MUALAF


1. Jason Cruz, Mantan Pastor: Saya Beruntung Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, ARIZONA – “Alhamdulillah, saya mendapatkan hidayah Allah dan masuk Islam sejak tahun 2006,” ujar Jazon Cruz, mengawali pembicaraan.

“Saya sebenarnya agak ragu, ketika diminta berkisah tentang jalan hidup yang saya tempuh, dan bagaimana saya mendapatkan hidayah Allah,” sambungnya.

Wajar saja. Sebab, Cruz tak mau terjebak pada ketenaran semu sebagaimana yang terjadi pada sebagian orang, hanya karena mereka masuk Islam. Ia juga sadar, dirinya memiliki tantangan yang serupa. Apalagi mengingat statusnya sebagai seorang pendeta cukup kenamaan di kotanya.

“Namun, sekali lagi saya katakan, semoga saya tidak terjebak pada sikap riya karena memeluk agama yang dibawa Rasulullah ini. Semoga Allah, menjauhkan sifat itu dari diri saya,” harapnya.

Oleh sebab itu, ketika dimintai laman http://www.islamreligion.com untuk menuturkan perjalanan hidupnya. Cruz meminta agar penekanan kisah hidupnya fokus pada ‘kerja’ Allah yang telah memberinya sejumput hidayah. “Sebab, siapa pun takkan mungkin masuk Islam dan tulus mengikuti ajaran Rasulullah, jika ia tidak mendapat hidayah Allah,” ujarnya.

Jason Cruz lahir dalam keluarga Katolik Roma yang secara resmi tinggal di New York, AS. Sebenarnya, sang ibulah yang murni Katolik Roma. Sedangkan ayahnya seorang Presbiterian yang ‘terpaksa’ masuk Katolik hanya agar dapat menikahi sang bunda. “Kami selalu ke gereja tiap hari Minggu. Saya juga menjalani katekismus, komuni pertama, dan konfirmasi di Gereja Katolik Roma,” tuturnya.

Ketika masih belia, Cruz sudah merasa mendapat panggilan Tuhan. Panggilan ini ia tafsirkan sebagai panggilan imamat Katolik Roma. Ia pun mengungkapkannya pada sang bunda, “Ibu sangat bahagia mendengarnya, dan langsung mengajak saya untuk bertemu pastor di paroki setempat,” ungkapnya.

Sayangnya, si pastor tak terlalu senang diusik oleh kedatangan mereka. Ia bahkan menyarankan agar si bocah tidak terjun ke dunia imamat. Hal itu membuat Cruz sangat sedih. “Kejadian itu sangat menjengkelkan saya, bahkan hingga hari ini. Saya tak tahu bagaimana kondisinya akan berbeda, jika saja responsnya sedikit positif,” kata dia.

Sejak ditolak memenuhi seruan Tuhan di paroki tersebut, Cruz menjalani kehidupan yang lain; tenggelam dalam dunia malam. Apalagi, tak lama setelah kejadian di paroki, kedua orang tuanya bercerai. Cruz sangat kehilangan sosok ayah yang tak lagi hadir di dekatnya.

Sejak usia 15 tahunan, Cruz mulai lebih tertarik dengan klub malam ketimbang Tuhan.

Usai lulus SMA dengan nilai yang memuaskan, ia pun masuk universitas dengan mudah. Namun, karena targetnya hidupnya yang tak jelas dan tak menentu, Cruz pun drop out (DO) dari bangku kuliah.

Ia kemudian pindah ke Arizona—tempatnya menetap hingga kini—ketimbang menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana. “Inilah yang saya sesalkan hingga kini,” ujar Cruz. “Setelah tinggal di Arizona, kehidupannya saya malah jadi kian parah.”

Ia mulai mengenal narkoba dan kian tenggelam dalam dunia malam dan pergaulan bebas. Demi mendapatkan obat-obat terlarang—dengan pendidikan yang pas-pasan—Cruz rela menjalani pekerjaan kasar dan hina. “Kalau tidak begitu, saya tidak dapat menikmati narkoba, pergaulan bebas, dan dunia malam,” ujarnya.

Selama masa-masa kelam ini, Cruz sempat bertemu dan bergaul dengan orang Muslim. Si Muslim rupanya seorang mahasiswa asing yang kuliah di salah satu kampus di Arizona. “Dia mengencani salah seorang teman saya, dan kerap menemani kami ke pesta dan klub-klub malam,” ungkapnya.

Cruz dan si Muslim memang tidak pernah bicara soal agama, apalagi tentang Islam. Namun demikian, ia kerap bertanya tentang ajaran dan budaya Islam kepada si Muslim. Si Muslim dengan senang hati menceramahi Cruz tentang Islam, walau yang bersangkutan tidak menunjukkan diri sebagai Muslim sejati. “Apa yang dia katakan, sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan,” kata Cruz.

Gaya hidup Cruz yang buruk berlanjut selama beberapa tahun. Ia pun sempat trauma, karena beberapa orang yang dikenalnya meninggal. Ia juga pernah ditikam dalam sebuah tawuran.

“Yang dapat saya katakan adalah walau bagaimana pun buruknya kondisi yang anda alami, Allah pasti akan membalikkan keadaan anda, insya Allah,” kata dia. Saya segera berubah setelah benar-benar bersih dari narkoba. Salah satu bagian proses menjauhkan diri dari narkoba adalah dengan menjalin hubungan dengan yang Mahakuasa.”

Dalam upaya pencarian akan Tuhan ini, Cruz melewati sejumlah tahapan berliku sebelum mengenal Allah SWT. Sayang, ia tidak menemukan kebenaran (Allah) pada awalnya. Sebaliknya, ia mencoba mempelajari Hinduisme karena dianggap dapat mengakhiri penderitaan yang ia alami.

2. Hugh LR Elliott: Orisinalitas Alquran Mantapkan Imanku

REPUBLIKA.CO.ID,  “Semua berawal saat aku berusia 17 tahun,” pria asal Australia itu mengawali ceritanya. Ditemui di sebuah rumah makan franchise di kawasan Pondok Cabe Tangerang, Hugh Lloyd Roydon Elliott tampak begitu bersemangat membagi pengalamannya.

