TIPS ORTU


1. Agar Anak Tak Bisa Buka Situs Porno
Senin, 2 November 2009, 16:00 WIB
Muhammad Firman

Teknologi untuk anak (dok. Corbis)

VIVAnews – Internet adalah ibarat toko serba ada. Segala macam informasi ada di dalamnya. Mulai dari informasi berharga seperti ilmu pengetahuan, teknologi, data pribadi, bahkan sampai konten pornografi. Semua tersaji lengkap.

Saat ini internet juga sudah semakin terjangkau. Baik lewat kabel atau saluran nirkabel, pengguna di rumah atau di manapun ia berada, tetap bisa mengakses berbagai macam hal di dunia maya.

Yang jadi masalah, tentu Anda tidak ingin anak Anda yang baru belajar komputer dan mengenal internet terjerumus masuk ke situs-situs yang berbahaya bukan? Situs pornografi, obat-obatan terlarang, atau situs yang tidak layak lainnya, sebisa mungkin ingin Anda sembunyikan dari hadapan sang buah hati.

Bagi pengguna browser Internet Explorer 8 yang tersedia secara otomatis pada sistem operasi terbaru Microsoft, yakni Windows 7, Anda bisa membuat situs-situs tersebut otomatis diblokir. Berikut langkah-langkahnya.

• Di menu Internet Explorer, klik Tools, lalu Internet Options

• Pada jendela Internet Options, klik tab Content

• Pada bagian Content Advisor, klik Enable

• Jendela berikutnya akan muncul, silakan berikan aturan-aturan sesuai kebutuhan. Misalnya melarang samasekali situs-situs yang mengandung Nudity, Sexual material, dan lain-alin.

• Geser slider ke ujung kiri untuk memblokir samasekali, dan di ujung kanan untuk sama sekali tidak memblokir.

• Masukkan alamat situs-situs yang Anda perkenankan untuk dibuka oleh anak-anak Anda di tab Approved Sites, di kolom Allow this website.

• Setelah selesai, klik Apply dan berikan password jika suatu saat anak Anda perlu membuka situs-situs yang belum Anda setujui.

Setting blokir situs di Internet Explorer (IE) 8

Langkah di atas merupakan salah satu cara paling sederhana untuk menutup akses ke situs-situs yang masuk ke kategori ‘berbahaya’. Meski tidak bisa menjamin 100 persen aman, tetapi minimal saat menjelajah dengan browser Internet Explorer, situs-situs tersebut tidak bisa dibuka, kecuali anak Anda memasukkan password-nya.

2. Ciptakan Waktu Berkualitas Untuk Buah Hati
Jangan sampai buah hati Anda merasa kurang perhatian dari Anda.
Rabu, 28 Oktober 2009, 17:46 WIB
Irina Damayanti, Mutia Nugraheni
anak kecil dan pengasuh (www.punchstock.com)

VIVAnews – Pekerjaan sering menyita waktu Anda dan suami. Bahkan, ada beberapa pekerjaan yang menuntut waktu Anda meskipun hari libur. Tetapi, jangan sampai hal itu mempengaruhi kedekatan Anda dengan anak.

Untuk menghindarinya adalah dengan menyediakan dan menciptakan waktu yang berkualitas untuk dihabiskan bersama anak. Sebelum tidur Anda dan anak bisa bercerita panjang lebar tentang segala hal.

“Hubungan yang renggang antara orang tua dan anak akan berdampak negatif pada perkembangan psikologis anak. Jadi usahakan untuk benar-benar menyediakan waktu yang berkualitas untuk anak,” kata Ratih Ibrahim, psikolog anak, saat ditemui dalam konfrensi pers taman bermain Miniapolis, di Plaza Indonesia, Jakarta 28 Oktober 2009.

Ratih menambahkan agar orangtua bisa mengajak main anak saat memiliki waktu luang. Unsur kegembiraan saat bermainlah yang menciptakan kedekatan. Siasati juga waktu yang sempit dengan mendengarkan ceritaa anak secara seksama.

