Dunia Lain


Mudah – Mudahan apa yang terdapat dalam halaman ini, dapat bermanfaat bagi pencerdasan anak bangsa. Bahwa dunia lain memang ada.  Janganlah iman tergadai oleh tulisan ini ataupun sumber informasi lainnya, yang pasti kita tercipta menjadi khalifah fil ardi ( Pemimpin Di atas Bumi), bukan takluk dengan apapun namanya, setan, iblis, hantu, leak, vampir, buto ijo, tuyul, dedemit dan lain – lain,  karena sesungguhnya mereka ingin mengajak kita sama – sama masuk neraka bersama mereka. Na’audzubillahi minasy syaithoonirrojiim


11. Terekam, Hantu Cewek Suka Tindih Cowok
Senin, 29 November 2010 | 01:44 WIB

SURYA.co.id/izi hartono

Saat difoto, sosok putih dalam botol dari Situbondo, Jawa Timur itu juga dapat terekam, mirip karakter Casper dalam film kartun.

SITUBONDO, KOMPAS.com — Warga kelurahan Mimbaan, Situbondo, Jawa Timur, digegerkan dengan penangkapan sosok berwarna putih yang dianggap sebagai hantu di rumah Agus (40), warga setempat, Minggu (28/11/2010).

Hantu itu tidak hanya muncul, tetapi juga sering mengganggu dan menindih saya.
— Rangga, pemuda dari Situbondo, Jawa Timur

Sesuatu yang katanya gaib itu berhasil ditangkap dengan bantuan paranormal dan langsung dimasukkan dalam botol. Kata warga pula, hantu itu sering menampakkan diri dan mengganggu keluarga pemilik rumah tersebut.

Salah seorang putra pemilik rumah, Rangga (24), mengaku selama ini dirinya sering diganggu dengan adanya penampakan sosok putih di dalam kamarnya. Hantu cewek itu sering muncul saat Rangga sedang tidur di kamarnya.

”Hantu itu tidak hanya muncul, tetapi juga sering mengganggu dan menindih saya,” ujar Rangga, kepada wartawan.

Merasa sering terganggu, akhirnya Rangga menceritakan kejadian tersebut kepada orang- tuanya. Mendengar penuturan putranya, orangtua Rangga langsung meminta bantuan pananormal untuk  mengusir makhluk gaib itu.

Setibanya di rumah yang baru dua bulan ditempati pemiliknya itu, paranormal tersebut langsung melakukan ritual di sekitar rumah. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya makhluk yang sering mengganggu Rangga itu berhasil ditangkap.

Untuk menyakinkan pemilik rumah dan warga, sosok makhluk putih yang ditangkap itu dimasukkan dalam botol.

”Alhamdulillah berhasil. Mungkin saya bohong, tetapi coba perhatikan dan lihat sendiri isi botol ini,” terang paranormal yang tidak mau disebut jati dirinya itu. Saat difoto, sosok putih itu juga dapat terekam, mirip karakter Casper dalam film kartun.

Pemilik rumah, Agus, mengaku lega hantu cewek itu tertangkap. ”Kami bersyukur, sebab tanpa bantuan Allah, mustahil makhluk gaib itu berhasil ditangkap,” kata Agus. (Izi Hartono)

10. Hantu Terekam Kamera, Bupati Merinding
Senin, 18 Oktober 2010 | 02:08 WIB

tribun pontianak

Penampakan makhluk halus di belakang tiga remaja di Sungai Laur, Ketapang, Kalimantan Barat.

KETAPANG, KOMPAS.com – Penampakan makhluk halus berpakaian putih dengan rambut panjang, terlihat jelas dalam sebuah foto yang diambil M Fahmi, sopir ambulans Puskesmas Aur Kuning, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Dengan cepat foto tersebut beredar di seluruh Kecamatan Sungai Laur. Tribun Pontianak memperoleh foto tersebut dari staf humas Pemkab Ketapang, A Rahman, Minggu (17/10/10).

Rahman menuturkan, awalnya dia tidak percaya soal penampakan foto itu. Tapi sosok mahkluk halus berambut panjang menyerupai seorang perempuan tersebut tampak sangat jelas.

“Aku dapat foto ini langsung dari M Fahmi. Waktu sama-sama dengan Bapak Bupati Henrikus, awal bulan ini saat kunjungan kerja ke sana. Dia tunjukkan foto itu, eh, langsung merinding bulu kuduk kami semua,” tutur Rahman.

Informasi yang dia peroleh dari Fahmi, foto ini dijepret menggunakan kamera handphone merk Nokia tipe N. Dilihat sepintas, hasil jepretan itu tak menampakkan sesuatu yang aneh.

Tapi setelah dicermati, sosok mahluk halus ini rupanya ikut terekam. Foto itu dijepret di satu warung di desa setempat. Konon, kata Rahman, mengutipcerita Fahmi, daerah tersebut tergolong angker.

Contohnya di rumah Camat Sungai Laur yang kini tidak ditempati dan dibiarkan kosong. Rumah dinas tersebut tak jauh dari warung tempat diambilnya foto ini.