Hugh tak perlu waktu bertahun-tahun untuk mengenal Islam. Ia menerima Islam dalam kurun waktu yang terbilang singkat; dua minggu. “Aku sangat beruntung karena Allah teramat menyayangiku. Ia memudahkan segalanya bagiku,” ujarnya kepada reporter Republika, Devi A. Oktavika, beberapa waktu lalu.

***

Hugh lahir di Adelaide dan dibesarkan di Victoria, di tengah lingkungan Kristen tentunya. Beruntung, kedua orang tuanya yang beragama Protestan tak pernah memaksanya memeluk agama tertentu.

“Terutama ibuku, ia percaya agama apapun yang kupilih adalah yang terbaik bagiku. Aku sangat beruntung memiliki ibu sepertinya,” kata pria kelahiran 30 September itu.

Sementara itu, ayah Hugh adalah pemilik perusahaan besar dengan sejumlah kantor perwakilan di luar Australia, termasuk di Indonesia. Karena itu, Hugh telah mengenal Indonesia sejak lama.

Saat ia berusia 13 tahun, sang ayah membawanya untuk tinggal bersamanya di Indonesia selama enam bulan. Sementara ayahnya mengurus perusahaan, Hugh sibuk dengan home schooling dan pertemanan barunya dengan sejumlah anak Indonesia. Indah, seorang perempuan Muslim yang kini menjadi istrinya, adalah satu diantaranya.

Pada usia itu, Hugh tak meyakini agama apapun, termasuk agama kedua orang tuanya. Ketidakyakinan itu telah muncul sejak bungsu dari empat bersaudara ini duduk di bangku sekolah dasar. “Pada masa itu, aku merasa berhadapan dengan hal-hal yang tidak masuk akal setiap kali membaca Bibel. Terakhir, Kitab itu kuberikan pada salah seorang teman.”

Bagi Hugh kala itu, Bibel tidak memuat kesepakatan antara ayat yang satu dengan lainnya. “Itu membuatku berpikir bahwa ia adalah kitab yang dibuat atau direvisi oleh manusia. Semakin aku membacanya, semakin aku menemukan kebingungan-kebingungan baru,” katanya.

Saat berusia 17 tahun, dalam sebuah liburan, Hugh kembali berkesempatan mengunjungi Indonesia selama sebulan. Dalam kesempatan itu, ia mengunjungi Indah dan keluarganya. Bersama mereka, Hugh berlibur di Majalengka, kota asal Indah dan keluarganya.

Dalam sebuah kesempatan, Ayah Indah mendapati Hugh sedang mengamati putrinya shalat. Ia lalu menawarkan diri untuk menjelaskan beberapa hal tentang Islam, yang diterima Hugh dengan senang hati. “Ia menjelaskan tentang shalat, wudhu, juga satu hal yang membuatku sangat shock, khitan,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Saat itu, Hugh yang tak mengenal apapun tentang Islam kecuali azan menemui kakak laki-laki Indah yang bertanya padanya tentang Bibel. Hugh menjawabnya dengan mengatakan bahwa kitab tersebut tidak orisinil.

Hugh lalu disodori Alquran. Setelah mendapat penjelasan bahwa Alquran adalah kitab orisinil yang diturunkan Allah kata demi kata kepada Nabi Muhammad saw 1.400 tahun yang lalu, Hugh berjanji pada dirinya untuk mencari tahu isi kitab tersebut di Australia.

Hugh pergi ke sebuah toko buku dan membeli sebuah Alquran terjemah sekembalinya dari Indonesia. Sampai rumah, ia membuka halaman pertama dan membacanya.

“Tak ada yang istimewa. Kata-kata ini sangat mudah dibuat oleh manusia,” gumamnya kala itu.

Hugh lalu tersadar dan memutuskan bahwa mengkritisi Alquran bukanlah cara terbaik memahami kitab tersebut.

“Lalu aku mengatakan pada diriku sendiri, ‘Aku harus membuka pikiranku untuk ini’,” ujarnya. Hugh mulai membacanya di rumah, kereta, dan bus. Kemanapun ia pergi, Hugh membawa serta buku barunya itu.

Hugh sampai pada pertengahan kitab tersebut dua minggu kemudian. Ia takjub karena tak menemukan sedikitpun kontradiksi di dalamnya. “Tidak ada pertentangan, dan tidak ada kebingungan saat membacanya. Semuanya sangat jelas dan sederhana,” katanya. Ia tertarik pada ayat-ayat yang diawali kata-kata wahai orang-orang yang beriman, dan melihatnya sebagai perintah untuk berkontemplasi.

Satu waktu, Hugh menemukan sebuah ayat dalam surah An-Nisa yang dinilainya kontradiktif. Ayat itu memerintahkan seorang suami memukul istrinya saat sang istri melakukan kesalahan.

Hugh tak terima. Ia menelusuri internet untuk menemukan tafsir dari ayat tersebut. “Dari penjelasan beberapa mufassir, barulah aku tahu bahwa pukulan itu dimaksudkan sebagai teguran. Itupun hanya untuk dilakukan menggunakan benda-benda kecil seperti saputangan. Subhanallah,” tuturnya.

Kesempurnaan Alquran memantapkan hati Hugh. Tanpa merasa perlu menghabiskan isi Alquran, ia meyakini kebenaran Islam dalam separuh bagian yang telah dibacanya. Ia segera mencari tahu tentang syahadat dari internet dan beberapa teman Muslimnya di Indonesia.

Hanya saja, Hugh tak mengenal seorang Muslim pun di Australia. Hingga akhirnya, ia menghampiri seorang perempuan berkerudung di sekolahnya. Berbekal informasi dari perempuan tersebut, Hugh mendatangi seorang syeikh untuk berkonsultasi tentang syahadat. Sayangnya, berkaitan dengan hukum yang berlaku di Australia, mereka menyarankan Hugh bersyahadat setelah genap berusia 18 tahun.

Hugh menolak. “Bagaimana jika aku tertabrak bus besok pagi dan kemudian meninggal sebelum sempat bersyahadat?” katanya. Melihat Hugh berkeras masuk Islam, sang syeikh menyarankannya untuk hadir dalam sebuah kajian dan ceramah rutin di sebuah masjid kota di Melbourne. Syeikh itu mengatakan, Hugh bisa bersyahadat pada imam di masjid tersebut setelah ceramah selesai.