“Jangan sampai saat anak bercerita, orangtua masih sibuk dengan pekerjaan, ponsel, atau laptopnya. Keadaan demikian membuat anak merasa diabaikan dan nantinya ia tidak lagi bercerita kepada orangtuanya,” tambah Ratih.

Waktu yang berkualitas bagi anak bukan hanya menyediakan diri secara fisik tetapi juga pikiran Anda. Jangan sampai saat sedang bersama anak, Anda malah sibuk memikirkan pekerjaan. Sepintar apapun Anda menutupinya, pasti anak akan merasakannya.

Jadi, saat sedang bersama anak cobalah fokus untuk tidak memikirkan hal lain, kalau perlu matikan ponsel Anda. Hal tersebut meskipun kedengaran sepele, tetapi masih banyak orangtua yang sulit melakukannya.

3. Wahana Baru Penuh Tantangan untuk Anak
Taman bermain baru ini dirancang khusus agar orang tua juga bisa ikut bermain bersama anak
Rabu, 28 Oktober 2009, 16:01 WIB
Petti Lubis, Mutia Nugraheni
(Corbis)

VIVAnews – Anda pasti ingin buah hati selalu riang gembira. Cara yang paling tepat untuk membuatnya gembira adalah dengan mengajaknya bermain bersama. Anda bisa membuat permainan sendiri dengan barang-barang yang ada di rumah atau mengajaknya ke taman bermain.

Salah satu taman bermain yang memungkinkan Anda dan buah hati untuk bermain bersama adalah Miniapolis di Plaza Indonesia, Jakarta. Taman bermain dalam ruangan yang terdiri dari enam wahana ini, bisa membuat Anda dan buah hati menghabiskan waktu bersama dengan bermain.

Beberapa wahana dibuat agar Anda bisa menemani dan bermain bersama buah hati. “Permainan dan wahana yang terdapat di Miniapolis memang sengaja dibuat agar anak dan orang tua bisa bermain bersama. Jadi, anak tidak hanya menghabiskan waktu dengan bermain sendiri,” kata Amelia Aryanti, Marketing Communication Executive Miniapolis dalam konfrensi pers, 28

Oktober 2009.

Salah satu wahana yang cukup unik adalah Digiwall, yaitu permainan panjat tebing. Panjat tebing tersebut dirancang khusus dengan beragam permainan komputer yang menarik dan bisa dilakukan seluruh anggota keluarga. Permainan Digiwall ini melatih fisik dan sensorik anak untuk bergerak lebih aktif.

Selain itu, ada juga Doodles yang bisa merangsang kreatifitas anak. Kegiatan dalam Doodles cukup beragam, antara lain melukis, mengarang, dan kerajinan tangan. Lalu ada juga kegiatan setiap minggunya seperti memasak, merakit robot, modelling dan performance art.

Wahana lainnya yaitu Mr. Crick Express yaitu kereta api yang mengitari area Miniapolis, Carlo Carousel yaitu komidi putar, Noa’s Park yaitu taman bermain untuk anak 6 tahun ke bawah bertema transportasi dan Hide Out yaitu taman bermain berkonsep rumah pohon untuk anak usia 6 tahun ke atas.

4. Inilah Dampak Poligami pada Anak

Apa yang perjadi jika poligami dilakukan tanpa menghiraukan pendapat anak?
Rabu, 28 Oktober 2009, 07:02 WIB
Petti Lubis, Mutia Nugraheni
(dok. Corbis)

VIVAnews – Poligami saat ini tampaknya makin banyak dilakukan. Banyak pihak yang menentang tetapi banyak juga yang mendukung poligami karena dianggap tidak bertentangan dengan agama. Jika poligami dilakukan tanpa menghiraukan pendapat anak dan hal ini berdampak negatif pada proses tumbuh kembangnya.