“Mereka bilang sering ada penampakan. Fahmi bilang foto itu diambil sekitar dua minggu sebelum kunjungan kerja bupati. Jadi belum lama, dan satu dari yang ikut kunjungan bupati, sempat melihat penampakan di pohon pinang merah di sebelah rumah dinas tersebut. Kami pun semakin ketakutan,” ungkap Rahman.

Tapi dia tidak lantas menerima mentah-mentah foto tersebut. Dan sempat mempertayakan apakah asli atau palsu. “Fahmi bahkan sampai besumpah-sumpah kalau foto itu tak ada rekayasanya. Sampai sekarang antara percaya dan ndak percayalah,” kata Rahman. (Rihard Nelson)

Aku dapat foto ini langsung dari M Fahmi. Waktu sama-sama dengan Bapak Bupati Henrikus. Dia tunjukkan foto itu, eh, langsung merinding bulu kuduk kami semua.
— A Rahman, staf humas Pemkab Ketapang
9. Geger Kuntilanak di Mamuju

Selasa, 5 Oktober 2010 | 04:14 WIB
hantuhantu.com
ilustrasi

MAMUJU, KOMPAS.com–Penampakan makhluk “kuntilanak” yang kini menjadi buah bibir di tengah masyarakat menimbulkan berbagai pendapat, bahkan beragam opini pun berkembangan dikalangan masyarakat di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, terkait hadirnya makhluk halus itu.

Penampakan “kuntilanak` sejak beberapa hari terakhir di jalan Maccirinae, Mamuju, memang cukup meresahkan masyarakat setempat, namun tak sedikit warga melontarkan pernyataan berbeda menanggapi tentang adanya penampakan makhluk halus yang terbang di atas udara itu.

Asdar, 45 thn, warga Mamuju, Minggu, mengatakan, bayangan terbang di udara ini bukan makhluk kuntilanak, namun, kemungkinan besar adalah percobaan ilmu “hitam” yang dilakukan oleh warga yang ada di sekitar lokasi penampakan itu.

“Rasa-rasanya bukan kuntilanak, namun besar kemungkinan itu adalah permainan ilmu untuk mengetahui sejauhmana kemanpuan mereka,” katanya.

Pendapat berbeda dikatakan Syamsul, salah satu tokoh masyarakat setempat mengemukakan, bayangan yang terbang di atas pohon itu adalah penghuni pantai Manakarra yang terusik akibat revitalisasi pantai Manakarra.

“Makhluk ini bukan kuntilanak melainkan penjaga pantai yang terusik akibat dilakukannya revitalisasi pantai Manakarra,” jelasnya.

Lain halnya dengan Bambang, salah seorang warga lainnya mengatakan, penampakan itu memang “kuntilanak” yang banyak disaksikan warga dari sebuah rumah kosong yang ditinggal pergi penghuninya di Jalan Maccirannae.

“Warga di sekitar Jalan Maccirannae selalu menyaksikan kuntilanak tersebut keluar dari rumah kosong yang terletak di sekitar hutan nipa, mereka menyaksikan kuntilanak tersebut tampak di atas atap di atas pohon kelapa dekat rumah itu,” katanya.

Ia mengatakan, warga sebelumnya tidak memperdulikan penampakan kuntilanak tersebut karena menganggapnya sebagai cerita bohong dan ilusi.

Namun, kata dia, setelah banyak warga yang mengaku pernah melihat mahluk tersebut, maka warga kemudian percaya bahwa kuntilanak itu betul-betul menampakkan diri, kemudian warga lainnya pun antusias bersama-sama ingin menyaksikan penampakan kuntilanak itu.

8. Kuntilanak di Atap Rumah Bikin Penasaran
Minggu, 3 Oktober 2010 | 10:24 WIB
Tabloid Rumah
ilustrasi

MAMUJU, KOMPAS.com – Ribuan warga Kota Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat semakin memadati lokasi tempat munculnya penampakan kuntilanak di atas sebuah rumah tak berpenghuni di Jalan Macciranae, Mamuju.

Semalam, sejak adanya informasi penampakan kuntilanak yang melayang layang di udara dan hinggap di rumah kosong, warga setempat hingga warga dari luar kota semakin penasaran ingin melihat langsung munculnya kuntilanak yang muncul sekitar pukul 22.00 hingga dini hari waktu setempat.

Haeruddin, salah seorang warga luar kota Mamuju, mengatakan dirinya bersama dengan teman-temannya sengaja datang ke Mamuju karena penasaran dengan berita yang menghebohkan itu.

“Saya jadi penasaran bagaimana model kuntilanak itu. Seumur-umurku belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri tentang makhluk semacam itu. Selama ini saya hanya melihat peran kuntilanak di layar televisi maupun flim layar lebar,” ungkapnya.

“Makhluk itu konon muncul dengan menggendong bayi mungil melayang di atas udara dan hinggap di atas atap seng rumah tak berpenghuni,” ungkapnya.

Sebelumnya, Bambang, salah seorang warga lainnya mengatakan, kemunculan kuntilanak tersebut awalnya disaksikan warga dari sebuah rumah kosong yang ditinggal pergi penghuninya di Jalan Maccirannae.

