Ada Konspirasi Zionis di Balik Piala Dunia, Benarkah? (1)


ap

Ada Konspirasi Zionis di Balik Piala Dunia, Benarkah? (1)

Salah satu stadion yang digunakan untuk pertandingan Piala Dunia 201

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Perkembangan sepakbola sebagai sebuah industri patut diwaspadai umat Islam. Pasalnya, keberadaan even seperti piala dunia mengancam umat dari pengalihan terhadap nilai-nilai islam, seperti, meninggalkan perintah shalat, mengacuhkan persoalan Gaza dan ragam masalah lain. Karena itu, umat harus berhati-hati dalam melihat sepakbola sehingga tidak terjerumus pada pengabaian nilai-nilai Islam. Demikian benang merah diskusi bertajuk Piala Dunia 2010, antara Konspirasi dan Sportifitas Olahraga yang berlangsung di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pengamat Gerakan Zionisme sekaligus pemimpin redaksi Media Ummat, Fahri Wajdi mengatakan dalam Islam, permainan (olahraga) itu sangat dibolehkan. Bahkan Rasullah SAW mengajarkan permainan seperti memanah, berkuda, dan berenang. Kata dia, hal yang kemudian dipersoalkan adalah olahraga yang meninggalkan nilai-nilai Islam seperti olahraga bola pantai yang kerap menonjolkan aurat, dan jenis olahraga yang menjauhkan umat atau membuat umat meninggalkan kewajibannya. “Pengertian itu yang dikenal dalam islam sebagai lahun minal Zalimun, yang artinya permainan yang melalaikan,” ungkapnya.

Pada kasus piala dunia misalnya, papar Fahri, ada tiga motif utama yang menjadikan even akbar ini menjadi medium konspirasi. Tiga motif itu adalah motif ekonomi, motif budaya, dan motif politik. Pada motif ekonomi, piala dunia memang diakui sebagai bisnis paling menggiurkan dalam jagat sepakbola. Tercatat, dalam situs resminya, FIFA berhasil meraup keuntungan 2,1 triliun poundsterling dari penyelenggaraan Piala Dunia 2010.

Di sisi lain, ungkap Fahri, kondisi sebagian besar masyarakat Afsel sangat menyedihkan. Cerita penjambretan dan pencurian merupakan bukti yang kuat soal hal itu.Ia mencatat tingkat pengangguran di negara tersebut mencapai 25.1 persen dan 50 persen warga Afsel hidup di bawah garis kemiskinan.

Celakanya lagi, tambah dia, Afsel merupakan negara dengan angka penderita AIDS terbesar di dunia dengan 4.79 juta penduduk yang terinfeksi. “Piala Dunia tidak membangun ekonomi secara mendasar sekalipun tidak ada yang menyangsikan piala dunia adalah bisnis besar. Namun, pihak yang paling banyak diuntungkan adalah pemilik modal bukan konsumen,” ungkapnya.

Pada motif berikutnya, motif politik, Fahri melihat kecenderungan peran sepakbola dalam membangun rasa nasionalis tingkat tinggi di kalangan negara-negara yang tergabung dalam FIFA cenderung semu. Ia menilai ikatan manusia bermacam-macam, ada persatuan yang sifatnya kemaslahatan atau kontemporer dan hobi.

Ia berpandangan model keterikatan seperti itu adalah ikatan yang tidak hakiki dan ikatan tersebut yang seharusnya tidak boleh menjadi ikatan utama. Sejatinya, kata dia, ikatan yang utama adalah ikatan  yang didasarkan akidah, karena menjamin keterikatan persatuan yang kuat. “Ikatan semu seperti dalam sepakbola tidak bisa langgeng, mereka bersatu tapi tidak menyelesaikan persoalan,” katanya.

Selain tidak menyelesaikan persoalan umat, tambahnya, sifat nasionalis dalam sepakbola hanyalah mengalihkan umat dari persoalan utama. Peralihan itu didukung pula dengan globalisasi gerakan 3F (Food, fashoion, Fun). Tiga gerakan ini, kata dia, dengan mengutip pernyataan John Hargreaves yang mengatakan bahwa olahraga adalah cermin mikrokosmos masyarakat kapitalisme modern yang merupakan bagian dari integrasi sistem dominasi kelas dan eksploitasi. Sayangnya, kata Fahri, umat Islam tidak menyadari atau mengabaikan ketidaktahuan sistem yang dijalankan oleh Zionis sehingga menjadi kunci kegagalan umat islam terhindar dari jepitannya. (bersambung)

Ada Konspirasi Zionis di Balik Piala Dunia, Benarkah? (2)

Nonton bareng Piala Dunia di Tepi Barat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Sementara itu, pengamat Zionisme dari Kajian Zionisme Internasional (KAZI), Muhammad Pizaro berpendapat keberadaan gerakan zionisme dalam sepakbola sudah berlangsung lama. Menurutnya, kehadiran zionisme dalam sepak bola adalah bagian dari pesatnya pertumbuhan industri sepak bola di abad ke-21. Seiring dengan kemajuan bisnis sepak bola, gerakan zionisme kian menancapkan kukunya dengan ragam cara.