“Pada dasarnya semua anak mengharapkan memiliki keluarga yang ideal yang terdiri dari satu ayah dan satu ibu. Anak ingin selalu disayangi dan mendapatkan perhatian secara penuh. Saat ayah melakukan poligami maka rasa cemburu, marah, sedih kecewa tentu tidak bisa dihindari,” kata Seto Mulyadi, psikolog anak, saat dihubungi VIVAnews melalui telepon pada 27 oktober 2009.

Menurut pria yang akrab dipanggil kak Seto ini, perasaan marah, kecewa dan cemburu tersebut, bisa menumpuk dan akan menggangu emosi anak. Tidak hanya berdampak pada psikologisnya tetapi juga pada fisik dan prestasi akademiknya. Keceriaan anak pun akan berkurang bahkan menghilang akibat tumpukan emosi tersebut.

“Tumpukan emosi bisa membuat anak berubah seratus delapan puluh derajat dari yang ceria menjadi pemarah, menutup diri, sulit diatur, dan  membangkang. Pikiran anak yang dipenuhi emosi ini bisa menghambat tumbuh kembang anak baik secara psikis, fisik dan bisa menghambat prestasinya di sekolah” jelas Kak Seto.

Menurut pengalaman Kak Seto, anak-anak yang ayahnya berpoligami cenderung tidak menerimanya dan melakukan reaksi penolakan. Hal ini juga berdampak pada hubungan anak dan ayah menjadi lebih renggang.

“Jika memang sang ayah melakukan poligami, cobalah berbesar hati meminta maaf pada anak. Karena, poligami pasti melukai anak dan bisa membuatnya berpikir negatif dan apatis terhadap lembaga pernikahan kelak. Menjelaskan dengan kesabaran dan meminta maaf adalah salah satu acara untuk meminimalisir dampak negatif poligami bagi anak,” kata Kak Seto.

Selain dampak negatif, jika dilihat dari sisi positif, poligami bisa mengajarkan beberapa hal. “Anak akan menjadi belajar lebih tegar dalam menghadapi sebuah persoalan, ia juga bisa memiliki toleransi yang lebih tinggi dan jika diberikan pengertian dengan baik pikirannya bisa lebih menerima hal-hal yang dianggap sulit untuk diterima banyak orang,” tandas Kak Seto.

5. Agar Anak Terhindar dari Pelecehan Seksual
Ini caranya untuk mencegah buah hati mengalami pelecehan seksual.
Selasa, 27 Oktober 2009, 15:33 WIB
Petti Lubis, Mutia Nugraheni
(dok. Corbis)

VIVAnews – Kasus pelecehan seksual pada anak seringkali terjadi. Bahkan bisa dikatakan jumlahnya makin meningkat. Dampak negatifnya tidak hanya secara fisik tetapi juga psikologis.

Pelecehan seksual pada anak bisa menimbulkan efek trauma selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Anda tentu tidak ingin hal tersebut terjadi pada buah hati. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar buah hati terhindar dari pelecehan.

1. Tidak ada rahasia

Ajarkan si kecil untuk selalu terbuka dalam menyampaikan perasaannya. Buat dia selalu bercerita perasaannya baik saat senang, sedih, takut dan gembira. Hal ini membuatnya tidak akan merahasiakan hal sekecil apapun dari Anda, termasuk perlakuan yang diterimanya dari orang sekelilingnya. Dengan begitu Anda tahu siapa saja yang ia temui dan dekat dengannya.

2. Jangan memakaikan aksesori yang terdapat namanya

Hindari memakaikan aksesori yang terdapat nama buah hati saat ia bermain di taman atau tempat bermain, dan Anda tidak memperhatikannya dengan seksama. Bisa saja ada orang yang menghampiri dan menyebutkan namanya, kemudian berkata bahwa ia sedang dicari Anda. Buah hati pun bisa langsung menurutinya karena merasa orang asing tersebut tahu namanya.

3. Ajarkan fungsi dan nama dari tiap organ tubuhnya

Ajarkan sedini mungkin fungsi dan nama dari setiap organ tubuhnya termasuk organ vitalnya. Tidak masalah jika ia menyebut vagina, penis atau payudara, karena memang itulah namanya.