Hugh mengikuti saran itu. Ditemani sang syeikh, Hugh menghampiri imam masjid tersebut setelah acara kajian selesai. Ia menanyaiku beberapa hal terkait kesiapan dan kesungguhanku memeluk Islam,” kata Hugh. Setelah meyakinkan sang imam tentang kesungguhannya, Hugh bersyahadat.

Hugh kemudian diminta tidak terburu-buru mengamalkan Islam secara penuh. “Imam itu memintaku belajar terlebih dahulu, termasuk untuk shalat.” Lagi-lagi, Hugh merasa tak perlu menundanya. “Bagaimanapun juga aku harus shalat, karena aku adalah seorang Muslim.”

Sampai di rumah, dengan berpedoman sebuah buku panduan kecil, Hugh shalat. Ia memegang buku itu di salah satu tangannya dan terus membawanya sepanjang shalat. “Aku shalat sambil membaca, termasuk saat sujud sekalipun, karena aku belum menghafal bacaan-bacaannya,” katanya.

Saat itulah perasaan yang disebut Hugh ‘ajaib’ menyergapnya. “Aku merasa berdiri langsung di hadapan Tuhan. Dinding-dinding kamar dan semua benda di sekelilingku seolah hilang. Hanya aku dan Allah,” ujarnya dengan nada takjub.

Tahun 2007, usai menamatkan kuliahnya di Teach International di Melbourne, Hugh kembali ke Indonesia. Ia menjadi guru bahasa Inggris dan menikahi Indah empat tahun kemudian. Kini Hugh sibuk menjadi pengajar sekaligus konsultan pendidikan bahasa Inggris di sebuah sekolah Islam internasional di Jakarta.

“Seperti telah kukatakan, Allah memudahkan segalanya bagiku. Kini, selain diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmuku bagi Muslim, aku memiliki lingkungan yang luar biasa untuk memperluas pemahamanku tentang Islam. Alhamdulillah,” ujar pria yang mengaku memiliki nickname islami Abdullah al-Faruq.

3. Isa Graham: Alquran Buktikan Kebenaran Injil

Isa Graham: Alquran Buktikan Kebenaran Injil (Bag 2)

REPUBLIKA.CO.ID, Baris demi baris kalimat dalam kitab setebal 500-an halaman yang dibacanya hanya menyisakan satu kesan di benaknya; kagum. Dan kekaguman yang bercampur rasa ingin tahu menjadi satu alasan bagi pemuda bernama Brent Lee Graham untuk mencuri buku itu dari perpustakaan kampusnya.

Dengan desain sampul yang menurutnya eksotis, buku berbahasa Inggris itu lebih dari sekadar menarik bagi Brent. Selain menyajikan berbagai cerita indah para nabi, buku itu berisi banyak kisah mengagumkan yang tak banyak ia ketahui.

“Saat itu aku baru berusia 17 tahun,” Brent mengawali kisahnya pada Republika, di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

***

Semua berawal dari perenungannya tentang kematian. Brent yang telah mengubah namanya menjadi Isa Graham itu masih mengingat jelas dua peristiwa yang membuka matanya tentang kematian, hal yang tak pernah menyibukkannya.

Masa mudanya yang akrab dengan musik membuat Brent dekat dengan pesta. Dan pesta pada malam itu berbeda. “Aku terus mengingatnya hingga sekarang,” ujar pria yang pernah belajar di sekolah musik itu.

Malam itu, sebelum memasuki rumah tempat pesta digelar, Brent melihat beberapa orang membawa keluar sesosok tubuh lunglai seorang pemuda mabuk. Pemuda itu lalu diletakkan di salah satu sisi halaman rumah, dan ditinggalkan bersama mereka yang lebih dulu tak sadarkan diri karena alkohol. Tak ada pertolongan, tak ada obat-obatan. “Aku berpikir, bagaimana jika mereka mati?” ujarnya.

Brent tak dapat membenarkan apa yang baru dilihatnya. Terlebih, ketika ia berharap ada sedikit kepedulian di sana, Brent justru mendapati sebaliknya. “Beberapa orang yang baru datang ke pesta berlalu begitu saja saat melewati mereka yang tergeletak di halaman. Itu menyedihkan,” katanya.

Terhenyak, Brent mendengar teriakan dari dalam rumah, memanggilnya. Teman-temannya meminta Brent masuk dan memainkan musik untuk mereka.” Brent masuk dengan sebuah pertanyaan menghantuinya. “Jika aku mengalami hal menyedihkan seperti orang-orang yang ada di halaman itu dan kemudian mati, apakah mereka akan memikirkan keadaanku?”

Keesokannya, sebuah peristiwa lain kembali menghentak hati Brent, memaksanya merenungi segala hal dalam hidupnya. “Seorang dosen mendatangi kelasku dan membawa berita kematian salah seorang teman sekelas kami,” kenangnya. Brent terguncang.

Ia semakin teguncang mengetahui teman sekelasnya itu meninggal karena heroin. Brent menjelaskan, semua orang di kampus tahu teman mereka yang baru meninggal itu tak pernah menggunakan heroin. “Dan ia meninggal pada percobaan pertamanya menggunakan obat terlarang itu,” Isa menghela nafas. “Hidup begitu singkat.”

Perasaan takut menyergap Brent. Dan remaja 17 tahun itu mulai memikirkan kehidupannya, juga kematian yang ia tahu akan menghampirinya

Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme, dan aku tertarik pada Islam.”

Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, pemerintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku, dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”

Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim, hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.

Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan popular. Ia bisa berpesta sesering apapun bersama teman-teman yang mengelukannya. “Namun aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”

Namun terlepas dari kondisi tidak membahagiakan itu, Brent sangat mencintai musik. Ia mempelajari musik, memainkannya, mengajarkannya, dan menjadi bahagia dengannya. Hingga ia berfikiran bahwa musik adalah agamanya, karena mampu membuatnya bahagia.

Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangunkannya di sebuah malam. “Aku berkeringat dan menangis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapanpun’,” tuturnya.

Dengan keringat dan air mata itu, Brent memanjatkan doa. “Aku meminta pada semua Tuhan; Tuhan umat Kristen, Tuhan umat Islam, Tuhan siapapun, karena aku tak yakin harus meminta pada salah satu diantaranya.”

“Tuhan, aku teramat sedih dan gundah dan tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tolong, beri aku isyarat, beri aku petunjuk, beri aku jalan keluar,” Brent mengutip doa yang diucapkannya 15 tahun lalu.

Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Seorang Muslimah asal Burma yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah email. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah, dan dalam emailnya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.

