kawasan bebas rokok,” imbuhnya.

4. Awas, Racun Rokok Juga Menempel di Perabotan
Rabu, 10 Februari 2010 | 10:39 WIB

shutterstock

KOMPAS.com — Asap rokok bukan hanya meninggalkan “jejak” bau di baju dan ruangan yang dipakai merokok, tetapi juga meninggalkan zat-zat beracun yang menempel. Kesimpulan penelitian ini menguatkan teori bahaya perokok ketiga.

Sejumlah peneliti dari Lawrence Berkeley National Laboratory, California, Amerika Serikat, menemukan, zat penyebab kanker yang disebut tobacco-spesific nitrosamines (TSNAs) dapat menempel pada berbagai jenis permukaan yang akhirnya menjadi debu dan dengan mudah disentuh jari.

Permukaan yang ditempeli zat-zat beracun ini tentu berbahaya kalau sampai disentuh oleh jari-jari balita. Membersihkan berbagai permukaan yang sudah terkena asap rokok dengan sabun pembersih disarankan untuk menghilangkan zat-zat racun tersebut.

“TSNAs (tobacco-spesific nitrosamines) berpotensi menjadi zat karsinogenik yang muncul dari rokok yang belum dibakar atau asap rokok,” kata ahli kimia Hugo Destaillats yang terlibat dalam penelitian ini.

“Rokok yang dibakar akan melepaskan nikotin dalam bentuk uap air yang dengan mudah diserap oleh permukaan ruangan, seperti lantai, dinding, sofa, karpet, dan benda furnitur. Nikotin bisa bertahan dalam permukaan benda selama berhari-hari, bahkan sampai sebulan,” papar Destaillats.

Para peneliti menemukan, nikotin akan bergabung dengan zat-zat kimia yang disebut asam yang mengandung nitrogen yang dilepaskan oleh peralatan rumah tangga atau mesin kendaraan dan menghasilkan TSNAs. Dalam tes di laboratorium, diketahui TSNAs lebih cepat terbentuk dalam kabin truk dan ruangan rumah yang dipakai merokok.

“Anak-anak adalah pihak yang paling rentan pada zat beracun ini karena mereka sering kontak dengan berbagai permukaan perabot di rumah,” kata para peneliti dalam laporannya yang dipublikasikan dalam Proceedings of The National Academy of Sciences.

5. Asap Rokok Bikin Bayi Hipertensi
Selasa, 26 Januari 2010 | 08:14 WIB

shutterstock

KOMPAS.com – Anda sedang hamil namun membandel tetap merokok? Ini adalah pertanda buruk bagi janin yang sedang Anda kandung. Selain mengganggu perkembangan saraf dan kecerdasan, studi terbaru menunjukkan tekanan darah bayi juga ikut terganggu.

Penelitian yang dilakukan peneliti senior dari Karolinska Institute, Stockhlom, menunjukkan bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki masalah tekanan darah hingga mereka berusia satu tahun. “Gangguan tekanan darah ini bukannya menghilang namun terus memburuk seiring bertambahnya usia bayi,” kata Gary Cohen, ketua peneliti.

Penelitian dilakukan dengan membandingkan balita dari ibu bukan perokok dengan balita yang ibunya merokok sampai 15 batang meski saat sedang hamil. Di usia satu minggu, dua persen bayi dari kelompok ibu perokok mengalami peningkatan tekanan darah dan 10 persennya di usia setahun.

Pola gangguan tekanan darah ini terjadi pada bayi berusia seminggu dan pada saat mereka berusia setahun. Selain itu, bayi yang lahir dari ibu perokok juga mengalami gangguan denyut jantung. Gangguan-gangguan tersebut diyakini akan membawa masalah kesehatan jangka panjang. Demikian tulis Cohen dalam jurnal kesehatan Hypertension.

Cohen menjelaskan, asap rokok akan merusak struktur dan fungsi pembuluh darah, terutama endotel, lapisan pelindung pembuluh darah. Namun ia tidak bisa menjawab apakah kerusakan ini bersifat permanen. “Kami hanya mengamati gangguan ini selama 12 bulan, namun berencana untuk melakukan penelitian lanjutan,” katanya.

Hasil penelitian para ahli dari Karolinska ini senada dengan hasil studi yang meneliti kesehatan bayi yang lahir dari ibu pengguna narkoba. “Bayi-bayi itu bisa mengalami gangguan sirkuit otak,” kata Barry M.Lester, dokter anak dari Brown Medical School yang telah meneliti efek jangka panjang dari ibu hamil pengguna narkoba. “Para pengguna narkoba biasanya juga merokok,” tambahnya.