“Secara jelas,  tujuan protokol zionisnme, untuk melenakan umat melalui berbagai bidang, termasuk sepak bola. Tujuan zionisme itukan menghancurkan agama, dan media menggapai itu apa saja,” tegasnya. Ia mencontohkan Chelsea ketika dibeli oleh miliarder keturunan Yahudi asal Rusia, Roman Abramovich. Ia mengungkap, berdasarkan data majalah Forbes 2006, pada 13 Februari 2006 ia memiliki kekayaan bersih sebesar 18.2 miliar dolar AS dan menurut majalah Finance Rusia pada Januari 2007 kekayaannya mencapai 21 miliar dolar AS.

Ia dianggap sebagai orang terkaya yang tinggal di Inggris Raya pada tahun 2003. Segera setelah Abramovich mengendalikan Chelsea, paparnya, ia menanamkan modal dalam jumlah besar (diperkirakan mencapai 440 juta poundsterling sampai Januari 2006), dengan memperhitungkan pengambilalihan beban hutang sebesar 80 juta pounsterling dan transfer-transfer pemain.

Pizaro juga mengungkap usai mengambil alih Chelsea, Abramovich segera memasukan unsur Zionisme pada Chelsea. Hal pertama yang dilakukan adalah mengubah logo Chelsea. Pada logo tersebut terdapat singa yang merupakan simbol utama dalam yudaisme, kepercayaan Yahudi. Menurut kepercayaan Yahudi, Singa merupakan cerminan keperkasaan dan kekuatan.

Tak hanya itu, setelah mengalami kekalahan beruntun yang membuat ‘Special One’ Jose Mounrinho tergusur, Abramovich justru menarik pelatih Avram Grant. Ia seorang pelatih sepak bola yang lahir di Petah Tikva, Israel, 4 Mei 1955. “Dugaan kuat Abramovich sedang merancang jewish connection di tubuh Chelsea kala itu,” ungkapnya.

Sementara itu, Innovative Minds (Inminds) mencatat klub Inggris Arsenal telah menandatangani sponsorship untuk mempromosikan Israel sebagai daerah tujuan wisata. Dengan nilai  sebesar  350 ribu poundsterling (sekitar Rp 5,9 miliar).  Perjanjian bertajuk ‘tujuan perjalanan resmi dan eksklusif Israel Arsenal’ ini diteken oleh keduanya pada 26 Februari 2009 di Hotel David Intercontinental, Tel Aviv, Israel.

Fahri mengungkap keberhasilan Israel menarik kerja sama dengan Arsenal ditengarai adanya koneksi Yahudi di dalamnya. Ia mencatat Uzi Gafni, salah seorang pejabat kementerian pariwisata Israel pernah menjelaskan mengapa Israel memilih Arsenal dan bukan klub lain sebagai partner kerja sama untuk mempromosikan pariwisata negaranya.

Kala itu Israel lebih memilih Arsenal karena koneksi Yahudi yang kuat dalam tubuh klub ini. Wakil Presiden dan Direktur Utama David Dein, Kepala Pelaksana Keith Edelman; dan Direktur Keuangan Danny Fiszman berdarah Yahudi. “Aku membutuhkan orang yang memiliki pertalian dengan Yahudi. Mungkin Edelman tidak pergi ke sinagog (tempat ibadah orang Yahudi) setiap hari Jum’at. Namun ia dan yahudi-yahudi lain di Arsenal adalah orang-orang yang sangat bersahabat dan selalu siap membantu Israel,” ungkapnya dengan mengutip Haaretz, sebuah surat kabar Israel yang pernah mewawancarai Uzi Gafni. (bersambung)

Ada Konspirasi Zionis di Balik Piala Dunia, Benarkah (3-habis)

Stadion yang digunakan untuk pertandingan final Piala Dunia 2010

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Selain keberadaan pengusaha keturunan Yahudi dalam sepak bola, Zionisme melahirkan simbol-simbol dalam diri pemain sepakbola. Sebagai contoh penggunaan simbol yahudi oleh Walter Samuel. Pemain kelahiran 23 Maret 1978 ini punggawa lini Belakang Argentina. Samuel adalah seorang Yahudi Tulen keturunan Argentina. Pada era tahun 2000-an, Walter Samuel adalah pemain yang mencintai angka 6 pada skuad abiceleste.

Sekilas nomor ini memang tidak menyiratkan keganjilan, namun sepak bola adalah olahraga yang menyertakan nomor punggung pada tiga tempat: celana, dada, dan punggung. “Menariknya jika antara itu disatukan, akan membentuk huruf 666. Bukankah pada Piala Dunia kali ini, Samuel tidak memakai nomor punggung 6, tepat karena mulai detik ini Samuel memiliki angka kegemaran Yahudi lainnya, yakni 13,” ungkapnya.