“Warga di sekitar Jalan Maccirannae selalu menyaksikan kuntilanak tersebut keluar dari rumah kosong yang terletak di sekitar hutan nipa, mereka menyaksikan kuntilanak tersebut tampak di atas atap di atas pohon kelapa dekat rumah itu,” katanya.

Ia mengatakan, warga sebelumnya tidak memperdulikan penampakan kuntilanak tersebut karena menganggapnya sebagai cerita bohong dan ilusi.

Namun, kata dia, setelah banyak warga yang mengaku pernah melihat mahluk tersebut, maka warga kemudian percaya bahwa kuntilanak itu betul-betul menampakkan diri, kemudian warga lainnya pun antusias bersama-sama ingin menyaksikan penampakan kuntilanak itu.

“Sejak Jumat malam kemarin (1/10) hingga saat ini warga tetap menunggu di lokasi munculnya kuntilanak,” ucapnya.(*)

7. Ribuan Orang Tonton Kuntilanak Terbang

Sabtu, 2 Oktober 2010 | 09:53 WIB
ilustrasi

MAMUJU, KOMPAS.com — Ribuan warga Kota Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), geger saat menyaksikan kemunculan kuntilanak yang melayang-layang di atas sebuah rumah di Jalan Macciranae. Pada Jumat (1/10/2010) malam, ribuan warga Mamuju tampak memadati Jalan Macciranae Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, untuk dapat menyaksikan langsung munculnya kuntilanak.

Iccang (25), salah seorang warga, mengatakan, sudah lima hari ini warga di sekitar Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, digegerkan dengan munculnya kuntilanak. “Setan itu disaksikan warga tiba-tiba terbang, kemudian menghilang di atas langit menjelang tengah malam,” katanya.

Bambang, warga lainnya, mengatakan bahwa kemunculan kuntilanak tersebut awalnya disaksikan warga dari sebuah rumah kosong yang ditinggal pergi penghuninya di Jalan Maccirannae. “Warga di sekitar Jalan Maccirannae selalu menyaksikan kuntilanak tersebut keluar dari rumah kosong yang terletak di sekitar hutan nipah, mereka menyaksikan kuntilanak tersebut tampak di atas atap di atas pohon kelapa dekat rumah itu,” katanya.

Ia mengatakan, warga sebelumnya tidak memedulikan penampakan kuntilanak tersebut karena menganggapnya sebagai cerita bohong dan ilusi. Namun, kata dia, setelah banyak warga yang mengaku pernah melihat kuntilanak tersebut, maka warga kemudian percaya bahwa kuntilanak itu betul-betul menampakkan diri, kemudian warga lainnya pun antusias bersama-sama ingin menyaksikan penampakan kuntilanak itu.

“Jumat malam ini sekitar pukul 23.00, makhluk itu kembali muncul di langit dan disaksikan ribuan warga yang ada di Jalan Maccirannae, ia muncul berkali-kali dengan cara terbang di udara lalu menghilang, warga melihat ada kain putih yang mengepak-ngepak,” katanya.

Menurut dia, sejumlah warga yang pernah melihat setan tersebut mengaku melihat ada kain putih melayang di udara yang terbang ke sana kemari, kemudian menghilang. Ia mengatakan, kemunculan kuntilanak tersebut selalu terjadi sekitar pukul 23.00 Wita selama lima hari terakhir ini.

“Tadi ini saya sendiri melihat dengan jelas setan itu terbang di atas langit lalu menghilang,” katanya. Menurut dia, sejumlah warga sedang mencari paranormal untuk dapat menjinakkan setan tersebut karena sudah beberapa hari ini menggegerkan warga.

6. Agus Melihat Kuntilanak Seret Peti Mati

Senin, 13 September 2010 | 08:13 WIB
SEVERIANUS ENDI
Jembatan angker tempat Agus melihat sesosok perempuan menyeret peti mati

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi

PONTIANAK, KOMPAS.com – Pengalaman ini tak akan pernah hilang dari ingatan Agus Wandi (25), seorang satpam yang bekerja di kantor sebuah perusahaan swasta di Kota Pontianak. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, sesosok kuntilanak melayang sambil menyeret peti mati dengan rantai.

“Waktu itu, sekitar jam 4 subuh, saya bersama lima teman nongkrong di jembatan Simpang Benteng di Kota Mempawah,” ujar Agus kepada Tribun, Minggu (12/9/10).

Agus kelahiran Kota Mempawah, ibu kota Kabupaten Pontianak, sekitar 67 kilometer dari Kota Pontianak. Sekitar 1,5 tahun lalu, dia masih tinggal di Mempawah dan belum bekerja sebagai satpam.

Dia dan teman-temannya sering nongkrong di jembatan yang terletak di daerah yang biasa disebut Simpang Benteng. Meski namanya Simpang Benteng, tutur Agus, tapi daerah itu bukanlah persimpangan. Memang, sekitar 50 meter dari tempat itu, dijumpai persimpangan tiga, yang satu di antaranya merupakan akses menuju Kota Singkawang.