Hindari menggunakan istilah untuk menyebut organ vitalnya, hal itu malah bisa membuatnya bingung. Katakan pada buah hati organ intim yang mereka miliki harus dijaga baik-baik dan tidak boleh dipegang sembarang orang dan jika ada yang memegangnya ajarkan pada si kecil untuk berteriak dan lari sekencang-kencangnya.

4. Kondisikan situasi

Jika buah hati sudah cukup umur dan bisa mengerti buatlah cerita dengan awalan pertanyaan “bagaimana jika”. Misalnya, “bagaiman jika ada orang dewasa yang kamu tidak kenal memberikan permen”. Jika jawaban si kecil menerima permen dan akan bermain bersamanya segera katakan padanya bahwa hal itu berbahaya.

Buatlah buah hati mengerti bahwa situasi tersebut membahayakannya, dengan menyebutkan kemungkinan yang ada seperti bisa saja ia diculik atau disakiti dengan orang asing tersebut.

6. Awas, Efek Negatif Video Pada Bayi
Video diperuntukkan untuk bayi, ternyata punya efek buruk yang tersembunyi.
Selasa, 27 Oktober 2009, 13:29 WIB
Petti Lubis, Mutia Nugraheni
Anak nonton TV (abcnews.com)

VIVAnews – Saat ini banyak sekali video yang diperuntukkan untuk bayi dijual bebas di pasaran. Video-video tersebut berisi gambar-gambar lucu yang sangat disukai bayi. Jika dilihat isi dari video tersebut sangat bagus tetapi jika diteliti lebih dalam ternyata juga memiliki dampak buruk.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh  American Academy of Pediatrics, anak yang masih berusia dibawah 2 tahun, harus dijauhkan dari televisi. Hal itu karena beberapa penelitian menunjukkan menonton televisi pada usia dini bisa memicu gangguan perhatian atau konsentrasi pada anak.

Saat anak diberikan tontonan video yang berisi gambar-gambar lucu memang bisa membuatnya lebih tenang. Tetapi ada dampak negatif di kemudian hari yang akan muncul pada anak, yaitu ia akan sulit diatur dan berkonsentrasi.

Meletakkan boks bayi juga sebaiknya jangan berdekatan dengan televisi. Hal itu untuk menghindari paparan sinar televisi yang bisa berdampak negatif pada penglihatan bayi yang masih sensitif.

Dengan fakta tersebut, bukan berarti sebagai orang tua Anda menjauhkan buah hati dari televisi. Tetapi batasi paparan televisi pada anak Anda karena efek negatifnya yang baru akan dirasakan pada kemudian hari. Usahakan saat buah hati menginjak 2 tahun, Anda baru memperkenalkan video-video edukasi.

Sebelum buah hati menginjak usia 2 tahun Anda bisa memberikannya permainan lain yang jauh lebih bermanfaat dan tidak memiliki dampak negatif. Seperti memainkan jari, bercerita menggunakan buku kain, atau menggunakan benda-benda lain disekitar yang aman bagi buah hati.

7. “Saya (Tidak) Dapat Mendengar”
Inilah pengalaman mengharukan tentang seorang ibu yang memperjuangkan keajaiban.
Sabtu, 24 Oktober 2009, 07:12 WIB
Petti Lubis, Mutia Nugraheni
I Can (Not) Hear (Agromedia)

VIVAnews – Hal itu bermula saat ia mengetahui bahwa anaknya, Gwendolyne, tidak merespon suara di sekitarnya. Serangkaian tes dilakukan untuk memperoleh hasil yang sebenarnya. Terbukti, Gwen—sapaan akrabnya—mengalami gangguan pendengaran yang cukup berat.

Hasil pemeriksaan yang mengejutkan, tentu membuat SanSan dan John—suaminya—merasa keheranan. Bagaimana mungkin Gwen bisa menderita gangguan pendengaran, padahal tidak satu pun keluarga besar mereka yang pernah mengalaminya.