Beberapa hari kemudian, teman asal Burma itu datang ke rumah Brent dan membawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak dari sahabat Nabi saw, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang kumau’.”

Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memintanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, bertambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.

Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non Muslim) tahu bahwa dalam Islam, kami juga mempercayai Yesus,” ujarnya. Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, melainkan mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya pada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, namun sebagai Muslim,” tegas Brent menutup perbincangan.

Brent memiliki seorang Ibu yang menjadi pengajar Injil, dan menyekolahkan Brent di sebuah sekolah Injil. “Aku mengetahui isi kitab suciku. Dan karenanya, aku banyak bertanya tentang agamaku,” kata Brent.

Brent tahu, nabi-nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir menyampaikan ajaran yang sama, yakni tauhid. “Pun Yesus. Dalam Injil dijelaskan bahwa ia menyerukan tauhid. Dan itu bertentangan dengan konsep Trinitas yang diajarkan gereja,” ujarnya.

Siang itu, saat membaca terjemahan Alquran di perpustakaan kampus, Brent dikejutkan oleh sebuah ayat yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. “Ayat itu seolah menjawab keraguanku tentang Trinitas,” katanya.

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu).  (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisa’: 171)

Brent mencuri Alquran itu dari perpustakaan, dan mulai berinteraksi dengan Alquran. Keterkejutan terbesar muncul saat ia membaca ayat-ayat tentang Yesus. “Alquran memuat cerita tentang kelahirannya yang menakjubkan, tentang ibunya yang mulia, juga keajaiban yang tidak diceritakan dalam Injil, ketika dari buaian ia membela kehormatan ibunya.”

Penemuan hari itu membawa Brent pada sebuah misi pembuktian. “Aku bertekad menemukan pernyataan Injil yang akan mampu menjawab pernyataan Alquran. Dan Brent menemukannya. Sayang, jawaban itu sama sekali tak mendukung doktrin agamanya, dan justru membenarkan Alquran.

Dalam Injil Yohanes 3:16 misalnya, tulis Brent dalam artikel “My Passion for Jesus Christ” (muslimmatters.org), disebutkan tentang anak Tuhan dan kehidupan abadi bagi siapapun yang mempercayainya. “Jika kita terus membaca, kita akan bertemu Matius 5:9 atau Lukas 6:35 yang menjelaskan bahwa sebutan ‘anak Tuhan’ tidak hanya untuk Yesus,” katanya.

Brent menambahkan, baik dalam teks Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama, Injil menggunakan istilah “anak Tuhan” untuk menyebut orang yang saleh. “Dalam Islam, kita menyebutnya muttaqun (orang-orang yang bertakwa),” jelas Isa.

Dalam pencarian yang semakin dalam, Brent menemukan bahwa ayat terbaik yang dapat membuktikan doktrin trinitas telah dihapuskan dari Injil. “Ayat itu dulu dikenal sebagai Yohanes 5:7, dan kini secara universal diyakini sebagai sebuah ayat sisipan yang penah secara sengaja ditambahkan oleh gereja,” terang Isa yang kemudian menguraikan hasil penelitian seorang profesor peneliti Injil asal Dallas, Daniel B. Wallace, tentang ayat tersebut.

Dari The New Encyclopedia Britannica yang dibacanya, Brent menemukan pula bahwa tidak satupun doktrin dalam Perjanjian Baru, termasuk kata Trinitas ataupun perkataan Yesus sekalipun, bertentangan dengan pengakuan Yahudi tentang ketauhidan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama (Injil Ulangan 6:4).

Brent berkesimpulan, bukan Yesus ataupun para pengikutnya yang mengajarkan Trinitas. “Dan mereka yang mengajarkan Trinitas menambahkan keyakinan yang dibuat-buat ke dalam Injil?” ia bertanya, sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul di otaknya.

Setelah mencapai kesimpulan yang sulit diterimanya itu, ia menemukan sebuah peringatan dalam Injil Perjanjian Lama. “… jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)

“Ayat itu senada dengan pernyataan Alquran,” tandas Brent. “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

Pertanyaan dalam otak Brent belum tuntas. Ia kembali bertanya-tanya, “Jika Injil dan Alquran sama-sama memastikan Yesus bukanlah seorang anak Tuhan, lalu siapa dia?”

Lagi-lagi, Brent menemukan banyak kesepakatan antara Injil dan Alquran. Melalui ayat masing-masing, kedua kitab yang diselaminya itu menegaskan kenabian Yesus. “Yesus diutus untuk menyeru umatnya pada keesaan Tuhan, sebagaimana dilakukan para nabi dan rasul sebelumnya.”

4. Mantan Pendeta Hindu yang Mendapat Hidayah

Kembali ke kamar kontrakannya usai shalat Isya, Abdur Rahman (42), duduk dengan pena dan kepala penuh ide.

Dia tengah menulis kisah hidupnya, “Pandit Bane Musalmaan” (Pendeta Hindu yang Menjadi Muslim) dalam bahasa ibunya, Hindi.

Warga negara India ini bekerja sebagai penjaga toko di Perusahaan Konstruksi Saudi Binladin BTAT, pada Proyek King Abdul Aziz Endowment, seberang Masjidil Haram, Makkah.

Sebelum datang ke Jeddah (12 Mei 2002) dan memeluk Islam, Abdur Rahman dikenal sebagai Sushil Kumar Sharma.

Kampung halamannya di Amadalpur, sebuah desa kecil di Haryana, negara bagian India sebelah utara. Ia lahir dalam keluarga Hindu ortodoks dengan keistimewaan memimpin ritual keagamaan di kuil desa.

Saat tinggal di tempat penampungan perusahaan di Jeddah, seorang kawan memberinya beberapa buku Islam dalam bahasa Hindi. Ia kemudian dipindahkan ke Riyadh untuk bekerja pada sebuah proyek di kampus perempuan Universitas Putri Noura.

“Di tempat penampungan itulah saya bertemu sejumlah Muslim dari India dan Pakistan yang menjelaskan tentang agama Islam kepada saya,” tutur Sharma.

Salah satu di antara mereka adalah sahabat karib Sharma. Namanya Salim, berasal dari Rajasthan—sebuah negara bagian di barat laut India. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar. Saat-saat senggang, Salim menceritakan kisah-kisah nabi dalam Islam dan membacakan hadis Rasulullah SAW.