Di areal yang diyakini angker dan ada penunggunya itu, berdiri sebuah jembatan besi untuk melintasi anak sungai yang memotong, disebut Jembatan Benteng. Nah, di situlah ada belokan mematah yang sangat tajam menuju ke kanan, jika ditempuh dari arah Kota Pontianak.

Meski letaknya sudah di Kota Mempawah, areal itu gelap di malam hari. Kala itu, ujar Agus, di sekitar Simpang Benteng, ada tiga buah rumah toko (ruko) di kiri jalan. Kemudian di sebelah kanannya, ada sebuah rumah penduduk.

“Agak sepi, karena pemukiman penduduk agak ke arah dalam. Lagi pula sekitar beberapa puluh meter dari jembatan itu, ada kuburan,” kata dia.

Malam itu, seingat Agus, merupakan malam Jumat. Dia dan lima temannya nongkrong di Jembatan Benteng, menemani seorang rekannya yang berjualan bensin eceran di pinggir jembatan itu.

“Kalau malam sering pengendara melintas, dan kadang-kadang mereka beli bensin juga,” ujar Agus.

Menjelang pukul 04.00, dia dan lima temannya melihat sesosok putih melintasi tempat itu. Agus yakin, dia tidak salah lihat. Sosok itu persis gambaran kuntilanak yang sering diceritakan orang- orang.

“Pakaiannya putih, rambutnya panjang hingga kaki. Saya dan kelima teman melihat sejelas- jelasnya dalam jarak sekitar 10 meter,” ucap Agus, yang mengaku masih merinding jika mengingatnya.

Sosok kuntilanak itu melintas dengan cara melayang. Dia tampak menyerat peti mati dengan rantai. Tanpa suara, karena dalam penglihatan mereka, sosok kuntilanak dan peti mati itu seperti melayang.

“Kami segera lari menjauh menuju ruko yang ada di situ. Kuntilanak itu melayang ke arah kuburan. Setelah hilang dari pandangan kami, bensin eceran jualan teman saya segera dikemas, dan kami kabur naik sepeda motor, pulang,” tutur Agus.

Sebelumnya, Agus mengaku pernah diceritakan oleh para orangtua, kalau Simpang Benteng itu angker dan ada penunggunya. Dia pun pernah mendengar cerita, sering muncul kuntilanak menyeret peti, pertanda akan ada korban jiwa esok harinya.

“Ini benar terjadi, besoknya sekitar pukul 10 pagi, saya dengar ada pengendara sepeda motor yang kecelakaan dan meninggal seketika di Jembatan Benteng. Saya dan teman-teman sampai tiga pekan tak berani muncul ke situ,” ucap Agus.

Menurut catatan Tribun Pontianak, daerah tersebut memang rawan kecelakaan. Meski dalam tahun ini tidak terjadi korban jiwa, tapi kecelakaan kecil nyaris terjadi tiap pekan. Jalan dengan belokan mematah yang cukup tajam, dan lagi ruas itu merupakan lintasan akses dari Kota Pontianak menuju Singkawang, dan sebaliknya. (*)

5. Ini Meriam Pengusir Kuntilanak

Kamis, 9 September 2010 | 12:51 WIB
KOMPAS/C WAHYU HARYO PS
Warga Gang Kabul, Kelurahan Banjar Serasan, Pontianak, Kalimantan Barat, tengah membuat meriam karbit.

KOMPAS.com — Gelondongan kayu mabang yang dibentuk silinder berongga tampak berjejer rapi dalam kelompoknya masing-masing, biasanya lima buah, di tepian Sungai Kapuas yang membelah Kota Pontianak.

Sudah sepekan sebelum Lebaran tiba, kayu besar silinder yang dibentuk sebagai meriam karbit itu sudah bertengger dan sekali-kali dinyalakan di malam hari.

“Ini namanya permainan meriam karbit. Ini sudah menjadi tradisi dan dimainkan masyarakat tepian Sungai Kapuas setiap tahunnya,” kata seorang kerabat Kesultanan Pontianak, Syarif Usmulyani, menjelaskan.

Setiap malam hari sebelum dan sesudah Lebaran dengan puncaknya malam Lebaran, suara dentuman satu meriam dengan meriam lainnya akan memecahkan angkasa Kota Khatulistiwa itu.

Tak kurang dari 40 kelompok warga yang bermain meriam karbit ini, menurut data yang ada di Dinas Pariwisata Kota Pontianak.

Setiap kelompok itu jumlah anggotanya bervariasi, mulai dari 15 hingga 30 orang yang mewakili “gang” atau RT, atau gabungan beberapa “gang” atau RT di kampung tepian Kapuas.

Setiap kelompok biasanya memiliki lima meriam, tetapi ada beberapa yang memiliki sampai belasan meriam. Kebanyakan lokasi meriam ditempatkan di tepian Sungai Kapuas di sekitar Jembatan Kapuas dengan kedudukan yang saling berhadapan, tetapi dibatasi bentang sungai yang lebarnya sekitar 600 meter itu.

“Mereka berjejer di masing-masing tepi sungai yang berhadapan, seakan siap-siap berperang,” kata Usmulyani. Dentuman yang bersahut-sahutan itu mengundang daya tarik masyarakat Kota Pontianak, bahkan wisatawan dari luar Kalbar menontonnya.