Bermacam pertanyaan pun muncul di benak dan pikiran SanSan dan John. Hingga akhirnya, jawaban dari seluruh pertanyaan itu mereka dapatkan. Gangguan pendengaran Gwen disebabkan oleh virus CMV (cytomegalovirus) yang dulunya—tanpa sadar—pernah menjangkiti SanSan.

Meski terkadang merasa sedih dan sesak jika melihat putri semata wayangnya memiliki kekurangan, namun SanSan dan John tidak pernah putus asa untuk terus mencari cara menyembuhkan Gwen. Dan, usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Cochlear implant adalah jawabannya.

Gwen memang bukan anak pertama yang mencoba teknologi baru yang satu ini. Cukup banyak juga anak-anak yang sudah mencobanya, dan hasil yang didapat, sukses. Mereka mampu mendengar kembali layaknya mereka yang memiliki pendengaran normal.

Tahapan demi tahapan harus dilalui keluarga kecil ini. Bahkan tidak jarang, SanSan merasa seolah tidak sanggup untuk melewati semua ini. Namun, di saat ia mengalami hal itu, selalu saja ada sesuatu yang membuatnya bangkit kembali.

Sungguh, perjuangan ekstrakeras, pengorbanan, dukungan, dan doa tidak henti-hentinya mengalir. Hingga akhirnya, cerita bahagia di akhir penantian itu terbayar juga.

Dengan penuh rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama, SanSan menuangkan kisah nyatanya ini dalam sebuah buku bertajuk I Can (not) Hear yang diterbitkan oleh GagasMedia.

Buku yang ia tulis bersama Feby Indirani ini sayang untuk dilewatkan. Perjuangan seorang ibu yang begitu besar begitu kental dalam buku setebal 354 halaman ini. Kisahnya begitu menyentuh hati siapa pun yang membacanya. Mengingatkan kita akan satu hal, bahwa keajaiban tidak serta-merta akan hadir setiap saat. Jika hal itu tak kunjung datang kepada kita, maka tugas kitalah untuk mencari sendiri dan memperjuangkannya.

Judul         : I Can (not) Hear

Penulis     : Feby Indirani & San c. Wirakusuma

Harga         : Rp 43.500

8. Amankah Facebook untuk Anak?
Rambu-rambu apa yang dipegang orang tua jika si kecil ingin menjadi anggota facebook?
Rabu, 21 Oktober 2009, 08:34 WIB
Petti Lubis
Online bersama anak (techherald.com)

VIVAnews – Apakah Anda melarang buah hati untuk punya akun facebook, karena takut berefek negatif pada perkembangannya? Jika ya, sebaiknya ubah pemikiran Anda. Masalahnya, menurut psikolog Maria Susanti, anak usia bangku TK dan SD sebaiknya jangan dilarang ‘bermain’ facebook.

“Anak-anak, terutama yang sudah duduk di bangku SD, justru bisa mencari tahu sendiri mendaftarkan diri menjadi anggota facebook. Masalahnya, jika ia tahu ajang bersosialiasi ini dilarang ibunya, bisa jadi ia membuat akun facebook dengan nama palsu. Akibatnya, Anda malah tidak bisa mengawasinya,” ujar Maria menambahkan.

Facebook memang ajang bersosialisasi di dunia maya yang fun. Anda saja mungkin menikmati fitur-fitur yang ditawarkan situs yang digagas Marc Zuckerberg ini. Tapi, sebenarnya salah satu ketentuan men jadi anggota facebook adalah harus berusia di atas 13 tahun. Namun, tidak sedikit anak-anak yang punya akun facebook. Apakah salah?

“Sebetulnya, buah hati Anda boleh punya akun facebook. Asalkan Anda harus bisa mengawasinya dengan cerdas, tanpa si kecil merasa dimatai-matai,” kata Maria.