“Hati saya bergetar. Dan saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah aku akan masuk neraka selamanya karena dosa-dosaku? Saya takut dengan azab kubur bagi orang-orang berdosa dan kafir,” ungkap Sharma.

Ia pun mulai menghabiskan malam tanpa dapat memejamkan mata. Ia merasa sudah waktunya untuk memeluk Islam dan menjadi seorang pengikut Nabi Muhammad yang setia. Akhirnya, pencarian panjang Sharma akan kebenaran menemui ujungnya.

“Keesokan harinya, saya mengungkapkan niat untuk memeluk Islam kepada Salim dan rekan-rekan lain di penampungan. Ada sorak kegirangan di tempat kerja kami. Semua orang bahagia, mereka mengucapkan selamat dan memelukku,” kenang Sharma.

“Bagi saya, Islam itu adalah sistem persaudaraan universal yang tidak mengenal kasta, perbedaan, warna kulit, atau ras. Inilah yang membuat saya tertarik pada Islam,” ujarnya.

Esok harinya, digelar pertemuan dengan para anggota Kantor Koperasi untuk Panggilan dan Bimbingan di Al-Batha, Riyadh. Imam masjid di penampungan menuntun Sharma mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Saya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sepenuh hati, menerima Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Imam masjid juga menyarankan saya untuk mengganti nama menjadi Abdur Rahman. Saya pun menerimanya,” kenang Sharma.

Setelah itu, Sharma alias Abdur Rahman dipindahkan ke Bahra, sebuah kota yang terletak di dekat jalan raya Makkah-Jeddah. Mandor proyek juga senang mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Sang mandor pun bersikap baik padanya dan kerap mengulurkan bantuan.

“Namun, saya ingin dekat dengan Tuhan,” kata Rahman. “Saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya ke Makkah. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Saya pun dipindahkan ke tempat kerja yang dekat dengan Masjidil Haram.”

Pulang kampung dan berdakwah

Kini, Abdur Rahman memiliki tugas besar; menyampaikan pesan-pesan Islam kepada anggota keluarganya. Ia memiliki seorang istri dan dua putra; tujuh tahun dan 16 enam belas tahun.

Ia pun telah memberitahu keluarganya via telepon, bahwa dirinya telah memeluk Islam dan menjadi seorang Muslim. Awalnya, mereka tidak percaya. Istrinya mengatakan akan menentukan sikap setelah Rahman pulang kampung saat libur nanti.

“Tiap hari saya berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar membimbing keluarga saya ke jalan yang lurus, dan melembutkan hati mereka untuk menerima Islam,” kata Rahman dengan air mata berlinang.

Rahman juga sadar—sebagai bekas pendeta yang dihormati—akan menghadapi banyak tentangan dari saudara, teman dan kerabat satu desanya. Namun, ia bertekad menghadapi mereka dengan dakwah dan hikmah. “Saya yakin Allah akan membantu saya,” ujarnya.

Abdur Rahman juga berpesan kepada semua orang, “Saya ingin menyampaikan pesan ke seluruh non-Muslim di dunia untuk menerima Islam, agar mereka selamat di dunia dan akhirat.”

“Dan kepada seluruh umat Muslim, agar mengikuti dan melaksanakan ajaran Islam seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Saya mohon, berhenti meniru orang lain!”

5. Andre Willey: Temukan Islam di Bilik Penjara

Andre Willey: Temukan Islam di Bilik Penjara (Bag 2)

Di masa lalu, pemuda berandalan itu kerap terlibat aksi kekerasan antargeng. Tuhan rupanya memberikan kesempatan kedua baginya, setelah ia ditangkap alam satu bentrokan berdarah antar geng yang menewaskan satu orang dan lainnya luka-luka.

Di penjara tahun 1989, Andre akhirnya bebas setelah menjalani masa hukuman selama 23 tahun. Usianya kini 42 tahun. Namun, ada yang berbeda dengan perangainya saat ini.
Sikapnya begitu santun dan hangat. Mimik wajahnya menampakan wajah simpatik. Ya, dia telah memeluk Islam selama menjalani masa hukuman.

Tren memeluk Islam tengah menjangkiti penjara California, Amerika Serikat (AS). Andre merupakan satu dari sekian tahanan California, sebagian besar Afrika-Amerika, yang memeluk Islam.

Yang membanggakan, Andre — kini bernama Yusuf Willey — menjadi contoh dari keberhasilan dakwah Islam di penjara California.

Tidak lagi mejadi rahasia publik bahwa penjara California merupakan penjara di AS yang memiliki catatan buruk dalam rehabilitasi para tahanan. Sekitar 65 persen dari mantan tahanan California kembali ke hotel prodeo dalam waktu tiga tahun.

Tapi Andre menjadi pengecualian. Selama satu dekade terakhir, Andre merupakan tokoh kunci dari dakwah Islam di Penjara California.

“Saya memiliki motivasi yang luas, mengikuti terapi, konseling dan diskusi antar tahanan yang tidak pernah dijalankan dengan baik oleh negara. Para tahananlah yang menjalankan dan membuat terapi,” kata dia.

Dua pekan setelah bebas, Andre, tak berhenti untuk melanjutkan apa yang ia lakukan di penjara. Ia dalami Alquran, dan memberikan pengajara kepada muslim di masjid Bay Area.

Pemimpin Yayasan Tayba, kelompok pendidikan agama Islam di Bay Area, Syaikh Rami Nsour mengatakan Andre memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Islam begitu baik. Ia sudah layak untuk memimpin jamaah.

Perubahan drastis Andre, dimulai setelah bertengkar dengan sesama penghuni penjara pada tahun 1993. Saat itulah, ia ditempatkan dalam sebuah sel khusus, dengan tingkat pengamanan yang lebih ketat. Ia sendirian di sana. Di sel itulah, ia menemukan sebuah buku tentang Islam.

“Aku berkenalan dengan Islam di sel itu,” kenang dia.

Dalam buku itu, Andre menemukan ilmu Ihsan yang berarti kebajikan, niat atau melakukan hal yang baik. “Ini tentang bagaimana anda mengenal hati anda yang sakit oleh virus iri hati, arogansi, dan kebencian. Ilmu ihsan menuntun saya untuk membersihkan diri dari viru-virus tersebut,” katanya.