Dentuman meriam karbit ini sangat keras, dapat terdengar dari radius 3 hingga 5 kilometer.

Napak tilas

Menurut penuturan Usmulyani, permainan meriam karbit terkait dengan awal berdirinya Kota Pontianak. Berawal dari perjalanan Syarif Abdurrahman menyusuri Sungai Kapuas untuk menemukan areal yang bisa didiami, konon rombongan itu mendapat gangguan.

“Konon, selama delapan hari menebang pohon, para pengikut Syarif Abdurrahman mendapat gangguan para kuntilanak. Boleh jadi kata ‘kuntilanak’ ini bertransformasi menjadi Pontianak,” tuturnya.

Namun, dalam cerita rakyat Melayu, kata Pontianak pun berarti perempuan yang meninggal ketika melahirkan, kemudian rohnya bergentayangan di desa-desa untuk meneror warga. Disarankan oleh tetua Melayu agar warga memelihara kuku panjang dan tajam sehingga bila bersua sang Pontianak, dapat menancapkan kuku tajam pada lehernya agar berubah jadi perempuan cantik.

“Tapi, Sultan Syarif Abdurrahman memilih cara lain. Dia menembakkan meriam ke arah hutan, yang diyakini sumber bunyi-bunyian seram pengganggu pengikutnya,” cerita Usmulyani.

Dari kejadian mengusir gangguan itu di zaman kesultanan akhirnya meriam karbit menjadi sering digunakan, tetapi beralih fungsi sebagai penanda saat berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Meriam dibunyikan saat memasuki azan maghrib yang tujuannya untuk memberitahukan masyarakat Pontianak bahwa waktu maghrib tiba.

“Maklum saja, pada saat itu masjid-masjid belum memiliki alat pengeras suara seperti saat ini. Selain itu, populasi penduduk yang jarang dan terpisah-pisah jelas menyulitkan mendengar suara azan,” beber kerabat Keraton Kadriah yang juga tokoh Melayu itu.

Namun, kondisi saat ini adalah tradisi meriam karbit dimainkan mulai jelang Lebaran dengan puncaknya malam takbiran hingga tiga hari setelah Lebaran, selepas senja hingga hampir tengah malam.

Bagi Kota Pontianak kini, menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Pontianak Utin Khadijah, tradisi ini mengangkat nama daerah karena ini merupakan tradisi khas satu-satunya yang ada di Tanah Air.

“Permainan rakyat meriam karbit ini jelas memiliki nilai pesona budaya yang menarik. Tidak hanya masyarakat Pontianak, namun dari luar kota pun berdatangan menyaksikan,” kata Utin.

Bahkan, pada tahun 2007, meriam karbit Kota Pontianak telah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia dan berulang kembali pada tahun 2009.

Untuk mengembangkan kebudayaan ini, Utin berkomitmen akan terus melestarikannya, salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan menggelar festival meriam karbit setiap tahun.

Setiap kelompok biasanya memiliki lima meriam, namun ada beberapa yang memiliki sampai belasan meriam. Kebanyakan lokasi meriam ditempatkan di tepian Sungai Kapuas di sekitar Jembatan Kapuas dengan kedudukan yang saling berhadapan, namun terbatasi bentang sungai yang lebarnya sekitar 600 meter itu.

“Mereka berjejer di  masing-masing tepi sungai yang berhadapan, seakan siap-siap berperang,” kata Usmulyani. Dentuman yang bersahut-sahutan itu mengundang daya tarik masyarakat Kota Pontianak, bahkan wisatawan dari luar Kalbar menontonnya.

Dentuman meriam karbit ini sangat keras, dapat terdengar dari radius tiga hingga lima kilometer.

4. Pemuda Ini Bisa Terbang dan Berteman Kuntilanak

Kamis, 4 Juni 2009 | 14:56 WIB
OKTO MANEHAT
Beny Oko sang penjaga hutan cendana di Alor.

Laporan Wartawan Pos Kupang, Okto Manehat

KOMPAS.com — Sebuah mobil Kijang warna biru membawa Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Alor Drs RJS Huan, wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama, dan Pos Kupang menuju wilayah Otvai dan Omtel di kawasan puncak Kota Kalabahi. Di dua kawasan itu terdapat hutan milik Dinas Kehutanan Kabupaten Alor yang ditumbuhi berbagai tanaman, termasuk ribuan pohon cendana.

Waktu tempuh menuju Otvai dan Omtel antara 30 dan 50 menit, padahal jaraknya hanya 10 km. Maklum, jalannya cenderung menanjak sampai pada ketinggian 600 kaki di atas permukaan laut.

Kendati demikian, perjalanan terasa nikmat. Selain karena udaranya sejuk, mata rombongan juga dimanjakan oleh hijaunya hutan tanaman kemiri, cengkeh, kopi, jati, mahoni, johar, dan cendana di kiri-kanan jalan.

Saat tiba di kawasan hutan Otvai, wartawan lebih memilih melihat langsung lokasi cendana yang dikembangkan di atas lahan seluas 54 hektar sejak tahun 1986 itu. Cendana di hutan itu tingginya bervariasi 3-7 meter dengan diameter 30-80 cm. Mobil lalu bergerak menuju kawasan hutan Omtel. Di hutan Omtel terdapat pohon-pohon cendana yang dikembangkan sejak tahun 2007.

