Prof Nyoman Kertia : Pakar Temulawak Dari UGM


Zaman dulu, obat-obatan yang bersumber dari tanaman menjadi andalan nenek moyang untuk mengatasi berbagai penyakit. Namun obat tradisional seolah terpinggirkan oleh obat kimia seiring perkembangan zaman. Maka itu ketika ada sosok yang intens meneliti obat herbal, beberapa waktu lalu masih dianggap ‘aneh’.

“Dulu saya sampai ditanya sama rekan-rekan dokter, ‘kamu mau mengembangkan ilmu hitam?’ Ha ha ha, sekarang mereka malah ikut-ikut pakai resep herbal,” tutur Prof Nyoman Kertia, MD., Ph.D, pakar temulawak dari Universitas Gajah Mada saat konferensi pers ‘SOHO Global Health, Mengembangkan Potensi Alam untuk Indonesia Sehat’, yang digelar di ruang Patio, Tribeca Central Park Mall, Jl Letjen S Parman, Kav 28, Jakarta Barat.

Menurut Prof Kertia, sudah saatnya herbal dijadikan andalan mengingat Indonesia memiliki lebih dari 2.000 spesies tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan. Nah, fenomena dominasi penggunaan obat kimia ini menjadi kendala bagi para dokter yang ingin membudayakan penggunaan obat-obatan herbal dari bahan alami.


Temulawak
Temulawak adalah tanaman obat yang paling banyak digunakan oleh para dokter dan pasien pengobatan herbal. Cara paling tepat untuk mengonsumsi temulawak adalah dengan cara alami yang bebas dari zat pengawet. Nah, pilihan cara mengolah temulawak sebenarnya beragam, tergantung dari manfaat apa yang ingin didapatkan.

 

Prof Nyoman Kertia, MD., Ph.D, pakar temulawak dari Universitas Gajah Mada, mengatakan cara mengolah temulawak bisa menghasilkan zat yang berbeda. Ini tentunya menimbulkan dampak yang berbeda pula bagi kesehatan.

“Mau itu serbuk, sirup, ekstrak, dan lain-lain. Mana yang lebih ‘cespleng’ sebenarnya tergantung kebutuhan kita. Kalau kita menginginkan zat kurkuma dari temulawak, maka dijus atau diparut saja. Atau bisa simplisia (ditumbuk lalu diseduh), jadi kesegarannya terjaga,” ujar Prof Kertia.

Hal ini ia katakan pada konferensi pers ‘SOHO Global Health, Mengembangkan Potensi Alam untuk Indonesia Sehat’, yang digelar di ruang Patio, Tribeca Central Park Mall, Jl Letjen S Parman, Kav 28, Jakarta Barat.

Jika ingin mendapatkan manfaat minyak atsirinya, maka temulawak bisa direbus. Ada juga orang yang membuat ekstrak temulawak. Menurut Prof Kertia, ekstrak itu memang gampang diserap tubuh, tapi ternyata justru ada efek sampingnya.

Ia mengakui, kurkuma dan minyak atsiri adalah zat yang paling banyak dimanfaatkan dalam dunia medis. Kurkuma sering digunakan untuk pengobatan pasien lever dan perawatan pasien osteoatritis. Minyak atsiri mampu mengobati rematik. Selain itu kedua zat ini juga mengandung anti-oksidan yang baik untuk mencegah kanker. Di samping itu juga dapat menyembuhkan sakit maag, memperbaiki fungsi ginjal, membuat kulit awet muda, dan lain-lain.

“Belakangan pemberian resep obat herbal mulai dibiasakan banyak dokter. Ini hal yang baik, karena berdasarkan penelitian yang saya lakukan, terbukti bahwa obat-obat herbal lebih baik daripada obat kimia dalam banyak hal,” ucap Prof Kertia.

Ia mencontohkan, obat kimia akan menimbulkan efek samping dan menjadi toksik terhadap kesehatan jika dikonsumsi 10 kali dosis normal. Sedangkan obat herbal baru ‘menjelma’ menjadi racun pada 100 kali dosis. Karena itu obat herbal relatif jauh dari efek samping.

Prof Nyoman berharap kalangan akademisi mestinya tanggap dan turut berperan dalam mengembangkan obat bahan alam dengan meningkatkan ilmu, memperluas pendidikan obat alam dan penelitian di bidang ini. “Demikian pula dengan masyarakat, mestinya tidak tinggal diam dan harus bergerak bersama dalam menanam dan memasarkan tanaman obat dan obat bahan alam”, katanya.

Diantara tiga model terapi obat alam, terapi alternatif, terapi komplementer dan terapi konvensional, kata Nyoman Kertia, model terapi komplementer paling banyak diterapkan di masyarakat. Sebab dalam terapi komplementer, obat alam dipergunakan mendampingi terapi konvensional, karena mampu mengurangi dosis dan efek obat konvensional.

Sedangkan pada terapi alternatif, obat alam terpisah dengan obat konvensional. Terapi alternatif ini menjadi pilihan bagi pasien dan keluarga karena obat konvensional dinilai memberi manfaat kecil, mudah menimbulkan efek samping dan harga yang tidak terjangkau. Model ini sering diterapkan pada pasien kanker dan penyakit kronik.

“Sementara itu, sebagai terapi konvensional, obat alam bisa berdiri sendiri. Dalam terapi konvensional, obat bahan alam telah melalui uji klinis dan terbukti tidak lebih jelek dibandingkan obat konvensional dari segi manfaat dan efek samping dan obat bahan alam dalam terapi konvensional ini, sudah dapat digolongkan sebagai fitofarmaka”, papar Nyoman Kertia.

Data memberi bukti mencengangkan, lebih dari 120 macam obat konvensional berasal dari bahan alam. Sebagai contoh, kasus kardivaskular (digoxin) yang biasa dipergunakan untuk meningkatkan kekuatan jantung ternyata berasal dari tanaman Digitalis purpurea dan antropin untuk mempercepat denyut jantung berasal dari tanaman Atropa belladona. Pada pengobatan penyakit kanker (Taxol) yang biasa dipergunakan untuk menekan proliferasi sel kanker ternyata berasal dari tanaman Catharantus roseus.

Pada pengobatan serangan gout akut atau penyakit asam urat akut (kolkisin) yang hingga kini masih menjadi pilihan utama di dunia medis, ternyata berasal dari tanaman Colchicum autumnale. untuk pengobatan nyeri hebat, morfin yang sering dipergunakan ternyata berasal dari tanaman Opium.

“Masih banyak lagi contoh-contoh obat konvensional yang sesungguhnya berasal dari obat bahan alam yang sangat banyak digunakan di Indonesia. Data memperlihatkan di pedesaan dan di perkotaan yang pernah mengkonsumsi jamu sebanyak 59,12 persen dan sebanyak 95,60 persen telah merasakan manfaatnya”,ungkap Nyoman Kertia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s