Andre pun mulai berkomitmen untuk melakukan perubahan besar. Sebuah komitmen yang terucap saat bibir dan hatinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tak perlu lama bagi Andre untuk menjaga komitmen yang ia buat. Ia shalat lima kali sehari, puasa ketika hari libur tertentu dan tradisi lain dalam Islam.

Saat ia mulai mempelajari Islam, ia dengarkan ceramah yang direkan dari Syekh Hamza Yusuf, pendiri Zaytuna Institue, perguruan tinggi agama Islam di Berkeley. Ia pun menulis surat kepada Syekh tentang apa yang dialaminya, namun tidak mendapat respon. Bertahun-tahun kemudian, ia menulis surat tentang bagaimana aturan fikih, kode moral dan etika beribadah dalam kehidupan penjara.

“Itu menarik perhatiannya,” kata Andre. “Saat itulah, mereka mulai mengirimkan saya buklet kecil.”

Tak hanya dari Syekh, pendidikan Islam juga diperoleh Andre dalam komunikasi bersama  Nsour lewat surat dan telepon. “Saya melihat dia sangat, sangat termotivasi,” kata Nsour.

“Apa pun teks-teks saya dikirim kepadanya, ia akan mengajukan pertanyaan spesifik. Saya pun berkewajiban untuk menjelaskannya,” kenang Nsour.

Serasa memiliki pemahaman yang baik tentang Islam, giliran Andre menyebarkannya kepada sesama tahanan. “Setiap orang mungkin tidak percaya bahwa ada niatan tulus dari para tahanan untuk berubah. Mereka melihat harapan. Dan saya mencoba menghidupan harapan itu,” kata Andre.

Bebas setelah dua dasawarsa mendekam di penjara, membuat Andre begitu bahagia. Kebahagian itu seolah menjadi magnet bagi para tahanan yang berada di dekatnya. Mereka yang mengenal Andre, merasakan kenyamanan yang begitu langka dalam kehidupan dalam penjara.

“Pertobatan adalah pemimpin perubahan,” kata Andre. “Saya harus bertobat dan istighfar. Setiap orang yang pernah saya sakiti dan khianati, saya kunjungi, dan saya meminta maaf kepada mereka,” kata dia.

Andre sendiri telah meminta maaf kepada keluarga korban, dan mengatakan ia tidak menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Orang tua Andre, Sampson dan Betty Willey, sempat patah arang dengan nasib yang dialami anak lelaki mereka. Mereka membesarkan Andre dengan tradisi Kristen. Ketika mereka tahu, Andre telah menjadi muslim, mereka butuh waktu untuk menerima kenyataan itu.

“Sebagai jamaah gereja, saya bahagia Andre menemukan persepektifnya sendiri. Saya bisa tolerir itu. Saya tetap mencintainya seperti sebelumnya,” kata Sampson.

Sampson mengungkap berulang kali, ia dan istrinya berusaha keras untuk membuatnya sadar. Tetapi ia tetap terjebak dalam kekerasan antar geng di Los Angeles. “Saat itu, ia berada dalam dua dunia, bersama kami ia hidup dalam dunia gereja. Di luar kami, ia punya dunia sendiri,” katanya. Agung Sasongko

Kini, Andre berniat untuk pindah dari tempatnya dibesarkan. Ia ingin terus mendalami pengetahuan tentang Islam.

6. Joseph Cohen, Yahudi Fanatik yang Memeluk Islam

Joseph Cohen, Yahudi Fanatik yang Memeluk Islam

Namanya Joseph Cohen, seorang Yahudi fanatik warga Amerika Serikat. Pada 2008 silam, demi kecintaan pada Yudaisme, ia pindah ke Israel.

Namun tiga tahun kemudian, ia masuk Islam dan berganti nama menjadi Yusuf Muhammad Khatab. Dan sejak itu pula, ia menjadi pendukung setia Hamas. Sebuah gerakan perlawanan Islam yang menentang penjajahan Israel terhadap Palestina.

Kini, Josep alias Yusuf tak ingin lagi mengucap kata Israel. Ia bahkan menyebut tanah yang diduduki Israel sebagai wilayah Palestina.

Hidayah Allah didapat Yusuf ketika ia tinggal di Kota Netivot, sebuah kawasan gurun di Israel. Saat ia berbincang dengan seorang syekh dari Uni Emirat Arab (UAE) via internet. “Saya menghabiskan waktu berjam-jam dengan Syekh, berdiskusi tentang teologi,” tuturnya ketika diwawancarai Israel TV beberapa waktu lalu.

Setelah itu, ia pun mencoba membaca Alquran, kitab suci umat Islam. Lambat-laun, pandangan Yusuf tentang Yudaisme mulai berubah. Dalam penilaiannya, Yudaisme setali tiga uang dengan rasisme.

Saat itu juga, Yusuf mengatakan pada istrinya, Luna, kalau dia ingin pindah agama, memeluk Islam. Sebagaimana dirinya, Luna juga merupakan seorang Yahudi fanatik. “Dengar sayang,” kata Yusuf. “Aku sangat mencintaimu, namun aku harus jujur padamu…”

“Aku membaca Alquran, dan sangat setuju dengan apa yang termuat di dalamnya. Dan jika harus mengatakan bahwa aku seorang Yahudi religius, maka aku adalah pembohong,” tegasnya pada sang istri.

Rupanya Luna tidak kaget dengan kata-kata suaminya. Bahkan, ia pun mendukung keputusan Yusuf dengan masuk Islam bareng-bareng, sekalian dengan anak-anak mereka.

Keluarga ini pun pindah dari Netivot ke lingkungan Arab di Yerusalem Timur. Anak-anak mereka tak lagi belajar Taurat. Padahal di sekolah, mereka termasuk murid-murid menonjol dalam pelajaran tersebut. “Kini, anak-anak belajar Alquran,” kata Yusuf.

Yusuf juga sangat mendukung Hamas. Dan ia percaya, bahwa negara Islam harus didirikan di mana Israel dan Palestina kini berada.

Kini, Yusuf tak ingin lagi dikaitkan dengan masa lalu Yahudi-nya. Ia menegaskan dirinya 100 persen Muslim. “Berbahagialah Engkau, Tuhan Allah kami,” ujarnya memarodikan doa Yahudi, tetapi mengakhirinya dengan, “Untuk tidak menjadikanku seorang Yahudi.”