Sesudah mendapatkan data yang cukup, wartawan dan Kadis Huan hendak kembali ke Kalabahi. Waktu menunjukkan pukul 11.00 Wita. Dalam perjalanan pulang, masih di kawasan puncak hutan Omtel, Kadis Huan mengajak wartawan rehat sebentar di sebuah pondok milik Dishut di kawasan hutan. Pondok itu berdinding bambu, berlantai semen kasar, dan beratap seng.

Di dekat pintu masuk dapur pondok itu, seorang anak muda berkepala botak, bercelana pendek, berbaju kaus bundar leher, lengan potong tengah sedang duduk di balai-balai bambu sambil menyandarkan bahunya di dinding.

Ketika melihat Kadis Huan, anak muda itu langsung menyapa dan menyampaikan keluh-kesahnya mengenai kebutuhan dapurnya. Kadis Huan sempat mengobrol dengannya, menanyakan kondisi hutan dan anakan berbagai tanaman yang disemaikan di lokasi tersebut.

“Anak muda ini namanya Beny Oko (27). Dialah yang menjaga hutan di kawasan ini. Dia telah menyatu dengan alam hutan ini sejak tahun 2000. Dia mendiami pondok ini sendiri,” kata Huan memperkenalkan Beny sambil bercanda bahwa anak muda itu bisa terbang.

Canda Huan ini langsung ditanggapi serius oleh wartawan, mengaitkannya dengan kekuatan magis. Wartawan menanyakan kepada sejumlah orang yang kebetulan berada di pondok itu mengenai ilmu yang dimiliki Beny. Namun, mereka enggan memberi jawaban. Mereka minta wartawan menanyakan langsung kepada Beny.

Obrolan langsung terjadi dengan Beny. Menurut Beny, rumah orangtuanya terdapat di wilayah Kenarilang, Kota Kalabahi. Dia putra bungsu dari empat bersaudara. Tidak tamat SD, hanya sampai di kelas V. Namun Beny mengaku bisa membaca dan menulis.

Dia tidak melanjutkan sekolah karena kondisi tubuhnya yang cacat. Kakinya pincang. Kalau berjalan, dia harus dibantu dengan tongkat. Cacat itu dialaminya sejak masih kecil.

Beny melanjutkan, dirinya mulai menempati pondok di kawasan hutan Omtel sejak tahun 2000. Ketika itu, dia bersama sejumlah warga datang ke kawasan hutan itu untuk mengerjakan proyek penghijauan Dinas Kehutanan Kabupaten Alor.

Setelah proyek selesai, dia tetap berada di pondok itu seorang diri. Beny mengungkapkan, pada saat awal tinggal di pondok itu, perasaan takut menyelimutinya. Setiap malam dia mendengar bunyi-bunyi aneh di hutan. Ada anak kecil menangis, orangtua memarahi anak-anaknya. Juga terdengar suara banyak orang yang tengah pesta pora.

Beny melanjutkan, dia mulai berani tinggal di hutan tersebut sejak mendapat ilmu dalam sebuah mimpi tidur malam. “Pada suatu malam ketika saya tertidur, saya bermimpi. Ada beberapa orangtua datang menghampiri saya. Mereka memeluk saya sambil mengatakan, ‘Kami ini nenek moyang kamu.’ Mereka pun mulai memutar film adegan berkelahi. Lalu mereka menanyakan, ‘kamu mau yang ini?’ Namun saya menolak. Berikutnya, mereka memutar film orang bisa terbang. Setelah selesai film itu, mereka kembali tanya, ‘kamu mau ilmu ini?’ Saya langsung menyatakan mau, dan ketika bangun pagi, dalam diri saya seperti ada kekuatan,” ujar Beny.

Bekal ilmu yang didapatnya itu, kata Beny, sangat membantunya bepergian ke tempat jauh, seperti ke Kota Kalabahi atau desa-desa lain di daerah itu. Dia bisa jalan cepat dalam kondisi kaki pincang. Dia bisa terbang menuju ke suatu tempat. “Kekuatan yang saya dapat bukan hanya untuk jalan saja, tetapi membantu saya bekerja di hutan ini. Sebelumnya—karena cacat—saya tidak bisa mengangkat kayu, tetapi setelah mendapat ilmu itu, meskipun dengan kondisi cacat, saya bisa mengangkat kayu,” tutur Beny.

Selain mendapat ilmu terbang, Beny juga mengaku, selama menempati hutan itu dia berteman dengan makhluk halus, arwah orang yang telah meninggal, dan kuntilanak. “Makhluk halus biasanya datang pada saat saya sendiri. Kalau ada orang yang mau meninggal dunia, biasanya hutan ini ramai seperti orang pesta. Namun, saya tidak melihat wujud mereka. Kadang-kadang orang-orang mati ini menemani saya pada pagi hari yang masih gelap ketika saya membuat perapian untuk berdiang. Ada yang datang membunyikan pohon bambu di hutan ini,” tutur Beny lagi.