Di Inggris, dalam buku biografi pertamanya, My World, David Beckham bicara tentang betapa darah Yahudi kakeknya itu mempengaruhi kehidupan pribadinya. Mantan Kapten Timnas Inggris ini pernah mengatakan kepada media Israel JC.Com,(10/12/09), ”Saya mungkin mempunyai hubungan yang lebih banyak dengan Yudaisme, daripada dengan agama-agama lain.”

Selanjutnya, mantan pemain AC Milan ini juga mengatakan, bahwa dirinya suka mengenakan topi tradisional Yahudi semasa kanak-kanak, dan juga menghadiri pernikahan-pernikahan orang Yahudi bersama kakeknya. Sementara itu, sang istri Victoria Beckham yang bukan keturunan Yahudi bahkan telah membuat tato Hebrew di tubuhnya. Tato itu bertuliskan Ani L’V’Dodi Dodi Li, HaRoeh BaShoshanim.

Ketika disinggung peran pengusaha Muslim asal Timur-tengah yang gemar berbisnis dalam membentengi invasi Zionis dalam industri sepak bola, Pizaro menyatakan peran itu tidaklah ada alias nihil. Ia pun menyayangkan apa yang dilakukan pengusaha yahudi membantu gerakan Zionisme tidak diimbangi dengan baik oleh pengusaha Muslim.

Ironisnya, kata dia, pengusaha Muslim asal Timur Tengah yang seharusnya membantu saudaranya di Gaza, Afganistan, Pakistan atau Kashmir cenderung memilih berinvenstasi dalam bisnis. “Berbeda dengan pengusaha Yahudi yang membantu kepentingan Zionis, pengusaha atau pangeran dari Arab yang dekat Gaza, Pakistan ataupun Khasmir, mereka tidak ada komitmen membantu tapi lebih senang menanamkan sahamnya di bisnis. Padahal tidak ada alasan untuk tidak membantu,” katanya.

Begitu kuatnya sihir sepak bola hingga menarik gerakan zionis di belakangnya bukan berarti menjadikan olahraga tersebut menjadi tiang peradaban masyarakat modern. Brasil sebagai pencetak pemain berbakat seperti kaka, Ronaldinho, Ronaldo, dan banyak nama lain tidak menjamin kesejahteraan masyarakat di sana. Di Brasil, sepak bola memang menjamin kehidupan yang lebih baik. Pertanyaan yang muncul adalah apakah sekian ratus juta rakyat Brasil bisa menjadi pemain terbaik dunia dalam kurun waktu yang sama? Apakah seorang Lionel Messi bisa membawa kemakmuran suatu negara?

Ihwal hal itu, Pizaro menilai sepak bola tidak bisa membangkitkan peradaban. Menurutnya peradaban dibangun lewat ilmu. Sepak bola adalah permainan, dan jika diperlakukan sebaliknya, umat akan lebih memilih sepak bola ketimbang ilmu. Padahal, kata dia, sepak bola acap kali diboncengi hal-hal yang sudah melenceng dari batas-batas logika. Sebagai contoh, seorang fantik sepak bola rela mempertaruhkan nyawanya dengan kecintaan terhadap sepak bola.

Tak hanya itu, kata dia, sepak bola juga telah diboncengi keberadaan pelacur dan perjudian. Karena itu, ia menilai pernyataan sepak bola sebagai tiang peradaban dan kemajuan suatu negara terlalu berlebihan.

Sementara itu, Pengamat Gerakan Zionisme sekaligus pemimpin redaksi Media Ummat, Fahri Wajdi, menilai kebangkitan sepak bola tergantung kebangkitan sebuah negara. Menurut dia, negara yang memiliki kualitas sepak bola terbaik merupakan negara yang maju dalam berbagai bidang.  Ketika disinggung dengan keberadaan selebriti sepak bola beragama Islam di Eropa, Fahri melihatnya sebagai sebuah kemajuan yang hanya dialami satu negara, tempat asal pemain.

Menurut dia, dalam konteks personal, mereka mewakili negara bukan umat Islam keseluruhan. “Kita harus membedakan personal Muslim. Perancis dan Jerman memang terdapat pemain beragama Islam. Mereka Muslim tapi tidak mewakili Islam. Keberadaan mereka bukan berarti menandakan kebangkitan Islam. karena dalam konteks persona, mereka hanya mewakili pribadi Muslim bukan Islam keseluruhan,” tutur dia. (habis)

One thought on “Ada Konspirasi Zionis di Balik Piala Dunia, Benarkah? (1)

  1. Indonesia,,,Indonesia….
    Terus komentari luar negeri,,dalam negeri kau komentari OKE.
    Dalam otak Indonesia ini, maslahj di dunia ini hanya masalah SARA, dikit SARA,,,kolot sekali…

    Zionis bukan membangun agama, tapi nasionalis, beda banget dgn INdonesia, yang kata2 nya selalu berunsur agama, tapi di lapangan?para koruptor.

    Saranku INDOESIA, harusnya membangun NASIONALISME seperti waktu p[enjajahan,,ada orang INDOSNESIA yang bertanya “apa agamamu? suku mu?”
    Tapi semua satu hati ingin merdeka!!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s