7. Brother Eddie: Gangster yang Menemukan Kedamaian dalam Islam

Brother Eddie: Gangster yang Menemukan Kedamaian dalam Islam

Cobalah ketik laman web  http://www.thedeenshow.com di mesin pencari Anda. Maka, Anda akan menyaksikan video berisi kisah-kisah inspiratif tentang orang-orang yang menemukan Islam dan perjuangan mereka untuk tetap menjadi seorang Muslim.

The Deen Show adalah sebuah perusahaan Muslim yang berusaha untuk memberikan infomasi tentang Islam secara benar dan komprehensif dengan berdasarkan sumber otentik, Alquran dan Sunah. Informasi itu tidak hanya ditujukan pada umat Muslim saja, tetapi juga non-Muslim.

Perusahaan tersebut menyatakan diri tidak berafiliasi dengan organisasi manapun dan mereka mengutuk keras terorisme serta segala tindakan fanatik atas nama Islam. The Deen Show mulai tayang pada tahun 2006.

Orang yang berada di balik munculnya tayangan tersebut adalah Brother Eddie. Nama aslinya adalah Eddie Redzovic. Dia lahir di New York dari orangtua yang merupakan imigran asal Yugoslavia,  tetapi sebagian besar hidupnya lebih banyak dihabiskan di Chicago.

***

Sebelum, mendapatkan cahaya terang dari agama Islam, dunia bawah tanah Chicago adalah teman akrab bagi Eddie.  Pada umur yang belum genap 30 tahun, dia sudah berhasil menikmati apapun yang diimpikan pemuda Amerika, mulai dari uang, mobil, sampai wanita.

Meskipun telah mencapai apa yang diimpikannya, jiwa Eddie masih saja tidak tenang. Pada masa-masa kelamnya, dia menjadikan jalanan dan klub malam sebagai tempatnya mencari ketenangan. Dia menghabiskan masa mudanya di dunia yang penuh dengan kekerasan. Teman-temannya berasal dari gank-gank yang berkuasa di jalanan.

Hingga akhirnya, Eddie menyadari bahwa selama ini dia sendiri. Tidak ada yang benar-benar menjadi teman-temannya. Suatu hari,  ketika dia berada di dalam penjara, Eddie menyadari bahwa teman-teman satu gank-nya itu tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan hidupnya.

Hidup di penjara membuatnya sadar. Namun ketika dia sudah mulai memeluk Islam, perang belum juga usai. Dia masih harus meyakinkan dirinya tentang agama yang baru dipeluknya itu. Saat ini, Eddie merasa sudah memeluk Islam secara utuh. Dia sudah mengerti tentang konsep Islam itu sendiri.

Islam menurutnya adalah bahasa Arab yang artinya “Menyerahkan Diri” pada Sang Pencipta Bumi dan Surga. Setiap manusia di dunia ini menyerahkan hidupnya untuk sesuatu hal, mulai dari bosnya, uang, wanita, fashion, dan berbagai macam gaya hidup. Menurut dia,  Islam sebenarnya adalah tempat yang tepat untuk benar-benar menyerahkan diri.

Islam merupakan panggilan untuk menyerah pada Pemilik dari segala yang ada di bumi dan langit. “Sebelum saya memeluk Islam, saya tidak melakukan itu,” ujar Eddie dalam sebuah wawancara dengan saudilife.net.  Dia menyadari bahwa hidupnya sebelum memeluk Islam adalah hidup yang menyenangkan, tapi kosong, tanpa adanya kedamaian dan ketenangan.

Lalu kemudian Islam memberikannya harapan dan tujuan hidup yang baru. “Saya langsung shalat setelah saya mengetahui kebenaran tentang Islam,” ujarnya. Utuk mencapai ilmu tentang shalat dan seluk beluk Islam, dia mengaku harus belajar terus-menerus dan banyak membanding-bandingkan.

Meskipun dia memiliki keluarga yang sudah memeluk Islam lebih dulu. Akan tetapi dia melihat mereka hanya memeluk Islam sebagai sebuah budaya saja, tanpa mengerti sepenuhnya tentang Islam itu sendiri.

Saat ini, selain menjadi presenter The Deen Show, Eddie juga mengelola sekolah beladiri. Dia mengajarkan Jiujitsu dari Brazil. Terutama Jiujitsu yang dikembangkan oleh Royce Gracie. “Saya membuktikan sendiri bahwa Jiujitsu adalah bela diri yang paling efektif,” kata Eddie.

Selama lebih dari satu dekade yang lalu, Royce Gracie, masuk ke arena yang disebut Octagon untuk bertarung dengan seni bela diri yang lain. Royce berhasil mengalahkan mereka semua. Peristiwa ini, menurut Eddie, mengingatkannya pada Islam, Alquran, dan cara hidup sebagai Muslim.

Ketika masuk dalam arena perdebatan, Islam dengan segala bukti yang ada, mampu mengalahkan yang lain. Kemunafikan serta kekafiran semua menghilang sehingga menyisakan kebenaran sejati, itulah Islam.

Film yang berjudul From Dunyan to Deenadalah sebuah kisah inspirasional yang menceritakan tentang perjalanan hidup Eddie Redzovic alias Brother Eddie.

Berbentuk dokumenter, film tersebut mengupas bagaimana masa lalu sang master Jiujitsu itu menghadapi hidup, hingga akhirnya dia menemukan dan memeluk Islam.

Cerita tentang teman-temannya yang memberikan pengaruh buruk, cara hidup yang bermasalah, hingga akhirnya penjara membawanya pada cahaya Islam. Rasa sepi di penjara menyadarkan dirinya tentang tujuan hidup yang sebenarnya.

‘’Film ini memang bertujuan untuk mencerahkan pikiran dan memperbaiki jalan hidup seseorang,” kata Eddie. Film ini mampu menunjukan apakah sebenarnya tujuan hidup itu. Pesta, uang, mobil, atau wanita bukanlah tujuan hidup yang mampu memberikan kedamaian.

Eddie berharap ketika menonton film tentang dirinya itu, para penonton mampu merefleksikan hidupnya sendiri dan mulai mempertanyakan tentang tujuan hidupnya. Apakah yang selama ini dia jalani itu sudah pada jalur yang benar. Islam kemudian hadir sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Islam sudah terbukti secara rasional maupun logika sebagai jalan hidup yang terbaik.