Kuntilanak, kata Beny, menjadi temannya hampir setiap saat. Datangnya kuntilanak biasa ditandai dengan suara tikus di luar pintu. Ketika dibuka, mahkluk ini sudah ada. Busana kuntilanak semuanya warna putih, rambutnya air panjang sampai di bokong.

“Cantiknya luar biasa, paling cantik di dunia. Kulitnya putih seperti China. Lebih cantik daripada nona-nona di Kalabahi, di Kupang, atau Jakarta. Ini China, Taiwan,” ujar Beny sambil mengatakan nama kuntilanak itu Lin.

Beny mengatakan, hubungannya dengan kuntilanak yang datang hanya sebatas teman cerita, tidak lebih dari itu. “Lin biasa membawa makanan untuk saya. Makanan mereka seperti yang biasa orang makan: ada daging ayam, ikan, sayur. Pokoknya enak. Tapi saya tidak mau. Kita cerita saja. Kita sudah anggap saudara,” ungkap Beny.

Di akhir ceritanya, Beny berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap dirinya. Sebab, meskipun dengan kondisi cacat, dia bisa menjaga kelestarian hutan di kawasan itu.*

3. Tak Sengaja Suharno Memotret Hantu

Kamis, 17 Juni 2010 | 11:04 WIB
sriwijaya post
Hantu pocong yang tak sengaja terdokumentasi oleh Suharno, saat hendak memotret Jesika, anaknya.

KOMPAS.com — Betapa terkejut Suharno melihat foto di ponselnya karena di belakang putrinya yang jongkok mengenakan kaus biru ada penampakan yang diduga sebagai hantu pocong warna putih berdiri seperti membelakangi Jesika.

Semula Suharno tak percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh anaknya itu. Namun, begitu mencermati foto itu, Suharno pun terkejut dan khawatir melihat anaknya yang ketakutan dan trauma.

Makhluk halus memang sulit dilihat mata, tetapi zaman sekarang malah bisa direkam dalam video dengan teknologi tertentu sehingga khalayak bisa menyaksikan tanda-tandanya dengan indera melalui tayangan visual. Berbeda dengan jepretan kamera yang menghasilkan gambar atau foto, tiba-tiba ada “penyertaan” makhluk halus atau hantu alias jin, yang biasanya hal itu di luar kesengajaan.

Seperti yang dialami oleh Jesika (5), putri dari Suharno, warga Desa Betung, Kecamatan Abab, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Jesika difoto oleh temannya menggunakan ponselnya pada tanggal 10 Juni 2010. Saat itu Jesika sedang main di halaman belakang rumah bersama teman-temannya.

Betapa terkejut Suharno melihat foto di ponsel itu karena di belakang putrinya yang jongkok mengenakan kaus biru ada penampakan yang diduga sebagai hantu pocong warna putih berdiri seperti membelakangi Jesika. Semula Suharno tak percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh anaknya itu. Namun, begitu mencermati foto itu, Suharno pun terkejut dan khawatir melihat anaknya yang ketakutan dan trauma.

Informasi penampakan hantu di kamera itu segera menyebar ke tetangga dan masyarakat di Desa Betung hingga heboh. Suharno pun khawatir akan terjadi sesuatu terhadap anaknya. Maka, ia mencari orang pintar untuk konsultasi.

Pada hari Rabu (16/6/2010), Suharno melapor ke redaksi Sriwijaya Post yang juga grup dari Tribunnews.com terkait foto tersebut. Menurut pengakuan Suharno, kekhawatiran terhadap anaknya terkait foto yang ada penampakan hantu pocong itu telah mendorongnya untuk mencari orang pintar.

Ia berinisiatif mencari informasi misteri yang terjadi pada anaknya. Kata “orang pintar” yang didatangi Suharno, sebenarnya Jesika, anak dalam foto itu, sering diikuti oleh hantu pocong. Hantu pocong tersebut sedang mencari tumbal.

Mendengar keterangan “orang pintar” itu, Suharno tersentak dan segera berdoa agar anaknya diberikan kesehatan dan perlindungan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tak diinginkan. “Saya takut ada apa-apa, meskipun kebenaran tersebut belum pasti. Tapi saya berharap anak saya selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa,” katanya. (*)

2. Cerita di Balik Tuyul dalam Botol

Sabtu, 22 Mei 2010 | 07:27 WIB
Sabrina Asril
Tuyul Duren Jaya yang sudah dimasukkan ke dalam botol. Gumpalan hitam tampak mengambang dan berbentuk anak kecil yang sedang duduk. Foto diambil Jumat (21/5/2010)

JAKARTA, KOMPAS.com — Kehadiran tuyul di Kelurahan Duren Jaya, Bekasi, Jawa Barat, membuat banyak orang penasaran. Mereka mengabadikan penampakan tuyul dalam botol yang sudah ditangkap itu dengan kamera.

Coba ucapkan bismillah tiga kali, setelah itu tahan napas.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, botol yang diributkan warga Kelurahan Duren Jaya itu biasa saja. Hanya botol bening bekas sirup sebelumnya. Bagi masyarakat awam yang tidak memiliki kekuatan batin, mereka hanya bisa melihat botol tersebut kosong tak berisi.