Rambu-rambu apa yang dipegang orang tua jika anak ingin menjadi anggota facebook?

– Saat mengajarkan si kecil untuk mendaftarkan diri menjadi anggota facebook, usahakan untuk mengetahui password-nya. Jikapun tidak, pastikan Anda menjadi teman pertamanya di facebook.

– Cek isi facebook si kecil untuk mengetahui aktivitasnya secara rutin. Biasanya anak suka mengisi kuis dan bermain game. Bila kuis atau games yang dimainkannya belum layak dia mainkan, sebaiknya berikan penjelasan secara sederhana.

– Beri penjelasan juga padanya agar tidak menyetujui semua orang yang ingin berteman dengannya. Minta dia untuk menerima teman sekolah atau kursusnya. Jika ada orang dewasa yang tidak ia kenal ingin menjadi temannya, minta dia untuk menanyakan hal itu terlebih dahulu pada Anda.

– Hati-hati mengisi status Anda. Anda mesti ingat si kecil bisa membaca status Anda.

– Solusi yang terbaik adalah menemani si kecil saat membuka akun facebook-nya. Minta dia untuk membuka facebook di komputer yang diletakkan di ruang keluarga, sehingga Anda tetap bisa mengawasinya.

Gangguan Jiwa juga Ancam si Kecil
By Republika Newsroom
Kamis, 10 Desember 2009 pukul 15:36:00

Gangguan Jiwa juga Ancam si Kecil

JAKARTA–Penyakit kejiwaan sangat sulit di deteksi melalui penampilan fisik, kecuali jika penyakit tersebut sudah parah. Selain itu stigma bahwa hanya orang dewasa yang bisa terkena gangguan jiwa atau atau Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa (ODMK)sepenuhnya salah.

Demikian dinyatakan Kepala Seksi Penanggulangan Masalah Kesehatan Sudin Kesehatan Jakarta Selatan, Dewi R Anggraini, kepada Republika, dalam pelatihan Forum Komunikasi Kesehatan Jiwa Kota Administrasi Jakarta Selatan, Kamis (10/12).

Kegiatan itu diikuti lintas sektoral, yaitu Sudin Kesehatan, Sudin Pendidikan Dasar (Dikdas) dan Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti), Olahraga, Sudin Nakertrans, Politik, serta PKK dari sepuluh kecamatan di Jaksel.

Menurut Dewi, dalam kegiatan ini, penyuluh menyosialisasikan konsep pendidikan pola asuh anak pada lima tahun pertama. Karena menurutnya, jika pola asuh kepada anak di lima tahun pertama kurang baik maka ke depannya akan terjadi gangguan kejiwaan.

“Gangguan kejiwaan bukan hanya seperti orang yang seperti kita bayangkan. Jika anak tidak mau belajar atau masih mengompol sampai usia lima tahun, itu juga merupakan gangguan kejiwaan,” paparnya.

Hal itu yang melatari dilakukannya kegiatan yang melibatkan lintas sektor. Agar setiap sektor mampu mendeteksi dini gangguan pada anak.

Dewi berharap, setiap sektor membuat program-program yang menyangkut dengan kesehatan jiwa. Misalnya dalam Dikdas dan Dikmenti, guru BP di sekolah dapat mengawasi kenakalan remaja yang sering terjadi.

Dia menuturkan, guru dapat mendeteksi gangguan kejiwaan yang berupa kenakalan remaja, sehingga dapat ditangani dengan baik. ”Anak yang tidak mau belajar juga sudah mengalami gangguan tetapi belum sampai sakit,”tuturnya

Kegiatan itu juga dapat memberikan rangsangan ke semua unit, karena menurut Dewi belum tentu seseorang sadar akan gangguan kejiwaan disekitarnya. ”Obsesi saya, ibu-ibu kader RW nantinya bisa mendeteksi gangguan kejiwaan dari perilaku anak, sehingga dapat ditangani dengan cepat dan tidak berkelanjutan,” pungkasnya. c12/rin

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s