Setelah menyelesaikan filmnya, Eddie tidak akan berhenti berjuang. Hidup ini, baginya seperti sebuah perusahaan, di dalamnya terdapat seorang pimpinan baik hati yang memberikan sederet pekerjaan yang harus dilakukan. Sehingga sang anak buah dengan senang hati akan bekerja dengan baik setiap saat, dan pada akhirnya mendapatkan bonus. Lalu anak buah itupun pasti akan bercerita tentang pemimpin yang baik hati itu.

Bayangan itu, menurut Eddie sama dengan Islam. Pemimpin dari semua pemimpin itu adalah Allah, dan tugas untuk para umatnya pun sudah ditentukan, bahkan tugas itu jauh lebih berharga dari kekayaan apapun. Lalu ketika bayangan itu coba diimpelementasikan maka, setiap saat seorang Muslim akan berusaha untuk menyenangkan Allah dengan melakukan apa yang sudah diperintahkan.

Dengan beribadah, menurut Eddie,  seorang Muslim akan terhindar dari hal-hal yang hanya membuang-buang waktu saja. Apalagi dengan kesadaran penuh bahwa maut bisa menjemput kapan saja dan hari kiamat bisa datang esok hari. Oleh karena itulah Eddie akan terus berusaha untuk berdakwah dan mencoba mengajak orang lain menuju jalan kebaikan, yaitu Islam.

4 Komentar

4 thoughts on “MUALAF

  1. Menarik utk disimak “mengapa manusia beralih keyakinan awal dan masuk dlm keyakinan yang baru” sebuah keyakinan akan sesuatu yg di sebut agama sejatinya memiliki kekuatan di luar nalar manusia, mukzizat, jikalau seseorang meyakini sesuatu bukan dari hati tetapi dari nalar pikiran semata maka orang tersebut akan mudah sekali dicuci otaknya dan akan dgn mudah sekali diperintah membunuh dgn dalil keyakinan agama, sy banyak belajar dari para mualaf dan murtadin alasan meninggalkan agama aslinya, kebanyakan para mualaf sebelum masuk islam berpikir dgn nalarnya dan menyimpulkan sendiri isi kitab injil kemudian memeluk islam, berbeda dgn para murtadin kebanyakan dari mereka di datangi langsung oleh Yesus/Isa Almasih dlm perjumpaan dlm sebuah mukzizat dan Yesus/Isa menggerakan hati mereka utk mengikutiNya, kesimpulan sy bahwa ajaran Yesus/Isa berasal dari surga yg penuh dgn mukzizat, sedangkab ajaran Muhamad berasal dari manusia yg penuh dgn logika berpikir.

    Suka

    • Nabi Muhammad tidaklah memiliki ajaran, beliau seorang buta huruf, tidak bisa membaca apalagi menulis. Ia hanya meneruskan wahyu yang ia terima dari Allah SWT untuk disampaikan ke umat manusia. Pilihan umat manusia ada dua, silahkan menerima atau menolak. Ini adalah sebuah hidayah. Lakum dinukum wa liyadin artinya bagi kamu silahkan laksanakan agama yang kamu anut, bagi kami akan melaksanakan ajaran agama kami.Jadi tak ada masalah bukan?

      Suka

      • * BANYAK MUALAF AWALNYA HANYA KARENA SUNGGUH-SUNGGUH INGIN MENCARI DAN MENTAATI AJARAN ORISINIL NABI ISA A.S, MENDALAMI SEJARAH GEREJA dan/atau MENGKRITISI BIBEL/INJIL/AL KITAB PERJANJIAN BARU
        * biarkanlah… tunggu aja kedatangan kembali Nabi Isa A.S menjelang kiamat, apakah beliau akan ikut kebaktian sambil membawa salib berteriak haleluya haleluya heleluya ber xxx yang dipimpin oleh Paulus dari Tarsus dkk dgn segala macam ajaran, doktrin dan dogmanya ; ataukah beliau akan menghakimi, mengadili dan menjadi saksi atas kebenaran ajaran MONOTHEISME murni dgn menghancurkan segala berhala dan atributnya yang dimurkai, terkutuk, terlaknat, sesat dan menyesatkan serta ikut mendirikan shalat bersama para nabi dan rasul sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad beserta para malaikat Allah… gitu aja kok rewel dan ribet banget to mas…
        * Sesungguhnya ajaran yg diturunkan kpd para Nabi dan Rasul pada hakikatnya adalah sama/satu, tidak layak apabila ada yang menyimpangkannya. Kebenaran hanya datang dari sisi Allah.
        * Dengan lapang dada, hati yg mulia dan tenang, akal pikiran yg sehat dan jernih, tanpa emosi, tanpa dogmatis, tanpa prasangka buruk dgn penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab mari kita memilih dan menentukan jalan keselamatan hidup di dunia dan akhirat menuju kembali kepada Allah

        Hanya ada 3 (tiga) jalan keselamatan kristiani:
        1. Koreksi total, progresif dan revolusioner terhadap semua ajaran/doktrin/dogma Paulus dari Tarsus dkk melalui KONSILI BARU setingkat konsili Nicea (325 M) a.l. mengangkat Yesus sebagai tuhan dan konsili Konstantinopel (381 M) a.l. lahirnya trinitas serta konsili-konsili lainnya (hal ini amat sulit sekali dan memerlukan keberanian sangat luar biasa pihak otoritas gereja dan umatnya);
        2. Kembali menjalankan ajaran Nabi Isa / Yesus secara murni dan konsekuen sebagaimana yang diwahyukan Allah kepadanya dalam Injil asli berbahasa Ibrani / Aramic ketika beliau hidup (1-33 M) dan diangkat sebagai utusan-Nya (+ – 29 M) (kalau risalahnya masih ada), tanpa campur tangan / karangan manusia, sekalipun itu murid pertama beliau
        3. Menjadi Muslim sebagai satu-satunya jalan kebenaran sejati-hakiki pengikut setia Nabi Isa / Yesus dan jaminan keselamatan dunia dan akhirat. Seluruh risalah kenabian sudah ditutup, tiada lagi nabi dan rasul, tiada lagi kitab suci; kita hidup di akhir zaman sampai kiamat dan Islam adalah yang terakhir. Setiap detik umur kita berkurang, setiap detik kita mendekati kematian dan meninggalkan dunia fana ini. Hati-hati, jangan salah jalan supaya tidak menyesal…

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s