“Efek asap rokok pada fungsi saraf janin mirip dengan efek kokain dan methaphetamin,” kata Lester.

Berbagai hasil studi membuktikan gangguan kesehatan yang dialami janin terkait dengan produksi berlebihan hormon kortisol atau hormon stres yang berperan penting untuk mengatur tekanan darah dan sistem imun. Bila diproduksi berlebihan, kortisol bisa merusak sistem kekebalan tubuh sehingga bayi lebih rentan infeksi.

Asap rokok yang mengancam kesehatan janin bukan hanya berasal dari ibu yang merokok saat hamil tapi juga termasuk calon ayah yang kecanduan merokok sehingga janin menjadi perokok pasif.

6. Asap Rokok Bikin Bayi Sulit Bangun
Jumat, 4 Desember 2009 | 10:33 WIB

Citra janin bayi dalam kandungan melalui alat ultrasound tiga dimensi.

KOMPAS.com – Para ibu hamil yang mengisap asap rokok atau bahkan merokok sendiri bisa menyebabkan bayi mereka kesulitan bangun saat berada di kandungan. Demikian penjelasan dari para ilmuwan Royal Children’s Hospital di Queensland, Australia.

“Gejala yang disebut Sudden Infant Death Syndrome ini bisa menyebabkan kematian pada bayi,” tutur Anne Chang, salah satu ilmuwan Royal Children dalam laporan yang disampaikannya dalam Journal Archives of Disease in Childhood tentang sindroma kematian bayi itu.

Sulitnya bayi menanggapi setiap rangsangan yang muncul dari luar, tampak pada saat bayi bangun dari tidurnya. Tidak hanya gerakan mata, reaksi fisik lain terlihat lambat dibanding bayi-bayi yang ibunya tidak mengisap rokok baik secara aktif maupun pasif.

Penelitian yang dilakukan Chang terhadap 20 bayi usia antara 8 sampai 12 minggu itu menunjukkan bahwa nikotin yang terkandung dalam tembakau itulah yang menyebabkan terganggunya sistem saraf. Karenanya, proses penerimaan rangsangan oleh bayi terhadap berubahnya kondisi di luar dirinya tampak lambat. @ Abd

7. Merokok Saat Hamil? Hmmm… Sayangi Janin Anda
Kamis, 1 Oktober 2009 | 21:22 WIB

Shutter Stock

Pilihlah makanan yang kaya vitamin dan mineral.

JAKARTA, KOMPAS.com – Ibu hamil yang merokok selama masa kehamilannya berisiko membuat anak mereka terkena gejala gangguan jiwa seperti delusi dan halusinasi. Sebuah survei di Inggris menunjukkan bahwa ibu hamil yang merokok sekitar 20 persen lebih mudah tertimpa permasalahan itu.Risiko tersebut akan meningkat sekitar 84 persen jika jumlah rokok yang diisap mencapai 20 puluh batang atau lebih dalam sehari.

Riset yang diselenggarakan Universitas Cardiff, Nottingham, Bristol dan Warwick itu, seperti dikutip BBC, merupakan bagian dari sebuah studi jangka panjang Avon Longitudinal Study of Parents and Children yang meneliti bagaimana genetik dan lingkungan mempengaruhi kesehatan.

Salah satu survei dalam penelitian jangka panjang itu dilakukan terhadap kelompok anak usia dua belas tahun yang ibunya merokok semasa kehamilan. Anak-anak itu diteliti sejauh mana mengalami kejadian halusinasi.

Selain itu, diteliti pula kemungkinan konsumsi ganja dan alkohol oleh ibu mereka. Ketua tim peneliti Stanley Zammit mengatakan, paparan tembakau dapat mempengaruhi pertumbuhan otak janin. Hasil studi tersebut setidaknya memperkuat larangan merokok selama masa kehamilan yang masih banyak diabaikan oleh perempuan, setidaknya di Inggris. Di negara ters ebut, sekitar 15 persen perempuan hamil masih tidak melepaskan kebiasaan buruknya merokok.

<!–/ halaman berikutnya–>

<!–/ halaman berikutnya–>

<!–/ halaman berikutnya–>

<!–/ halaman berikutnya–>

<!–/ halaman berikutnya–>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s