Saat Kompas.com memegang dan mengangkatnya, botol tampak ringan dan tidak ada tanda-tanda ada beban di dalamnya. Saat diperhatikan dari jarak dekat, isi botol tersebut bersih polos, tidak ada penampakan apa pun. Bebauan yang dirasakan warga yang pertama menemukan tuyul itu juga tidak tercium.

Namun, keanehan baru terjadi ketika Kompas.com berusaha mengabadikan botol tempat tuyul tersebut disekap dengan kamera ponsel. Berkali-kali Kompas.com tidak memperoleh hasil. Oleh karena itu, salah seorang warga setempat menyarankan untuk menggelapkan ruangan dengan menutup gorden kamar. Namun, usaha kembali menemui kebuntuan.

Warga itu akhirnya menyarankan, “Coba ucapkan bismillah tiga kali, setelah itu tahan napas.” Percaya tidak percaya, beberapa menit kemudian, sosok penampakan itu mampu terekam di kamera ponsel Kompas.com. Saat itu juga warga yang daritadi memberikan saran kepada Kompas.com tersebut menggerak-gerakkan tangan ke arah botol berisi tuyul tersebut.

Ketika ditanya untuk apa, warga tersebut berujar, “Untuk bantu si tuyulnya enggak bergerak-gerak.” Alhasil, setelah usaha berkali-kali, Kompas.com berhasil menangkap penampakan itu. Gambar yang tertangkap yaitu gumpalan gas berwarna hitam cukup pekat dan bentuk sebuah makhluk berukuran mini sekitar 7 sentimeter. Penampakan ini tidak akan terlihat dengan kasatmata.

Terdapat satu gambar yang memperlihatkan tuyul mini itu sedang duduk bersila dengan kuping caplang dan memiliki garis hitam di sekitar pinggul (dicurigai popok) sedang membelakangi kamera. Entah apakah itu benar adanya tuyul atau bukan, percaya tidak percaya, banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dijawab dengan logika. Semuanya kita kembalikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1. Heboh Tuyul di Bekasi

Tuyul Itu seperti Anak Kecil Berpopok
Jumat, 21 Mei 2010 | 19:38 WIB
Sabrina Asril
Penampakan tuyul dalam botol yang ditanggapi warga Gang Swadaya, Kelurahan Duren Jaya, Bekasi, Jawa Barat

JAKARTA, KOMPAS.com — Rabu tengah malam, sesosok makhluk kecil tampak berlari melintasi Gang Swadaya, Kampung Pedurenan, RT 08/ RW 05, Kelurahan Durenjaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Bebauan menyengat perlahan mulai menyeruak.

“Awalnya saya sadar karena ada bau tidak enak sekali. Setelah itu saya lihat ada sesosok anak kecil hanya pakai popok berlari ke dalam gang,” ujar Murdjianto (27), Jumat (21/5/2010) di Durenjaya, Bekasi, Jawa Barat.

Setelah melihat sosok lincah tersebut, ia dan Dimin, seorang warga yang punya kekuatan batin untuk melihat gaib, langsung berusaha menangkap makhluk tersebut. “Larinya cepat sekali. Kadang terlihat, kadang hilang. Waktu dia terpojok, sempat mau saya pukul, tapi tangan saya lolos,” ungkap Murdji saat ditemui di Durenjaya.

Ia menjelaskan, tuyul tersebut memiliki tinggi sekitar setengah meter, berkulit sawo matang, berkepala botak, dan hanya menggunakan popok. “Tapi waktu dimasukkan dalam botol, dia jadi mengecil sekitar tujuh sentimeter,” ungkapnya.

Murdji yang memiliki indera keenam tersebut mengatakan, saat di dalam botol, tuyul hanya diam dan duduk bersila. Terkadang jika ramai yang ingin melihatnya, maka tuyul akan bergerak naik turun menghindari cahaya.

Tuyul ditemukan empat warga pada Rabu pukul 23.00 di Gang Swadaya, Kampung Kedurenan, Kelurahan Duren Jaya, Bekasi, Jawa Barat. Keruan saja, heboh soal penangkapan tuyul itu mengundang banyak warga, termasuk dari luar Bekasi, berdatangan ke lokasi.

Ketika dipertunjukkan kepada wartawan, botol berisi tuyul itu terlihat bening saja. Ketika difoto di tempat terang, hasilnya juga tidak jelas. Akan tetapi, ketika difoto di tempat agak gelap, hasil pemotretan itu memperlihatkan ada semacam gumpalan berbentuk anak kecil meringkuk di dalam botol (lihat foto).

Untuk diketahui, tuyul adalah sejenis makhluk halus yang disebut-sebut dipelihara seseorang untuk mendatangkan harta. Makhluk kecil itu disebut-sebut biasa mencuri uang dari dompet, brankas, atau lemari warga kemudian diserahkan kepada “orantuanya”.

Saat ini, tuyul itu sudah dipindahkan ke lokasi yang masih dirahasiakan Dimin.

7 Komentar

7 thoughts on “Dunia Lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s